Material Finish Kayu yang Aman untuk Makanan

Kayu bukanlah material yang asing dalam industri peralatan makanan. Penggunaannya beragam, mulai dari alat proses makanan seperti talenan, pengaduk dan bahan bakar untuk proses pematangan hingga alat makan seperti sendok, mangkuk, piring dan baki. Apakah kamu salah satu yang sedang mulai berkreasi dengan membuat peralatan makanan dengan kayu? Atau justru salah satu penggunanya? Yuk kita lebih teliti dengan mengetahui jenis material finishing yang aman digunakan dalam peralatan makan atau masak dari kayu.

Proses Finishing

Proses finishing adalah proses untuk membersihkan dan melindungi permukaan kayu. Hal ini dilakukan karena kayu merupakan material yang memiliki pori-pori. Dalam keadaan kering atau tanpa finishing, kayu dapat menyerap air dan membuatnya menjadi tengik. Proses ini merupakan tahap terakhir dalam proses produksi dan dilakukan untuk : memberi karakter yang diinginkan pada hasil akhir produk (kilap, kehalusan permukaan), meningkatkan ketahanan kayu terhadap kelembaban dan unsur alami lainnya, membuat kayu lebih mudah untuk dibersihkan, dan menjaga kehigienisan kayu (menutup pori-pori kayu yang dapat menjadi tempat tumbuhnya bakteri).

Proses ini terdiri dari pengamplasan, memperbaiki permukaan kayu yang berlubang/tidak rata menggunakan wood filler, pemberian warna pada kayu (staining atau bleaching) dan terakhir melapisi permukaan kayu dengan material finishing yang akan dibahas di bagian berikutnya.

Material Finishing Kayu yang Aman

Debat terhadap jenis material finishing yang bersifat food-safe untuk kayu muncul karena adanya beberapa produsen yang melabeli produk finishingnya dengan food/salad-bowl safe. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa produk lainnya merupakan produk yang tidak aman. Pada kenyataannya, tidak ada bukti yang mendukung mengenai bahayanya suatu jenis material finishing untuk kayu yang umum digunakan.

Namun, untuk berhati-hati, kita dapat mempelajari daftar material yang aman jika kontak dengan makanan. Salah satu badan yang membuat regulasi mengenai material yang aman tersebut adalah The U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Material Finishing Alami

Sesuai namanya, material finishing alami merupakan material yang berasal dari alam. Material alami ini disebut sebagai material yang relatif lebih aman untuk digunakan jika kita tidak yakin mengenai jenis material finishing lain yang beredar di pasaran. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Shellac

Shellac merupakan material finishing yang terbuat dari resin yang dilarutkan. Resin ini dihasilkan oleh serangga Kerria lacca. Shellac yang masih berupa bahan mentah diproses menjadi serpihan yang kering (dry flakes) untuk memperpanjang waktu simpannya. Shellac berbentuk solid ini harus dilarutkan dalam etanol agar dapat digunakan sebagai material finishing untuk kayu.

  • Beeswax

Beeswax merupakan wax alami yang dihasilkan oleh lebah madu (Apis sp.). Material finishing dari beeswax dapat berupa beeswax murni maupun beeswax yang dicampur dengan linseed oil maupun tung oil. Permukaan yang dihasilkan halus dan tahan air (water resistant), namun tidak anti air (waterproof). Finishing dari beeswax dapat digunakan pada mangkuk kayu dan talenan (termasuk papan pemotong untuk daging).

  • Linseed Oil

Linseed oil merupakan minyak yang berasal biji tumbuhan Linum usitatissimum yang kering dan matang. Merupakan drying oil, yaitu minyak yang dapat berubah bentuk menjadi padat pada proses polimerisasi. Material finishing ini mudah tergores namun mudah pula diperbaiki dan tidak menutupi permukaan kayu melainkan mengisi pori-pori kayu (yang terlihat maupun yang mikroskopis) sehingga permukaan kayu menjadi licin namun tidak mengkilap.

Linseed oil yang mentah membutuhkan waktu curing yang lama, karena itu, minyak ini seringkali diproses menjadi boiled linseed oil. Caranya yaitu dengan menambahkan katalis metal untuk mempercepat proses pengeringan. Selama katalis metal tersebut menggunakan jenis metal yang tidak berbahaya untuk makanan, maka material finishing ini dapat digunakan untuk peralatan makan atau memasak dari kayu.

  • Walnut Oil

Merupakan minyak alami yang termasuk drying oil. Minyak ini diekstraksi dari tumbuhan Juglas regia. Material ini dapat terserap ke dalam kayu, tidak membuat permukaan menjadi lengket, tidak berbau, membuat warna kayu menjadi lebih terang, tidak beracun, membuat peralatan menjadi tahan air dan alcohol, dan tidak mengubah rasa makanan yang diwadahi.

Walnut Oil yang murni cocok untuk digunakan pada mangkuk kayu, sendok kayu, baki makanan, dan garpu salad. Pengaplikasiannya dapat dilakukan menggunakan kuas, kain, maupun tangan. Meskipun merupakan bahan alami, pengguna dengan alergi pada kacang-kacangan sebaiknya menghindari material finishing ini.

  • Tung Oil

Berasal dari biji tumbuhan Aleurites fordii dan Aleurites montana dan telah lama digunakan di Cina pada kayu-kayu yang digunakan di kapal. Permukaan kayu yang difinish dengan tung oil memiliki karakter waterproof sehingga tahan terhadap debu, alkohol, aseton, dan cairan asam yang dapat berasal dari buah maupun sayur. Material finishing ini dapat digunakan pada talenan, mangkuk salad, dan lain-lain.

Dalam menggunakan suatu material finishing untuk produk yang berkaitan dengan makanan, sebaiknya kita memperhatikan cara penggunaan yang tertera pada label produk. Setiap material finishing pasti memiliki waktu pengeringan maupun waktu curing yang berbeda-beda sebelum dapat dicuci dan digunakan. Selain dipengaruhi oleh jenis material, perbedaan waktu ini juga dipengaruhi oleh iklim di daerah tersebut.

 

sumber :

http://www.woodcentral.com/articles/finishing/articles_497a.shtml

https://www.finewoodworking.com/ 2006/08/01/food-safe-finishes

http://www.woodworkdetails.com/knowledge/finishing/tung-oil

https://en.wikipedia.org/wiki/Shellac

https://en.wikipedia.org/wiki/Linseed_oil#Wood_finish

https://en.wikipedia.org/wiki/Beeswax#Uses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *