Material M004 – Mengenal Ecobricks

Salah satu sumber sampah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah sampah plastik. Dikutip dari kompas.com, Novrizal Tahar, Direktur Pengelolan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa ada peningkatan komposisi sampah plastik sebesar 4% sepanjang 2002 hingga 2016. Sementara di Jakarta sendiri, Isnawa Adji, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menyatakan bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan per hari dapat mencapai 1.900 – 2.400 ton atau 27% – 34% dari total 7000 ton sampah yang dihasilkan. Hal ini membuat DKI Jakarta menempati posisi kedua dalam peringkat penghasil sampah plastik terbesar di Indonesia.

Padahal, plastik termasuk sampah anorganik yang membutuhkan waktu yang lama untuk terurai. Selain itu, plastik juga terurai menjadi senyawa kimia berbahaya yang dapat terserap dalam tanah, air dan udara, dan akhirnya terserap juga oleh makhluk hidup. Karena itu, meskipun sampah plastik telah dikumpulkan dalam suatu tempat penampungan khusus, manusia tetap sulit untuk terhindar dari bahaya akibat terurainya sampah plastik.

Lalu, bagaimanakah cara memanfaatkan sampah plastik untuk menghindari hal tersebut?

Ecobricks, dari Sampah Menjadi Material Bangunan

Andreas Froesse, seorang arsitek Jerman dan founder dari ECO-TEC, yang tengah berada di Honduras pada tahun 2000 menyadari bahwa sebuah taman di Honduras dapat menghasilkan ribuan sampah botol plastik setiap minggunya. Froesse pun mengembangkan teknik membangun dengan menggunakan botol plastik bekas yang diisi dengan pasir dan pada tahun 2001, ia berhasil membangun sebuah rumah botol plastik pertama menggunakan 8000 botol bekas yang diisi pasir dan campuran tanah sebagai pelapisnya.

Pada tahun 2004, Susanna Heisse, seorang aktivis lingkungan hidup yang berada di Guatemala, menyaksikan hal yang sama dilakukan oleh penduduk lokal Guatemala. Penduduk lokal tersebut memasukkan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas dan memadatkannya dengan menggunakan ranting pohon. Botol plastik berisi sampah tersebutlah yang menjadi ‘batu bata’ untuk membangun rumahnya.

Meskipun penduduk lokal Guatemala ini melakukan hal tersebut karena tidak mampu membangun rumah konvensional, Heisse merasa teknik tersebut berpotensi untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik. Sejak saat itu, gerakan Ecobricks pun bermunculan di berbagai tempat di dunia, seperti di Filipina bagian utara pada tahun 2010 oleh Russell Maier and Irene Bakisan dan di Greyton, Afrika Selatan, oleh Joseph Stodgel pada tahun 2012.

Lalu, bagaimana cara membuat Ecobricks?

Ecobricks dibuat dengan menggunakan botol plastik kosong bekas (botol yang direkomendasikan adalah botol bervolume 1500 ml) yang diisi dengan sampah plastik ataupun material lain yang berbahaya dan tidak dapat terurai (styrofoam, kabel) yang dipadatkan menggunakan tongkat atau ranting pohon hingga mencapai berat 500 gram (untuk botol 600 ml, berat standarnya adalah 200 gr). Bahan yang dipadatkan ke dalam Ecobricks sebaiknya sudah dicuci dan dikeringkan untuk menghindari pertumbuhan bakteri.

Ecobricks dalam Konstruksi Bangunan

Botol plastik, sebelum menjadi sebuah Ecobricks, memiliki sifat mudah berubah bentuk jika diberi tekanan tertentu (misalnya diremas, atau dibenturkan dengan benda lain). Meskipun begitu, ternyata Ecobricks dapat benar-benar digunakan sebagai material dinding bangunan.

Husk Bottle School adalah sebuah sekolah di pinggir Siem Reap, Kamboja, yang dibangun dengan menggunakan 100,000 botol plastik. Sekolah ini memiliki 3 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, dan sebuah toilet. Pembangunannya menggunakan konstruksi kayu tradisional sebagai rangka bangunan. Rangka ini diisi oleh Ecobrick yang ditumpuk dan dilapisi kawat di kedua sisinya untuk menahan tumpukan Ecobricks. Setelah itu, dinding Ecobricks dilapisi dengan semen dan di cat sehingga terlihat seperti bangunan konvensional.

Beberapa teknik konstruksi menggunakan Ecobrick adalah sebagai berikut :

  1. Milstein Modules (Horizontal Lego)

Teknik ini menggunakan 12 Ecobricks yang disusun dan direkatkan dengan menggunakan sealant silikon hingga menjadi sebuah modul yang dapat disatukan secara horizontal. Modul tersebut kemudian dapat digunakan untuk membuat panggung, meja, dan yang digunakan dalam ruangan.

  1. Dielemen Modules (Vertical Lego)

Teknik ini mirip dengan Milstein Modules, menggunakan 16 Ecobricks yang disusun dan direkatkan dengan menggunakan silicon. Namun, modul yang dihasilkan dapat disatukan secara vertikal sehingga dapat digunakan untuk membuat kolom, menara, dan dinding.

  1. Earth Bottle Building

Ecobricks disatukan dengan menggunakan semen yang terbuat dari lempung, pasir, dan jerami. Teknik ini merupakan teknik membangun dengan Ecobricks yang paling ramah lingkungan dan dapat menghasilkan dinding yang cukup kuat.

  1. Ecoblocks

Ecoblocks adalah teknik yang dikembangkan oleh Ian Domisse, seorang arsitek asal Johannesburg, Afrika Selatan. Domisse membuat modul Ecobricks yang disatukan dengan papan plywood.

 

  1. Pura Vida Atitlan Construction Method

Adalah teknik konstruksi yang dikembangkan di Guatemala dan digunakan dalam pembangunan Husk Bottle School di Kamboja. Teknik ini telah dites dan direkomendasikan oleh Designers Without Borders, NorskForm (Norwegian Centre for Design and Architecture), dan INDIS (Instituto de Investigación en Diseño de la Universidad Rafael Landívar).

Ecobricks, Sebuah Material Alternatif?

Ecobricks diklaim sebagai sebuah material yang dapat digunakan kembali di masa depan selama tidak mengalami penguraian. Sebuah studi menunjukkan bahwa Ecobricks dapat menjadi material pengganti EPS (Expanded Polysterene) yang biasanya digunakan sebagai pengisi beton precast karena memiliki massa jenis dan modulus elastisitas yang serupa. Lebih lanjut, studi tersebut juga mengatakan bahwa Ecobricks memiliki potensi untuk digunakan dalam bangunan sebagai material non-struktural seperti atap, dinding partisi interior dan langit-langit (Antico, et al. 2017).

Sifat Ecobricks juga sangat ditentukan dari material pengisinya, karena masing-masing plastik bisa jadi memiliki massa jenis, massa, maupun tingkat kesulitan untuk dipadatkan yang berbeda yang dapat mempengaruhi konstruksi Ecobricks. Studi yang sama menganjurkan agar Ecobricks dibuat dengan bahan pengisi yang sama dan dilakukan oleh orang yang telah dilatih agar variasi kekuatan Ecobricks dapat diminimalisir (Antico, et al. 2017).

Kekurangannya, Ecobricks memiliki resiko foto-degradasi jika terpapar dengan sinar UV. Karena itu, Ecobricks yang digunakan di luar ruangan harus dilapisi dengan semen atau bahan pelapis dinding lainnya (menggunakan metode Earth Bottle Buildings atau Pura Vida Atitlan Construction Method). Selain itu, belum ada studi yang menyatakan bahwa Ecobricks aman untuk digunakan dalam pembangunan rumah konvensional atau bangunan komersial lainnya (Antico, et al. 2017).

Saat ini, penggunaan Ecobricks masih terbatas pada proyek komunitas yang bersifat sosial di daerah-daerah yang belum memiliki sistem pengolahan sampah plastik yang baik.  Namun, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang Ecobricks dapat menjadi sebuah material alternatif yang dapat digunakan secara luas. Dengan demikian, material bangunan akan lebih ramah lingkungan sekaligus menjadi solusi dari masalah sampah plastik.

Daftar Pustaka :

Kompas.com “Jumlah Sampah Plastik Terus Meningkat” oleh Nabilla Tashandra.

Kompas.com “Jakarta Produksi 1.900-2.400 Ton Sampah Plastik Per Hari” oleh Rindi Nuris Velarosdela.

ecobricks.org

teknomadics.com “From Trash to Homes”

zlcomms.co.uk “This is Not a Leaf : The Story of Plastic Bottle Schools”

wikipedia.org

zlcomms.co.uk “This is Not a Leaf : The Story of Plastic Bottle Schools”

Antico, Federico & Wiener, Julia & Araya-Letelier, Gerardo & Gonzalez, Raul. (2017). Eco-bricks: A sustainable substitute for construction materials. Revista de la construcción. 16. 518. 10.7764/RDLC.16.3.518

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *