Material 010 – Melapis dengan HPL

Tanpa kita sadari, mungkin sebetulnya kita sudah sangat sering bertemu dengan material HPL. Pada permukaan meja kerja, seluruh permukaan rak buku yang ada di rumah, atau mungkin di dinding dan di lantai rumah yang kita kunjungi. Kadang-kadang material ini memiliki motif kayu dan memiliki nuansa warna kecoklatan, tapi ada juga yang hanya memiliki warna tanpa motif tertentu.

HPL merupakan material pelapis serbaguna yang sudah digunakan secara komersial di Amerika Serikat sejak akhir tahun 1940-an. Material ini dapat digunakan sebagai bahan pelapis dinding, lantai, furnitur (meja, rak, dll.), counter tops, hingga fasad bangunan. Dalam artikel ini, kita akan mempelajari lebih jauh mengenai proses pembuatan HPL hingga kenapa material ini digunakan.

Bagaimana HPL dibuat?

Secara garis besar, High Pressure Laminate (HPL) adalah material pelapis yang terbuat dari 3 lapisan kertas yang sudah dicampur dengan resin.

  1. Lapisan 1 – Overlay  paper(15 – 80 g/m²) – lapisan pertama dari HPL ini merupakan kertas transparan, dibleach dan tidak berpigmen.
  2. Lapisan 2 – Decorative paper (50 – 160 g/) – lapisan ini merupakan lapisan yang memiliki nilai estetis dari HPL. Kertas dibleach dan diberi pigmen warna tertentu atau diberi motif (kayu, batu, atau motif lain yang diinginkan) dengan cara dicetak.
  3. Lapisan 3 – Core paper (50 – 160 g/) – biasanya terbuat dari kraftpaper (berwarna cokelat, biasa digunakan sebagai kantong belanja), dapat diperkuat dengan metal (mesh atau lembaran).

Resin yang digunakan dalam pembuatan HPL adalah melamine resin yang dicampurkan pada kertas untuk lapisan kedua dan ketiga. Dan phenolic resin, yang dicapurkan pada kertas untuk lapisan pertama. Melamine resin memiliki sifat transparan, anti gores, dan tidak berubah warna jika terkena matahari, sedangkan phenolic resin memiliki warna kecoklatan dan sifatnya lebih elastis.

Kertas yang menjadi material HPL biasanya berada dalam gulungan besar. Untuk memberikan campuran resin, gulungan kertas ini direndam ke dalam resin lalu dikeringkan. Setelah kering, kertas dapat dipotong sesuai dengan ukuran produksi ataupun disimpan dalam bentuk gulungan.

Proses selanjutnya adalah penyusunan lapisan HPL. Seperti yang sudah disebutkan, penyusunan kertas dimulai dari core paper, ditumpuk dengan decorative paper, dan ditutup dengan overlay paper yang memiliki fungsi untuk memberi lapisan pelindung bagi lapisan kedua yang memiliki motif atau warna. Setelah disusun, kertas berlapis ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk dipress dengan tekanan 5-8 MPa dan suhu minimal 120°C. Suhu yang tinggi akan melelehkan resin, sehingga resin akan mengisi pori-pori lapisan kertas yang menyusun HPL dan memperkuat material. Setelah selesai, HPL pun didinginkan.

HPL yang telah dingin dapat masuk ke dalam proses akhir, yaitu pemotongan (sesuai dengan ukuran produksi) dan pengamplasan. HPL pun dapat dipasarkan dalam bentuk lembaran ataupun direkatkan pada MDF dan membentuk material komposit.

Kelebihan HPL

Akibat proses pembuatan dan material yang digunakan, HPL memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :

  1. Relatif higienis – HPL merupakan material yang tidak berpori. Hal ini menyebabkan zat kontaminan tidak dapat masuk ke dalam material dan tertahan di permukaan material. Jika kotor, HPL juga mudah untuk dibersihkan. Permukaan yang kotor tinggal diberi air lalu dilap dengan menggunakan tisu atau lap yang berbahan lembut. Jika kotoran masih belum hilang, air dapat dicampur dengan cleaning agent yang lembut. Sementara untuk kotoran padat, dapat disingkirkan dulu menggunakan spatula berbahan kayu atau plastik agar tidak menggores permukaan HPL.
  2. Tidak mudah terbakar – HPL dan material laminasi lainnya merupakan material yang sulit terbakar. Dalam sebuah laporan yang dibuat oleh International Committee of the Decorative Laminate Industry (ICDLI), disebutkan bahwa HPL terbakar pada suhu 400°C. Selain itu, jika terkena api, material ini juga tidak melunak maupun meleleh.
  3. Tahan lama – ICDLI juga menyebutkan bahwa HPL yang digunakan di dalam ruangan dapat bertahan hingga 20 tahun. Lebih tahan lama dibandingkan material dekoratif lain seperti cat dan veneerMelamine resin yang menjadi campuran dari lapisan kertas pembentuk HPL juga memiliki sifat lightfast yang menyebabkan HPL tidak berubah warna jika terkena cahaya.

Selain yang sudah disebutkan, produk HPL biasanya memiliki hasil uji anti-bakteri dan anti jamur. Selain itu, HPL juga tahan pada benturan, relatif anti gores, dan tahan terhadap uap panas maupun air panas. Sifat-sifat ini membuat HPL cocok digunakan pada table top dapur pada rumah tinggal, hingga pelapis dinding di rumah sakit.

Sumber :

“An Introduction to Manufacturing and Material Types”. International Committee of the Decorative Laminates Industry. 2015. http://www.icdli.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/TL-150729-Manufacturing-of-HPL.pdf

“Information Data Sheet : Fire behavior of decorative high pressure laminates (HPL)”. International Committee of the Decorative Laminates Industry. 2009. http://www.icdli.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/091104-Fire-behavior-of-decorate-high-pressure-Laminates-205.pdf

“Learn about Laminate : How Laminate was Invented and How it is Made”. 2013. https://retrorenovation.com/2013/06/04/how-laminate-is-made/

https://en.wikipedia.org/wiki/Decorative_laminate#Low-pressure_laminate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *