Menelusuri Perjalanan Rotan

Dalam memilih furnitur yang akan digunakan di luar ruangan, kita perlu memperhitungkan ketahanan material furnitur tersebut terhadap cuaca. Dalam pencarian tersebut, sangat mungkin untuk menemukan furnitur dengan material rotan sebagai salah satu pilihannya. Rotan memang bukan material yang asing dalam industri furnitur. Material ini, selain tahan terhadap cuaca, juga terkenal tahan lama dan ramah lingkungan.

Furnitur rotan biasanya terdiri dari rangka furnitur yang menentukan bentuk dari furnitur tersebut dan pengisi rangka yang terbentuk dari berbagai jenis jalinan rotan yang lebih tipis. Furnitur rotan juga dapat dipoles sehingga memunculkan warna aslinya yang kuning kecoklatan ataupun dicat dan memberikan tampilan yang lebih modern.

Namun, sebelum menjadi furnitur, ternyata rotan mengalami proses yang cukup panjang. Untuk memahaminya, mari kita menelusuri perjalanan rotan sejak masih ‘mentah’ hingga dapat diolah dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

Rotan bukan Kayu?

Rotan bukanlah nama spesies tumbuhan, melainkan nama dari sekitar 600 tumbuhan pemanjat yang berada dalam sub famili Calamoideae. Diameternya 2 – 5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan memiliki duri yang panjang, keras dan tajam sebagai alat pelindung dari herbivora. Subfamili ini banyak tumbuh di daerah tropis seperti Afrika, Asia dan Australia. Indonesia sendiri diklaim sebagai penghasil rotan terbesar yang mencapai 70% dari produksi rotan di seluruh dunia. Beberapa spesiesnya yang digunakan secara komersial di Indonesia adalah Calamus manan Miq (rotan manau) dan Calamus caesious Bl. (rotan sega).

Meskipun memiliki warna yang mirip dengan kayu dan dapat ditemukan di hutan tropis, rotan bukanlah termasuk kayu-kayuan. Karena itu, rotan dianggap sebagai material alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, rotan juga merupakan tumbuhan yang masa pertumbuhannya cepat dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi ekologi. Menggunakan rotan adalah salah satu cara untuk mengurangi penebangan hutan dalam produksi material.

Memanen Rotan

Awal dari perjalanan rotan adalah panen. Rotan yang dapat dipanen hanyalah rotan yang sudah dewasa. Cara panennya adalah dengan dipotong langsung di hutan dan kemudian dibawa ke tempat pengolahan dengan cara mengikat hasil panen menjadi beberapa bundel (tergantung banyaknya hasil panen). Rotan dewasa memiliki ciri-ciri berwarna kecoklatan, memiliki bunga atau buah, duri dan daunnya mulai mengering, dan panjang dahannya sudah mencapai 20 – 25 cm. Memanen rotan yang masih muda dapat merusak pertumbuhan rotan selanjutnya. Karena itu, untuk menghindari tunas yang masih muda, disarankan untuk memotong rotan 15 cm dari atas tanah.

Panjang potongan rotan tergantung pada jenis spesies dan kebutuhan rotan. Rotan dengan diameter besar (di atas 20 mm) dapat dipotong per 4 meter, sedangkan rotan dengan diameter kecil dapat dipotong hingga per 10 meter. Disarankan untuk memotong 3 meter dari ujung rotan karena biasanya bagian tersebut tidak memiliki kualitas yang baik (Ngo-Samnick, 2012).

Dari beberapa sumber disebutkan bahwa mengelompokkan rotan berdasarkan diameter, spesies, dan kondisi rotan saat dipanen sebaiknya dilakukan. Grade rotan ditentukan dari kondisi rotan dan dapat berpengaruh pada harga jual rotan. Namun, rotan yang tidak memiliki grade tinggi dapat digrade ulang setelah permukaannya dibersihkan dengan mesin amplas (Wahab et al, 2000).

Mengolah Rotan Mentah

Rotan yang baru dipanen sebaiknya langsung diolah karena rotan rentan terhadap jamur dan serangga. Jamur dan serangga dapat mempengaruhi kualitas, kegunaan, dan harga bilah rotan. Pengolahan rotan berlangsung dalam beberapa tahap seperti pada diagram berikut ini:

Treatment inti dalam pengolahan rotan adalah treatment dengan minyak panas dan pengasapan dengan menggunakan sulfur. Treatment dengan minyak panas dilakukan untuk 1) menghilangkan jamur dan serangga, 2) menghilangkan lapisan lilin atau resin yang masih menempel, 3) mempercepat proses pengeringan, dan 4) meningkatkan kekuatan rotan. Sementara treatment menggunakan sulfur dilakukan untuk mengawetkan rotan dan memberikan warna yang seragam pada rotan yang diberi pengasapan (Wahab et al, 2000).

Rotan yang sudah melalui proses tersebut dapat disimpan dalam waktu maksimal 6 bulan atau langsung diolah oleh pengrajin. Rotan dengan diameter besar dapat digunakan sebagai rangka furnitur, sedangkan rotan dengan diameter kecil dapat dibentuk menjadi bilah-bilah yang akan dijalin sebagai pengisi rangka pada furnitur.

 

Demikianlah perjalanan rotan sejak masih di hutan hingga bisa dirangkai menjadi furnitur yang menarik. Indonesia, sebagai negara penghasil rotan mentah terbesar di dunia tentu saja memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan industri ini. Semoga pengetahuan ini bisa menambah ketertarikan peminat furnitur dan pekerja kreatif untuk berkreasi dengan rotan.

 

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Rotan

http://www.itto.int/files/itto_project_db_input/2400/Technical/Rattan_Ind%20Species1_annx1.pdf

Ngo-Samnick, E. L. (2012). Production and Processing of Rattan.

Wahab, Razak & Mustafa, Mohd & Omar, Arshad. (2000). RATTAN OIL CURING, BLEACHING AND PRESERVATION CONTENTS TRANSFER OF TECHNOLOGY MODELS (TOTEMs) 3 RATTAN OIL CURING, BLEACHING AND PRESERVATION AT-A-GLANCE 5 PART ONE: INTRODUCTION.

One Reply to “Menelusuri Perjalanan Rotan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *