Alat Makan Tembikar. Aman?

Untuk yang suka berkreasi, bereksplorasi dengan material baru pasti sangat menyenangkan sekaligus menantang. Apalagi kalau hasil karya dari eksplorasi tersebut dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, jika ada ide untuk membuat peralatan makan dari material tertentu, selain mencari tahu tentang teknik eksplorasi materialnya, yuk kita juga cari tahu mengenai apakah material tersebut benar-benar aman untuk digunakan dengan makanan.

Food Contact Material

Menurut European Food Safety Authority (EFSA), material yang aman untuk digunakan dengan makanan disebut sebagai food contact material. Material ini termasuk pembungkus, wadah, peralatan dapur, alat makan, alat proses makanan (seperti coffee maker dan blender), dan lain-lain. Alat-alat ini dapat terbuat dari plastik, karet, kertas dan logam.

Food contact material dievaluasi berdasarkan zat kimia yang berpindah dari alat ke makanan. Sebuah material dikatakan tidak berbahaya jika tidak terjadi transfer zat kimia atau transfer tersebut tidak memiliki potensi bahaya terhadap makanan. Misalnya mengubah komposisi zat pada makanan sehingga merubah rasa atau aroma dari makanan.

Alat Makan Tembikar

Salah satu material alat makan yang sedang in saat ini adalah yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Hasil produknya termasuk ke dalam jenis keramik, dan disebut sebagai pottery, atau tembikar. Pottery terbuat dari tanah liat yang dibentuk menggunakan tangan atau alat, lalu dibakar di dalam kiln (oven untuk membakar keramik) dalam suhu 750°Celcius atau lebih, tergantung pada jenis tanah liat yang digunakan. Tanah liat yang diolah menjadi keramik ini memiliki karakter berpori sehingga agar dapat digunakan sebagai wadah makanan maupun minuman, harus diberi lapisan terlebih dahulu sebelum dibakar. Lapisan ini bernama glazing. Glazing bekerja untuk menutup pori-pori keramik dan memberikan permukaan yang halus.

Meskipun tanah liat relatif merupakan material yang tidak berbahaya, glazing yang digunakan untuk melapisi keramik dapat mengkontaminasi makanan dengan timah dan material lainnya. Hal ini dapat terjadi jika:

  1. Glazing yang digunakan tidak bebas-timah. Sekarang ini, sudah banyak tersedia glazing yang aman dan tidak beracun. Jika ingin berkreasi dengan keramik atau membeli keramik, terutama yang diproduksi secara handmade, pastikan bahwa kita bisa mengetahui dengan pasti apakah material yang digunakan memang dapat digunakan untuk kontak dengan makanan atau tidak.
  2. Pembakaran tidak sempurna. Pembakaran tanah liat harus dilakukan pada suhu yang tepat yaitu . Pembakaran di bawah suhu yang dianjurkan tidak dapat membuat timah yang terkandung pada glazing terikat dengan tanah liat. Sehingga saat digunakan, timah dapat terkontaminasi ke makanan. Namun, jika suhu terlalu panas, tembikar justru dapat mengkontaminasi makanan dengan zat berbahaya lainnya seperti lithium, barium, dan lain-lain.
  3. Menggunakan oven lama. Jika sudah menggunakan keramik yang aman, kontaminasi timah dapat timbul dari oven yang digunakan. Kiln yang digunakan menyimpan residu timah dari pembakaran sebelumnya yang dapat mengkontaminasi tembikar baru yang bebas timah.
  4. Jenis makanan. Berdasarkan laporan dari FDA, makanan dan minuman yang bersifat asam seperti jus jeruk dapat lebih cepat melarutkan timah yang terkandung pada tembikar.
  5. Pemanasan menggunakan microwave. Pemanasan berulang-ulang pada produk tembikar dapat menyebabkan keretakan. Keretakan ini berpotensi kontaminasi timah pada makanan.

Meskipun timah merupakan zat yang ditemukan pada tubuh manusia, kontaminasi dalam jumlah banyak dapat menimbulkan isu kesehatan seperti osteoporosis. Hal ini disebabkan oleh struktur timah yang mirip dengan kalsium sehingga dapat diserap oleh tulang. Selain itu keracunan timah juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan anemia. Sementara pada anak-anak, kontaminasi timah berkaitan erat pada terhambatnya pertumbuhan, kesulitan belajar, dan nilai IQ yang rendah.

Tembikar yang Aman

Di Amerika Serikat, produk tembikar yang tidak lolos uji kontaminasi timah harus memiliki tanda dengan tulisan : “NOT FOR FOOD USE – MAY POISON FOOD. FOR DECORATIVE PURPOSE ONLY.”FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat dan Canadian Consumer and Corporate Affairs memiliki regulasi mengenai kontaminasi timah pada makanan dan minuman. Hal ini tentu berlaku pada produk tembikar yang dibuat dalam industri yang besar.

Meskipun begitu, memproduksi tembikar dalam skala rumahan tetap bisa dilakukan. Walaupun lebih berpotensi untuk tidak aman digunakan, tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan glazing yang memiliki label “leadless” atau tidak mengandung timah. Selain itu, gunakanlah pewarna yang tidak bersifat karsinogenik pada proses pewarnaan. Jika kita membuat tembikar sendiri, sebaiknya ruang yang digunakan adalah ruang dengan sirkulasi udara yang baik dan gunakanlah sarung tangan pada proses glazing, baik saat masih basah maupun sudah kering.

 

Nah, setelah mengetahui apa yang harus diperhatikan sebelum mulai bereksplorasi dengan tanah liat, yuk kita mulai berkreasi.

 

Sumber :

Thomas Jefferson University. “Lead contamination found in ceramic cooking and eating utensils from Philadelphia’s Chinatown.” ScienceDaily. ScienceDaily, 28 February 2011 <www.sciencedaily.com/releases/2011/02/110228163137.htm>

“Questions and Answers on Lead-Glazed Traditional Pottery”. November 2010.  https://www.fda.gov/food/foodborneillnesscontaminants/metals/ucm233281.htm

“Food Safety with Ceramics”. https://www.georgies.com/gcc-safety-food.shtml

https://ehs.princeton.edu/health-safety-the-campus-community/art-theater-safety/art-safety/ceramics

https://www.efsa.europa.eu/en/topics/topic/food-contact-materials

 

One Reply to “Alat Makan Tembikar. Aman?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *