Vector vs Pixels dalam Desain Digital

Vector dalam pelajaran Fisika adalah suatu objek yang memiliki nilai dan arah, misalnya gaya yang direpresentasikan dengan simbol F atau kecepatan yang direpresentasikan dengan simbol V.

No, no. Jangan khawatir. Blog ini tidak berbicara tentang ilmu Fisika, tetapi tentang grafis dalam desain digital. Ada dua jenis grafis yang dikembangkan dalam perancangan digital: Vector dan Pixel. Gambar atau grafis yang memiliki basis Pixel biasanya berupa foto atau gambar dengan ekstensi (.jpg), (.jpeg), (.png), (.gif), dan sejenisnya. Sementara itu gambar atau grafis berbasis Vector biasanya disimpan dalam berntuk file ‘mentah’ dalam software yang digunakan untuk membuatnya.

Ketika suatu grafis atau desain digital diproduksi dalam ‘dunia nyata’, misalnya diprint ke atas kertas, dicetak dalam bentuk banner, disablon ke atas kaos atau canvas, dicetak dan potong dalam cutting stiker, atau ditransfter ke permukaan gelas, maka grafis yang masih berbentuk Vector akan menghasilkan kualitas terbaik. Grafis berbentuk Vector bisa diperbesar atau diperkecil ke ukuran yang beragam tanpa pengurangi kualitasnya.

Sementara itu, grafis berbentuk Pixel ketika diperbesar berkali-kali lipat dari ukuran awalnya akan berkurang ‘ketajaman’nya dan menjadi grafis yang buram. Itulah mengapa ketika kita memutar film di layar lebar seperti bioskop, kita membutuhkan film dengan ‘High Definition’ atau ‘High Resolution’. Jika tidak, kita hanya akan menonton film yang buram.

Percetakan, tukang sablon, tukang stempel, dan sebagainya memerlukan gambar berbasis vector. Mesin CNC tertentu hanya bisa beroperasi dengan grafis Vector. Ketika kita memasukan gambar Pixel untuk diproduksi dengan mesin CNC (misalnya untuk mengukir kayu), maka tidak akan ada gambar yang muncul. Kayu yang seharusnya diukir akan tetap sama seperti sebelumnya.

Sebaliknya, ketika suatu grafis atau desain digital dipublikasi dalam ‘dunia maya’, maka ia harus dalam berntuk Pixel. Dunia maya hanya menerima gambar jadi dengan ekstensi .jpg dan sebagainya agar bisa dibuka oleh ‘browser’ manapun di seluruh dunia tanpa perlu software atau aplikasi khusus.

Grafis berbentuk Vector, tentu saja, dapat dengan mudah diubah menjadi gambar berbentuk Pixel. Sementara untuk mengubah grafis berbentuk Pixel menjadi Vector membutuhkan sedikit effort tambahan. Sangat penting bagi desainer digital untuk memahami software-software pembuat Vector dan mengerjakan desainnya dari bentuk Vector, terutama apabila desain tersebut akan difabrikasi dalam berbagai media di ‘dunia nyata’.

One Reply to “Vector vs Pixels dalam Desain Digital”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *