Material M007 – Cork, si Material Ramah Lingkungan

Dibandingkan material yang pernah dibahas sebelumnya, cork sebagai material bangunan mungkin masih cukup asing. Apalagi cork, atau gabus, lebih familiar sebagai bahan bulletin board atau wine stopper. Memang, 70% produksi cork di dunia digunakan untuk memproduksi wine stopper dan hanya 22% yang digunakan untuk memproduksi bahan bangunan. Padahal material ini adalah material yang sangat ramah lingkungan, dari proses panennya, produksinya, hingga penggunaannya.

Darimana Cork Berasal?

Cork berasal dari kulit pohon cork oak (Querans suber L./pohon Ek) yang tumbuh di hutan di negara-negara Mediterania Selatan. Hutan-hutan ini disebut montados. Dengan 67% montados berada di Eropa, terutama Portugal dan Spanyol, Eropa praktis merupakan penghasil cork terbesar di dunia, yaitu mencapai 85% dari seluruh produksi dunia.

Material cork berasal dari kulit pohon oak yang di’kupas’ kulitnya pada bulan Mei sampai Agustus. Kulit pohon oak dapat dipanen setelah umurnya mencapai 25 tahun dan lingkar pohonnya mencapai 60 cm. Pada panen pertama, cork yang dihasilkan biasanya memiliki kualitas rendah (virgin cork) dan dapat digunakan untuk bahan lantai, sepatu, dan insulasi. Pohon oak yang sama dapat dipanen lagi setelah 9 – 13 tahun. Panen kedua dan berikutnya yang kualitasnya lebih baik (gentle cork) pada panen berikutnya digunakan sebagai wine stopper.

Cork sebagai bulletin board

Material Ramah Lingkungan

Cork yang sudah dipanen melalui beberapa proses sampai dapat dioleh menjadi bahan lainnya. Pertama-tama cork yang sudah dipanen dicabik-cabik hingga ukurannya kecil, lalu dimampatkan pada temperatur tinggi hingga cork mengembang. Pada saat yang sama, getah cork meleleh dan merekatkan cork. Setelah dingin, cork dapat dipotong sesuai dengan kebutuhan.

Proses produksi ini merupakan proses yang sangat ramah lingkungan karena tidak ada hasil panen yang terbuang dan prosesnya tidak membutuhkan material tambahan apapun. Gil (2014) mengungkapkan bahwa penggunaan cork dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari pekerjaan konstruksi secara signifikan. Cork yang sudah tidak digunakan dapat digunakan untuk memproduksi energi karena memiliki nilai kalor yang tinggi.

World Wildlife Fund (WWF), organisasi konservasi lingkungan dunia, menyatakan bahwa memanen kulit pohon cork oak tidak merusak lingkungan selama pohon yang dipanen tidak ditebang. Kulit pohon yang dipanen akan kembali tumbuh dan keberadaan pohon juga berarti menjaga kehidupan ekosistem di dalam montados.

Karakter Cork dan Kegunaannya pada Bangunan

Sebagai material alami, cork memiliki sifat kedap, ringan, memiliki sel yang elastis, memiliki daya hantar panas, suara, dan getaran yang rendah, tahan api, tidak licin dan hypoallergenic. Karena karakteristik inilah cork menjadi material yang ideal untuk insulasi panas (kulkas), insulasi suara (ruang teater, ruang rekaman), dan insulasi getaran (mesin).

Secara spesifik dalam bangunan, sebenarnya penggunaan campuran cork dalam material bangunan sudah dilakukan sejak abad ke-19. Pada masa itu, Frederick Walton, seorang penemu dari Inggris, menciptakan linoleum. Material penutup lantai yang terbuat dari campuran minyak biji rami (linseed oil) yang teroksidasi dan cork sisa produksi wine stopper yang digiling halus.

Pada umumnya, cork yang digunakan sebagai material untuk lantai, dinding, drop ceiling dan insulasi berbentuk komposit. Pertama-tama, cork yang berasal dari sisa industri wine stopper, cork berkualitas rendah, dan virgin cork (hasil panen pertama), dibuat menjadi serpihan. Setelah itu, serpihan cork disortir berdasarkan massa jenis dan ukurannya. Lalu dimasukkan ke dalam mesin pengaduk untuk dicampur dengan material perekat seperti melaminic, urethane, atau phenolic resins. Setelah itu, campuran cork dimasukkan ke dalam cetakan untuk dipanaskan pada suhu 120” selama 4 – 22 jam.

Campuran cork keluar dari cetakan dalam bentuk balok yang dapat dipotong menjadi lembaran besar, balok kecil, lembaran seukuran keramik lantai. Cork dalam bentuk akhir ini dapat difinish dengan lapisan lilin, dicat, menggunakan varnish, dicetak, maupun dilapisi dengan vinyl.

Penggunaan cork tergantung pada massa jenis material akhirnya. Sebagai contoh, komposit cork yang dapat digunakan di dinding memiliki massa jenis 200-300 gr/m3 sementara untuk lantai massa jenisnya 400 – 500 gr/m3.

Sebuah perusahaan di Belanda menjual produk dengan bahan dasar cork yang dapat digunakan untuk eksterior bangunan. Dalam proses pembuatannya, serpihan cork disatukan dengan resin lalu dicetak dengan ketebalan 3 inci (7.62 cm). Selain dapat berkerja sebagai insulasi suara dan panas, material ini juga memiliki massa jenis yang membuatnya tahan air sehingga cocok untuk digunakan di luar ruangan.

Cork memang sebuah material yang multifungsi. Kegunaannya melingkupi pekerjaan besar seperti konstruksi bangunan, hingga yang kecil seperti DIY project sederhana. Dengan mengetahui sifat-sifat material ini dan kesadaran yang semakin tinggi terhadap penggunaan material ramah lingkungan, bukan tidak mungkin cork akan menjadi sebuah material yang makin populer di masa depan.

 

Sumber :

Gil, Luis. (2014). Cork: a strategic material. Frontiers in Chemistry. 2. 10.3389/fchem.2014.00016.

Gil, Luis. (2009). Cork Composites: A Review. Materials. 2. 10.3390/ma2030776.

https://www.archdaily.com/884983/could-cork-be-natures-answer-to-our-environmental-and-construction-needs

https://www.architectmagazine.com/practice/wine-be-damned-cork-is-for-building_o

https://www.greenbuildingsupply.com/Learning-Center/Flooring-Cork-LC/Cork-101

http://wwf.panda.org/knowledge_hub/endangered_species/cork_oak/

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *