Posted on

Bekerja dengan Palet Kayu

Furnitur dengan bahan dasar palet kayu mungkin tidak asing lagi saat ini. Jika sedang browsing di pinterest, pasti mudah sekali menemukan kreasi furnitur dari bahan tersebut. Bahkan ada juga yang menawarkan langkah-langkah mudah untuk membuat furnitur dari palet kayu bekas.

Untuk yang belum familiar, palet sebetulnya adalah alas untuk memindahkan barang dengan menggunakan forklift, crane, atau alat berat lainnya. Palet juga digunakan untuk melindungi barang yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Fungsinya adalah untuk menjaga agar posisi barang tetap stabil. Palet bisa terbuat dari berbagai material seperti kayu, metal, dan plastik. Namun, palet dengan material kayu merupakan jenis yang paling mudah ditemui.

Palet kayu sebagai bahan dasar furnitur dapat digunakan dalam bentuk aslinya, maupun dibongkar untuk menggunakan kayu-kayu penyusunnya saja. Bisa difinish dengan cat setelah dihaluskan dengan amplas, atau hanya dipoles untuk mempertahankan tekstur dan tampilan kayu-nya. Namun, ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita dapat bekerja dengan palet kayu.

Darimana Palet Kayu Berasal?

Mengingat fungsi palet kayu yang berhubungan dengan pengiriman barang dalam jumlah atau ukuran yang besar, palet kayu bekas bisa berasal dari mana saja di seluruh dunia. Bahkan bisa jadi palet yang akan kita gunakan adalah palet yang sudah digunakan selama bertahun-tahun. Tidak semua palet kayu aman untuk digunakan, untuk itu, kita perlu mengetahui dari mana palet kayu tersebut berasal.

Sebagai permulaan, pilihlah palet kayu yang terlihat kering dan tidak memiliki noda akibat tumpahan minyak, bahan makanan, atau bahan lain yang tidak dapat diidentifikasi. Palet yang paling ideal untuk digunakan dalam proyek daur ulang, terutama untuk membuat furnitur, adalah palet kayu sekali pakai. Palet kayu ini biasanya digunakan untuk memindahkan kendaraan bermotor roda 2, peralatan medis khusus, atau furniture. Palet kayu sekali pakai ini memiliki sedikit kemungkinan untuk terkontaminasi karena tidak digunakan untuk barang-barang yang mengandung zat kimia yang mungkin berbahaya atau zat makanan yang dapat menimbulkan bakteri.

Cap pada Palet Kayu

Palet kayu yang digunakan untuk pengiriman internasional biasanya memiliki cap yang memberikan informasi mengenai negara pembuatnya dan treatment apa yang sudah dilakukan pada palet tersebut. Mekipun tidak 100% menjamin keamanan palet kayu untuk digunakan dalam project furnitur, penting untuk mengetahui apa arti dari kode dan cap tersebut.

  1. IPPC

IPPC adalah singkatan untuk International Plant Protection Convention. Sebuah palet yang digunakan secara internasional harus memiliki cap ini. Artinya, palet ini dibuat dari material yang sudah dipastikan aman dari potensi membawa spesies hewan lokal maupun penyakit tanaman yang dapat membahayakan ekosistem di negara tujuan pengirimannya karena sudah diberi perlakuan khusus.

  1. HT

Salah satu perlakuan khusus untuk material palet kayu yang memenuhi standar IPPC adalah Heat Treatment yang ditandai dengan cap HT. Treatment ini dilakukan untuk menghilangkan hama pada kayu dengan cara memanaskan kayu hingga suhu 56°C – 60°C selama 30 menit di dalam oven.

  1. KD

Kiln dried. Palet dengan cap KD artinya telah diberi perlakuan untuk mengurangi kelembaban kayu hingga 19% atau kurang dari itu. Dengan mengurangi kelembaban kayu, maka berat kayu juga menjadi berkurang dan palet menjadi lebih ringan. Perlakuan ini juga dapat mengontrol pertumbuhan jamur pada kayu.

  1. DB

Debarked. Palet kayu dengan cap ini artinya menggunakan material kayu yang lapisan luarnya sudah ‘dikupas’ sebelum diberi perlakuan lain (dipanaskan atau diberi bahan kimia). Sejak tahun 2009, prosedur ini wajib dilakukan sehingga seringkali palet kayu tidak lagi memiliki cap ini.

  1. MB

Palet kayu dengan cap ini artinya diberi perlakuan dengan pestisida jenis Methyl Bromide. Namun, pestisida ini sudah dilarang untuk digunakan di beberapa negara seperti Amerika Serikat (sejak 2005) dan Kanada karena merupakan zat yang berbahaya untuk kesehatan dan ozon. Meskipun sumber lain mengatakan bahwa palet kayu dengan methyl bromide aman jika digunakan di ruang terbuka dan tidak digunakan langsung setelah dilakukan treatment, informasi ini cukup penting untuk mengetahui perlakuan apa saja yang dilakukan pada palet kayu yang akan kita gunakan.

  1. PRL

PRL merupakan kependekan dari Package Research Laboratory. Cap ini merupakan tanda verifikasi pemeriksaan palet kayu dan bukan tanda bahwa kayu mendapatkan perlakuan khusus dalam pembuatannya.

Berbeda dengan palet yang digunakan untuk pengiriman internasional, palet yang digunakan di dalam negeri biasanya tidak memiliki cap dan relatif lebih aman untuk digunakan. Namun dengan mengetahui arti dari kode yang terdapat di palet kayu, kita dapat lebih selektif dalam memilih palet kayu yang akan kita gunakan dan memiliki lebih banyak opsi untuk mendapatkan palet kayu.

Apakah Semua Palet Kayu Aman Digunakan?

Sudah banyak tutorial maupun artikel di internet yang memberikan instruksi cara mengolah palet kayu untuk proyek DIY (do-it-yourself). Namun, apakah semua palet kayu aman digunakan?

Mengetahui arti dari cap atau tanda yang terdapat di palet kayu merupakan salah satu langkah untuk memastikan keamanan palet sebagai material, apalagi jika digunakan untuk membuat furnitur yang akan memiliki kontak langsung dengan tubuh manusia baik di ruangan tertutup maupun ruangan terbuka. Ada baiknya pengguna mengetahui untuk apa palet tersebut digunakan sebelumnya. Palet yang digunakan untuk transportasi bahan kimia maupun bahan berbahaya lainnya tentu tidak aman, karena ada kemungkinan kayu terkontaminasi oleh barang yang diangkut. Begitu pula dengan palet yang digunakan untuk transportasi makanan, karena tumpahan makanan dapat menumbuhkan jamur dan bakteri pada kayu.

Cap IPPCDBKD, dan HT pada palet dapat menjadi tanda bahwa palet kayu aman untuk digunakan kembali. Namun, jika cap tersebut tidak ditemukan pada palet lokal, maka perhatikan tanda-tanda kontaminasi maupun jamur pada palet kayu, tanda-tanda kelapukan pada palet kayu, dan pastikan sumbernya terlebih dahulu.

Membongkar Palet Kayu

Palet kayu pada umumnya terdiri dari 2 bagian, yaitu stringer dan deckboard. Kedua bagian ini disatukan dengan menggunakan paku. Pada beberapa palet kayu yang digunakan kembali, kita bisa menemukan lebih dari 3 paku pada 1 bagian deckboard yang melekat pada stringer.

 Meskipun palet kayu dapat langsung digunakan dalam bentuk aslinya, kita juga bisa membongkar palet kayu agar dapat menggunakan potongan-potongan kayu pembentuk palet kayu tersebut. Menggunakan kayu penyusun palet kayu membuat kita dapat memiliki lebih banyak pilihan untuk memanfaatkan kayu. Untuk itu kita perlu mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk membongkar palet kayu.

Kunci dalam membongkar palet kayu adalah dengan melepaskan paku yang terpasang pada palet. Hal ini dapat dilakukan dengan alat pencungkil kayu maupun dengan gergaji yang dapat memotong kayu. Memotong paku dengan gergaji merupakan cara yang tercepat dan paling aman.

Dalam proses ini, sangat mungkin ada serpihan kayu yang terlepas dan dapat berbahaya jika terkena kulit atau anggota tubuh lainnya. Untuk itu, kita harus berhati-hati, misalnya dengan menggunakan kaus lengan panjang, sarung tangan, atau kacamata khusus untuk melindungi mata selama bekerja dengan palet kayu.

Sebelum mengubah palet kayu menjadi furnitur atau barang lain yang diinginkan, jangan lupa untuk mengamplas palet kayu terlebih dahulu. Selain itu, jangan memotong palet kayu di dekat area bekas paku maupun bagian yang memiliki retakan. Hal ini dapat menyebabkan kayu palet lebih mudah patah saat pemotongan. Beeswax dapat digunakan untuk memberi permukaan yang halus pada kayu namun tetap menampilkan karakter warna asli dari palet kayu yang menjadi daya tarik dari material tersebut.

Palet Kayu dalam Konstruksi Bangunan

Selain dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furnitur, palet kayu juga ternyata dapat digunakan sebagai material bangunan. Sebuah studi yang dilakukan di Batam, Kepulauan Riau menunjukkan bahwa palet kayu dapat digunakan sebagai material fasad bangunan, pintu, dan pelapis lantai dan anak tangga. Dalam studi ini, palet kayu yang digunakan dibuat dari bahan kayu jati belanda (pinus) yang didapatkan dari Tempat Pembuangan Akhir, telah melalui proses pemilihan untuk memastikan kualitasnya masih baik, dan tidak mengalami proses pengeringan sebelum digunakan.

Dari studi ini, didapatkan kesimpulan bahwa palet kayu dapat digunakan dalam konstruksi bangunan. Palet kayu dapat menambah nilai estetis bagi bangunan dan mengurangi biaya konstruksi karena material ini merupakan material sisa yang cukup mudah didapatkan dan relatif lebih murah. Namun, karena merupakan bahan sisa, palet kayu memiliki ketebalan yang beragam (0.8 mm – 1.8 mm) dan dapat mengalami penyusutan baik dalam penggunaan di dalam maupun di luar bangunan akibat proses pengeringan yang tidak sempurna saat dijadikan palet.

Penggunaan kayu palet juga dapat menjadi solusi bagi ruangan yang digunakan sementara waktu. Di Jepang, sebuah konsultan arsitektur menggunakan kayu palet sebagai pelapis lantai, dinding dan langit-langit sebuah kantor yang berada di bangunan sewaan. Menurut mereka, kayu palet memiliki beberapa kelebihan, di antaranya harga material yang murah, mudah untuk dibongkar, dan tidak membutuhkan pekerja khusus untuk pengerjaannya.

sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Pallet

Video Youtube “Shipping Pallet Dangers and Disassembly” – Tiny Little Workshop https://www.youtube.com/watch?v=LEKXEzf_L7Q

https://www.1001pallets.com/pallet-safety/

https://www.dezeen.com/2015/05/05/hiroki-tominaga-atelier-shitomito-deconstructed-pallets-tokyo-office-planks-timber/

https://www.ecohome.net/guides/3593/is-it-safe-to-build-beds-or-furniture-with-shipping-pallets/

https://en.wikipedia.org/wiki/ISPM_15

https://www.fix.com/blog/preparing-wood-pallets-for-upcycling/

https://www.thebalancesmb.com/are-wood-pallets-safe-for-crafting-misinformation-abounds-2878158

Kurniawan, R. (2012). Implementasi Penggunaan Kayu Palet (Jati Belanda) pada Sebuah Rumah Tinggal. Jurnal Dimensi, 1 (1)