Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Pernah merasa kepanasan saat berdiam diri dalam suatu bangunan? Tentu pernah, ya. Sekarang, pernah nggak terpikir kenapa kita bisa merasa kepanasan dalam bangunan yang sama? Nah, kalau pernah kepikiran, dalam artikel kali ini kami akan menjelaskan beberapa alasannya. Siapa tahu ada dari makers yang berniat merenovasi rumah karena merasa rumahnya panas? Yuk, simak lebih dahulu apa sih yang mempengaruhi panas di dalam bangunan.

Thermal Comfort

Thermal comfort (atau kenyamanan termal) merupakan sebuah keadaan di mana manusia (sebagai penghuni dari suatu ruang) merasa nyaman dengan temperatur di dalam ruangan. Hal ini sebetulnya bersifat subjektif, karena tingkat kenyamanan setiap orang terhadap panas berbeda-beda. Tapi pada dasarnya, tubuh manusia secara alami mempertahankan suhu tubuhnya pada suhu 37°C. Jika suhu dalam tubuh meningkat (misalnya karena aktivitas metabolisme), maka tubuh akan melepaskan panas dari dalam tubuh (misalnya dengan berkeringat), dan sebaliknya.

Proses ini tergantung pada suhu lingkungan. Jika suhu di sekitar kita terlalu tinggi atau sama dengan suhu alami tubuh, proses pelepasan panas dari dalam tubuh kita tidak akan terjadi karena panas bergerak dari suhu yang lebih tinggi ke rendah. Tubuh kita justru akan menerima panas dan kita merasa gerah. Sebaliknya, jika suhu sekitar kita rendah, panas tubuh akan lebih mudah terlepas sehingga kita bisa merasa kedinginan.

Kesimpulannya, thermal comfort dapat kita capai dengan mengatur panas ruangan agar proses pelepasan panas tubuh dapat terjadi.

Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Kenapa sebuah ruangan atau bangunan dapat terasa panas? Hal ini bisa kita jawab dengan mengetahui bagaimana transfer panas dapat terjadi. Tinggal di negara tropis membuat kita memiliki satu sumber panas yang besar, yaitu matahari. Nah, panas dari matahari dapat memanaskan sebuah ruangan dalam 3 cara: konduksi, konveksi, dan radiasi. Meskipun ketiga proses transfer panas ini pasti terjadi secara alami, ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk memperlambat laju transfernya sehingga kita dapat mempertahankan temperatur yang nyaman.

  • Konduksi

Panas dari matahari dapat memanaskan dinding bagian luar bangunan yang terekspos langsung dengan matahari. Panas ini merambat dari dinding bangunan bagian luar melalui lapisan dinding hingga memanaskan bagian dalam dinding yang lebih rendah suhunya karena tidak terkena langsung sinar matahari. Karena itu, solusi untuk menghambat laju transfer panas ini adalah dengan memilih material dinding yang memiliki nilai konduktivitas rendah, seperti batu bata atau menambahkan material insulator yang tidak menghantarkan panas.

  • Konveksi

Contoh perpindahan panas dengan metode konveksi adalah memanasnya udara yang terkena sinar matahari atau udara di bagian dalam ruangan yang dindingnya panas akibat proses konduksi. Perpindahan panas jenis ini sulit untuk dihambat, kecuali dengan cara melambatkan aliran udara yang masuk ke dalam ruangan.

  • Radiasi

Matahari, sebagai sumber panas terbesar, merambatkan panasnya melalui gelombang elektromagnetik. Ruangan yang memiliki akses langsung ke sinar matahari bisa terasa panas karena proses radiasi ini. Karena itu, peletakkan bukaan dalam ruangan dan posisi rumah terhadap naungan dari pohon atau bangunan di sekitarnya adalah cara untuk menghindari panasnya bangunan akibat radiasi.

 ***

Dengan mengetahui kenapa ruangan bisa terasa panas, semoga makers bisa menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi dan posisi ruangan masing-masing ya!

 

Sumber:

van Hoof, Joost & Mazej, Mitja & Hensen, Jan. (2010). Thermal comfort: Research and practice. Frontiers in Bioscience. 15. 765-788. 10.2741/3645.

https://www.scientificamerican.com /article/why-people-feel-hot/

Video Heat Transfer: Crash Course Engineering #14