Material M014 – Tegel

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai terrazzo sebagai material yang dapat digunakan untuk melapis lantai, dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai tegel. Apa sih, tegel itu, dan apa ya bedanya dengan keramik? Katanya tegel itu material yang cocok digunakan di negara beriklim tropis, loh. Apa ya, kelebihannya? Kita cari tahu bersama-sama, ya.

Apa itu Tegel?

Tegel, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, adalah batu ubin. Sementara ubin, berdasarkan sumber yang sama, didefinisikan sebagai batu campuran pasir, semen, dan sebagainya yang digunakan untuk lantai (biasanya berbentuk segi empat). Definisi ini menjelaskan mengenai fungsi tegel sebagai material pelapis lantai dan material pembuatnya, yaitu pasir, semen, dan campuran lainnya. Nugroho (2016) menyebutkan bahwa menurut Mangunwijaya, tegel mulai digunakan di Indonesia setelah kedatangan orang Belanda. Kehadiran tegel ini menggantikan material keramik dan plesteran semen yang sebelumnya digunakan sebagai material lantai.

Di Indonesia, Tegel dikenal sebagai material klasik. Salah satu contoh penggunaannya di jaman dahulu adalah pada keraton-keraton di Yogyakarta dan Solo. Belakangan ini, tegel pun kembali naik daun. Penggunaan tegel di rumah ataupun di tempat-tempat komersial juga semakin beragam, selain sebagai material lantai, juga dapat digunakan sebagai material dinding, backsplash di dapur, maupun sebagai material aksesn (dinding, lantai, maupun bagian belakang meja, dan lain-lain). Meskipun begitu, menurut Sigit, pemilik usaha Tegel Panjen, karakter, teknik, cara pemasangan, dan perawatan tegel masih belum banyak diketahui.

Pembuatan Tegel

Tegel merupakan material yang unik karena cara pembuatannya manual. Cara membuatnya adalah dengan menyiapkan semen warna (sebagai lapisan paling atas) dan semen pelapis (untuk memberi ketebalan pada tegel), dan mencetaknya menggunakan cetakan logam. Setelah itu, tegel mengalami proses pressing menggunakan mesin press hidrolik dan pengeringan alami. Proses terakhir ini dapat memakan waktu 20 hingga 28 hari. Menurut Mega Puspa, pemilik pabrik Tegel Kunci di Yogyakarta, jika tegel ‘dipaksa’ kering, kualitasnya justru akan menurun.

Pembuatan tegel secara manual ini memiliki nilai positif dan negatif. Nilai positifnya adalah warna tegel yang dapat disesuaikan dengan keinginan pemesan dan prosesnya relatif lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pembuatan material lantai yang mengalami proses pembakaran. Namun, nilai negatifnya adalah waktu produksinya yang lama dan ukurannya yang tidak presisi satu sama lain. Hal yang terakhir ini sangat mempengaruhi tingkat kesulitan pemasangannya.

Kelebihan dan Kekurangan Tegel

Karena material pembuatnya, tegel memiliki karakteristik berpori. Karakter inilah yang membedakan tegel dengan keramik, marmer, atau material pelapis lantai lainnya. Pori-pori tegel ini menyebabkan tegel dapat ‘bernafas’ dan terasa sejuk sehingga cocok digunakan di daerah beriklim tropis (Nugroho, 2016). Dari segi perawatan dan ketahanan, tegel dapat bertahan hingga puluhan tahun, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan, dan tidak licin sehingga relatif aman.

Setelah membahas beberapa kelebihan tegel, sekarang waktunya untuk membahas beberapa kekurangan material ini. Seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, kekurangan tegel yang pertama adalah dari sisi pemasangannya yang sulit karena ukurannya yang tidak akurat. Selain membutuhkan tim instalasi yang ahli, hal ini juga menyebabkan harga pemasangannya lebih mahal dibandingkan pemasangan ubin keramik. Selain itu, permukaannya yang berpori membuat tegel harus melalui proses sealing agar mudah dibersihkan dan terhindar dari noda. Proses sealing juga mengurangi penyerapan tegel terhadap air (karena permukaan tegel yang berpori). Nah, proses sealing ini harus dilakukan secara menyeluruh di awal pemasangan dan diulangi dalam waktu 2 atau 3 tahun.

Kekurangan lainnya adalah ketebalan tegel yang mencapai 1,5 cm, lebih tebal dibandingkan dengan keramik pada umumnya (6 – 12 mm). Ketebalan dan material pembuatnya juga membuat tegel lebih berat daripada keramik sehingga dalam pemasangannya, perlu memperhatikan kekuatan struktur tempat tegel akan dipasang.

Semoga artikel ini dapat membantu makers yang ingin mengetahui tentang tegel atau ingin menggunakan tegel di rumahnya, ya. Selamat bereksplorasi.

Sumber:

Fazio, E. The Pros and Cons of Concrete Tiles. DIY Network. Retrieved from https://www.diynetwork.com

Haryanti, R. (2018, August 8). Proses Panjang Pembuatan Tegel. Kompas.com. Retrieved from https://properti.kompas.com

Haryanti, R. (2018, August 3). Mengenal Tegel yang Kembali Naik Daun. Kompas.com. Retrieved from https://properti.kompas.com

Nugroho, M. D. (2016). Karakter Visual pada Motif Ornamen Tegel Kunci Yogyakarta. Ornamen Jurnal Kriya Seni ISI Surakarta7(1).

Osowski, E. (2018, March 15). Cement Vs. Ceramic Tile: Why We Choose Ceramic for Our Bathroom. Tiny Rehab. Retrieved from https://www.tinyrehab.com

kbbi.web.id