Posted on

Nyaman dalam Ruang #5: Cahaya dan Manfaatnya pada Ruang

Jika sebelumnya kita sudah membicarakan mengenai suhu, suara, dan kualitas udara dan pengaruhnya pada kenyamanan dalam ruang, maka kali ini kita akan membahas mengenai cahaya. Keberadaan cahaya dalam ruang memudahkan kita untuk beraktivitas dalam ruang, karena dalam proses melihat kita membutuhkan keberadaan cahaya. Nah, yang akan dibahas dalam artikel ini adalah, cahaya seperti apa yang dapat memberikan kenyamanan bagi kita dalam beraktivitas di dalam ruang. Yuk, sama-sama kita cari tahu.

Sumber Cahaya dalam Ruang

Sumber cahaya dalam ruang dapat berasal dari cahaya alami (cahaya matahari) dan cahaya artifisial. Masing-masing sumber cahaya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yuk, kita bahas sumber-sumber cahaya ini secara lebih mendalam.

Cahaya Alami

Cahaya alami berasal dari cahaya matahari. Karena itu, kita hanya mendapatkannya selama matahari bersinar (di siang hari) dan selama bukaan ke dalam ruang memungkinkan untuk sinar matahari dari luar masuk. Cahaya yang dihasilkan oleh matahari memungkinkan kita untuk melihat dan mengenali objek, membantu kulit menghasilkan vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulang, menstimulasi aliran darah, mempengaruhi jumlah hormon dalam tubuh, dan mempengaruhi circadian rhythm tubuh yang berperan dalam proses kognitif tubuh (seperti kegiatan memperhatikan dan mengingat sesuatu).

Memiliki ruang dengan cahaya alami yang cukup di siang hari tentu dapat menghemat energi yang dikeluarkan untuk menggunakan caahaya artifisial. Namun, kesalahan desain pada ruang dapat membuat kita tidak mendapatkan cahaya alami secara optimal. Beberapa hal yang dapat diperhatikan untuk mendapatkan cahaya alami yang optimal adalah sebagai berikut:

  1. Meletakkan jendela di arah utara dan selatan. Meskipun kita mendapat keuntungan dari cahaya alami yang masuk ke dalam ruangan, namun peletakkan jendela yang tidak tepat dapat membuat kita tidak hanya mendapat cahaya, tapi juga panas matahari. Peletakkan jendela di arah barat dan timur sebaiknya tidak dilakukan karena 1) ruangan akan lebih mudah mendapat panas dari matahari, 2) direct light dapat menyebabkan ruang terlalu terang, silau dan membuat pengguna ruang menjadi tidak nyaman, 3) tidak dapat memberikan pencahayaan yang seragam sepanjang hari.
  2. Menggunakan skylight. Skylight merupakan bukaan di bagian atap bangunan yang dapat memasukkan cahaya ke dalam ruangan. Pada ruang yang letak jendelanya tidak tepat atau kurang, penggunaan skylight dapat menambah jumlah cahaya yang masuk ke ruang tersebut.
  3. Mengarahkan cahaya ke dalam ruang. Cahaya yang masuk ke dalam ruang dapat ‘diarahkan’ sehingga ruang dapat terang secara merata. Beberapa cara untuk mengarahkan cahaya dalam ruang adalah dengan memiliki langit-langit miring dan menggunakan lightshelves.
  4. Menggunakan material finishing berwarna terang. Warna terang yang digunakan pada finishing material dalam ruang dapat memantulkan cahaya sehingga ruang dapat terasa lebih terang. Selain warna, kita juga dapat mencari tahu tingkat reflektivitas suatu material (misalnya keramik lantai) sebelum menggunakannya dalam ruang.

Cahaya Artifisial

Di masa lampau, cahaya artifisial didapatkan dengan membakar atau memanaskan sesuatu hingga memunculkan cahaya (lilin, lampu minyak). Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncul juga cahaya artifisial yang menhasilkan cahaya menggunakan listrik (lampu ruangan) atau baterai (senter). Tidak seperti cahaya alami yang tergantung pada keberadaan matahari, keberadaan cahaya artifisial dapat diatur intensitasnya, dapat dinyalakan dan dimatikan sesuai dengan kebutuhan.

Lampu merupakan sumber cahaya artifisial yang paling mudah ditemui. Berikut ini, merupakan jenis-jenis lampu yang biasa digunakan di dalam ruang.

Lampu Pijar

Lampu pijar menghasilkan cahaya dengan cara memanaskan filamen kawat di dalam tabung kaca berisi gas mulia atau tabung kaca kedap udara. Lampu jenis ini sudah dikembangkan sejak tahun 1761, namun baru digunakan secara luas setelah pengembangan yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1878.

Lampu pijar merupakan jenis lampu yang cukup populer karena spektrum cahayanyanya paling mendekati spektrum cahaya dari cahaya matahari. Namun, lampu jenis ini tidak hemat energi karena hanya mengubah 5% dari energi listrik yang diterimanya menjadi cahaya. 95% sisanya diubah menjadi panas.

Lampu Neon

Lampu neon, atau lampu TL (tubular light) atau lampu fluorescent merupakan lampu berbentuk tabung yang biasa digunakan dalam area kantor atau bangunan berskala besar. Selain berbentuk tabung, ada juga lampu neon yang berbentuk bohlam seperti lampu pijar, yang disebut Compact Fluorescent Light (CFL).

Saat terhubung dengan listrik,  uap merkuri yang berada di dalam tabung lampu akan menghasilkan sinar UV bergelombang pendek yang mengaktifkan lapisan fosfor di dalam tabung sehingga berpendar. Meskipun lampu jenis ini lebih mahal dibandingkan dengan lampu pijar, konsumsi energinya lebih efisien, sehingga mengimbangi besar biaya produksinya.

Salah satu kekurangan lampu ini adalah kandungan merkuri di dalamnya yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Selain itu, pada kondisi tertentu seperti komponen yang rusak atau arus listrik yang tidak stabil, lampu ini mudah berkedip (flickering). Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada mata orang yang berada di dalam ruang.

Lampu LED

Lampu LED memiliki lifespan 3 kali lebih lama dibandingkan lampu pijar dan lebih efisien dibandingkan lampu neon. Selain itu, lampu ini juga dapat menyala dengan arus listrik rendah sehingga lebih aman. Namun, lampu ini juga dapat menghasilkan flickering effect akibat arus listrik yang tidak stabil.

Maafaat Cahaya pada Ruang

Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan cahaya kita dipenuhi oleh kedua sumber yang telah disebutkan di atas, yaitu cahaya matahari dan cahaya artifisial dari lampu.

 

*

Baca juga judul lain dari seri ini di sini:

Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Nyaman dalam Ruang #2: Passive Cooling

Nyaman dalam Ruang #3: Polusi Suara

Nyaman dalam Ruang #4: Kualitas Udara dalam Ruang

sumber:

Shishegar, Nastaran & Boubekri, M. (2016). Natural Light and Productivity: Analyzing the Impacts of Daylighting on Students’ and Workers’ Health and Alertness.

Wunsch, Alexander. (2019). Artificial Lighting and Health.

http://www.clearingourpath. ca/site/2.2.2-types-of-lighting_e.php

https://www.wbdg. org/resources/daylighting

https://en.wikipedia. org/wiki/Fluorescent_lamp

https://en.wikipedia. org/wiki/Incandescent_light_bulb

https://www.zeroenergy. org/architectural-considerations/