Gempa Indonesia 2018, menjadi pengingat pentingnya kapabilitas pembangun.

Gempa yang terjadi berulang-ulang di berbagai daerah di Indonesia, seharusnya menjadi tamparan bagi para ahli di bidang perencanaan, pelaksana, dan audit pembangunan. Selain para ahli juga para Makers, baik pembuat produk kecil maupun besar, dari furniture hingga paviliun, dari gedung hingga perencana kota, semuanya memiliki tanggung-jawab untuk meningkatkan kemampuannya dan sebaik mungkin memberikan pelayanan kepada khalayak umum.

Rumah adalah kebutuhan setiap orang. Selain rumah, ruang-ruang untuk belajar dan bekerja baik di gedung sekolah, perkantoran, pasar, pusat perbelanjaan, dan pusat peribadatan semuanya merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Meskipun kita sebagai makhluk lemah memiliki keterbatasan bila berhadapan dengan bencana alam dan tidak memiliki daya apapun bila tanpa izin Allah SWT, namun kita diperintahkan untuk berpikir, berusaha, dan berdoa (tawakal). Beragam usaha pencegahan dampak bencana gempa seperti panduan perancangan, perhitungan, desain, perkuatan bangunan, dan pedoman eksekusi lapangan telah disusun di banyak negara. Di Indonesia, kita memiliki SNI Gempa Tahun 2012. Namun, eksekusi pembangunan yang mempertimbangkan gempa dianggap “terlalu mahal”, tentunya karena dimensi struktur yang dibuat harus lebih besar dari pada dimensi yang dirancang dari perhitungan pembebanan vertikal saja. Kemudian, seperti yang kita tahu juga, pelaksana di lapangan rajin mempromosikan ukuran pondasi, kolom, dan balok yang hanya mempertimbangkan pengalaman “tidak robohnya” rumah yang pernah dibangun sebelumnya sekalipun menggunakan dimensi struktur tak layak. Tulangan besi beton pun, di lapangan kita tahu ada ukuran KW1, KW2, Full, Banci, dan sebagainya. Kita ingin punya rumah murah, tentunya, namun tetap aman dari ancaman gempa. Apakah hal itu memungkinkan di masa sekarang ini?

Terdapat beberapa pertanyaan lanjutan bila kita merefleksikan hubungan antara kebutuhan akan ruang, harga membangun, dan proteksi gempa. Pertama adalah pertanyaan terkait material dan sistem struktur. Material dinding bata berplester, yang didukung dengan sistem struktur pondasi, kolom dan balok beton, saat ini dianggap sebagai pilihan mutlak bila kita ingin membangun bangunan ‘permanen’. Dengan demikian, pemilik rumah dengan budget terbatas pun akan berusaha membangun dengan beton dan bata sebisa mungkin. Konsekuensinya, demi membangun dengan dinding bata dan struktur beton, biaya membangun ditekan dengan pengurangan-pengurangan material yang ‘tidak terlihat’ seperti komposisi pasir-semen-air dan agregat dalam beton: pengurangan semen, penambahan pasir, penambahan air, dan pengurangan agregat (split). Kemudian biaya juga dikurangi dengan menekan dimensi besi beton: dimensi besi tulangan untuk pondasi, kolom, balok, kolom praktis, dan ring balk semua disamakan menggunakan besi diameter kecil saja. Jika demikian, bisakah kita protes bila kemudian dinding retak dan roboh saat terjadi gempa? Lalu kemudian, jika praktek seperti itu berbahaya, bagaimana agar kita bisa punya rumah bagus dan murah dan tahan gempa?

Bagus adalah kata yang menjebak. Pendapat rumah bagus dan rumah jelek adalah sesuatu yang relatif. Namun, seringkali orang mengikuti pandangan umum tanpa dicerna ulang karena begitulah alaminya kita manusia kebanyakan. Rumah bagus tidak melulu harus menggunakan bahan bata dan beton. Ada banyak sekali kriteria rumah bagus yang lebih patut dipertimbangkan daripada sekedar frase “kesan permanen”. Saking banyaknya, kriteria rumah bagus ini bila dipaparkan bisa menjadi artikel sendiri, atau mungkin banyak artikel baru. Akan tetapi, ketika bicara soal tahan gempa dan biaya murah, parameter keduanya dapat diukur secara objektif. Banyak ahli gempa yang mendedikasikan waktunya untuk mengembangkan alat ukur ketahanan gempa suatu bangunan, kemudian juga mengembangkan pedoman perancangan bangunan tahan gempa, seperti misalnya SNI Gempa di Indonesia, BSLJ di Jepang, ICS di Iran, dan IBC di USA. Parameter biaya juga bisa diukur, dengan menghitung dan melakukan survey harga material dan tukang saat ini. Tentunya, mengedepankan sesuatu yang terukur lebih utama daripada mengedepankan pertimbangan bagus/tidaknya bangunan yang bersifat subjektif. Walaupun kembali lagi idealnya tentu bagus, murah, dan tahan gempa. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *