Membangun di Atas Tanah Reklamasi

Tanah merupakan sebuah elemen penting dalam proses membangun. Coba lihat di mana rumah, sekolah, atau pusat perbelanjaan terdekat dengan kita berdiri? Tentu saja di atas tanah. Sebagai sebuah tempat membangun, tentu saja kekuatan tanah juga penting untuk diketahui sebelum kita mulai membangun. Namun, bagaimana jika tidak ada tanah yang dapat dibangun atau bangunan yang akan dibangun direncanakan untuk menjadi sebuah ikon dari sebuah negara sehingga diperlukan lokasi yang spesial sebagai tempat pembangunannya?

Meskipun banyak contoh yang dapat dipelajari, kita dapat memulainya dengan melihat Aldar HQ. Berlokasi di Abu Dhabi, Kantor Pusat Aldar, pengembang Al Raha Beach, merupakan sebuah pencakar langit yang unik. Tingginya mungkin tidak menyaingi Burj Al Khalifa, namun bentuknya yang terinspirasi dari cangkang kerang merupakan sebuah contoh pembangunan struktur istimewa di tanah yang tadinya tidak ada. Ya, Aldar HQ dibangun di atas pulau buatan sekitar 700 m dari daratan di Teluk Persia.

Melihat bentuknya yang unik, tentu banyak komponen non-konvensional yang dilibatkan dalam pembangunannya. Seperti rangka besi spesial yang membentuk rangka fasad bangunan, lalu panel kaca untuk fasad yang didesain untuk dapat menghadapi tekanan angin yang bertemu dengan tepi bangunan dan dapat menyedot panel kaca hingga terlepas dari bangunan. Namun, dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai pondasi bangunan yang berada di atas pulau buatan atau hasil reklamasi.

Apa Itu Reklamasi?

Reklamasi merupakan sebuah proses pembuatan tanah baru yang biasanya berada di atas permukaan air, misalnya laut. Di Abu Dhabi, proses reklamasi ini sudah dilakukan sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Pengembangan lahan dengan melakukan reklamasi ini tentu saja tidak hanya dilakukan di Abu Dhabi, tapi juga di kota-kota besar seperti Hongkong, New York, dan Jakarta.

Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, menyatakan bahwa bangunan di atas tanah reklamasi sebetulnya aman. Hal ini disebabkan oleh kekuatan tanah yang memang tergantung pada komposisi penyusunnya. Pengembang yang membuat memiliki tanggung jawab untuk melakukan perbaikan tanah dasar pada saat pengurugan agar tanah reklamasi tidak mengalami penurunan dalam jangka yang panjang.

Membangun Aldar HQ

Pulau buatan tempat Aldar HQ dibangun dibentuk dari pasir yang berasal dari dasar laut (marine sand). Meskipun Uni Emirat Arab merupakan negeri padang pasir, namun pasir gurun (desert sand) bukanlah pasir yang tepat untuk digunakan sebagai tempat membangun. Pasir gurun memiliki butiran yang kecil dan halus dan tidak cocok untuk digunakan dalam proses reklamasi. Sementara marine sand memiliki butiran yang lebih kasar dan lebih besar. Butirannya dapat melekat satu sama lain dan dapat digunakan sebagai dasar dari bangunan.

Pulau buatan yang menjadi lokasi dari Aldar HQ membutuhkan lebih dari 3 juta meter kubik pasir. Pasir ini tidak semua digali dari dasar laut, tapi dipindahkan ke lokasi yang telah ditentukan dari bekas proyek infrastruktur Abu Dhabi sebelumnya. Pemindahan ini dilakukan menggunakan pengeruk, disalurkan melalui pipa apung ke lokasi, untuk kemudian diratakan menggunakan ekskavator. Proses ini membutuhkan waktu 8 bulan hingga pulau yang diinginkan terbentuk.

Setelah pulau pasir terbentuk, proses selanjutnya adalah membuat pondasi bangunan. Mengingat skala bangunan yang besar dan bentuknya yang unik, dibutuhkan perhatian khusus dalam membuat pondasi Aldar HQ. Sebelum menggali lahan, tim konstruksi terlebih dahulu membuat diaphragm wall atau D-Wall. Hal ini dilakukan karena, saat pasir digali hingga jauh ke dalam, lama kelamaan, air laut akan merembes dan dapat mengakibatkan longsor.

D-wall dibuat dari panel beton yang membentuk barikade untuk menghalangi arus air laut. D-wall ditanam ke dasar laut dan tingginya mencapai 16 m di bawah permukaan. Setelah D-wall selesai dibuat, pasir yang berada di dalam barikadenya dapat dibuang untuk membuat ruang bagi pondasi.

***

Membangun pada tanah reklamasi bukan merupakan hal yang baru. Keamanan bangunan di atasnya pun sudah dapat dibuktikan jika prosesnya dilakukan dengan benar. Namun, apakah ini merupakan solusi dari masalah semakin sedikitnya lahan untuk membangun? Hal ini tentu saja masih harus diteliti lebih lanjut.

 

 

Sumber:

Film dokumenter Megastructures: Skyscraper In the Round (National Geographic)

https://en.wikipedia.org/wiki/Land_reclamation

https://www.thenational.ae/uae/environment/how-abu-dhabi-has-grown-1.606311

Alexander, Hilda B. 2018. “Menyoal Keamanan Bangunan Properti di Atas Tanah Reklamasi”, https:// properti.kompas.com/read/2018/03/18/230000421/menyoal-keamanan-bangunan-properti-di-atas-tanah-reklamasi.