Posted on Leave a comment

Mindful Journaling: Mari Membuat Jurnal yang Efektif dan Penuh Manfaat

Dunia seni dan kerajinan kini termasuk industri yang sedang booming. Terutama terbantu sekali oleh keberadaan platform seperti instagram, youtube, etsy, moselo, dan aneka sosial media. Instagram, sebagai platform yang sangat memanjakan indra visual pengguna, telah menjadi media yang kondusif untuk mempromosikan segala sesuatu yang memiliki nilai estetika. Namun, di tengah pertumbuhan seni dan kerajinan ini, anak-anak muda (dan yang tidak muda) bisa terjebak dalam mengejar hal-hal yang kurang berarti (pursuit of meaninglessness) seperti trend dan popularitas. Persis seperti bagaimana dulu anak muda terjebak dalam kilaunya dunia musisi, game, entertainment, dan selebriti. Bukan berarti mengasah keterampilan dan sense artistik adalah sesuatu yang tidak terpuji, atau termasuk kebiasaan buruk, bukan. Tentu dalam batas-batas halal dan thayib mencintai keindahan adalah baik. Namun, seperti halnya konsumerisme yang berlebihan, terlalu larut dalam pursuit of art and craft juga bisa berujung pada kecenderungan mengoleksi barang-barang, over-doing, over-editing, over-decorating, dan mengalihkan energi anak muda dari tugas lain yang lebih sulit.

Seni, seperti yang banyak orang ketahui, bukanlah sesuatu yang membutuhkan bakat melainkan latihan, kerja keras, dan creative-thinking. Seni dan kerajinan adalah sesuatu yang bisa dilatih dan diajarkan, artinya semua orang dapat melakukannya. Tentu matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa, dan ekonomi juga bisa diajarkan dan semua orang (jika belajar dengan sungguh-sungguh dengan metode dan mindset yang tepat), akan bisa mempelajarinya. Namun, dengan keberadaan instagram dan semacamnya, setiap produk seni dan kerajinan yang gagal sekalipun akan mendapatkan ‘instant gratification’ berupa likes, follower, dan comment. Dengan demikian, seolah ada insentif bagi seseorang yang melatih seni dan kerajinan di masa kini, dibandingkan melatih matematika dan yang lainnya. Lalu dengan adanya insentif ini, sesederhana likes sekalipun, kini semakin banyak orang yang meminati seni dan kerajinan sekalipun kegiatan ini menyita waktu berjam-jam dalam seharinya.

Hal inilah yang dikhawatirkan akan membawa pada generasi ‘meaninglessness’. Seni dan kerajinan yang tadinya merupakan alternatif positif dari sistem akademis yang dianggap terlalu kaku, juga yang tadinya merupakan media terapi untuk mental health, bisa jadi justru menjadi obsesi baru kebanyakan orang hingga meninggalkan aspek lain yang juga penting. Sungguh, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Journaling dengan aneka variasinya seperti bullet journaling, scrapbooking, sketch-journal, travel-journal dan semacamnya kini juga populer di kalangan pengguna instagram. Menulis sendiri merupakan aktifitas produktif yang sangat dianjurkan oleh pendahulu kita di masa lalu. Rasulullah SAW pernah membebaskan tawanan perang dengan syarat mereka mengajarkan orang-orang Islam membaca dan menulis. Imam Ali ra juga pernah mengatakan pentingnya menulis untuk mengikat ilmu. Kini banyak kita dapati orang-orang penting seperti pemimpin kenegaraan dan pemimpin perusahaan yang menjadikan journaling sebagai bagian penting kesehariannya. Dr. Caroline Leaf dalam bukunya Think, Learn, and Succeed, menyatakan bahwa menulis termasuk salah satu solusi untuk mengatasi aneka bentuk mind issue yang kini menjangkiti masyarakat, seperti anxiety, depresi, insecurity, trauma, self-bully, dan semacamnya. Bahkan dengan menulis dan menyempatkan waktu bertafakur (berpikir), kita akan bisa meningkatkan kapasitas diri hingga di luar yang pernah kita bayangkan dan jauh melebihi yang orang kira tentang diri kita. Dengan banyaknya manfaat journaling ini, Diyfab ingin mengajak Sobat Makers untuk mencoba Mindful Journaling. Yang membedakan Mindful Journaling ini dengan jurnal-jurnal pada umumnya yang kita lihat di instagram adalah kita tidak perlu fokus pada aspek estetikanya sebagai kriteria utama, melainkan aspek manfaatnya. Yes, form follow function in this case.

Berikut beberapa tips yang Diyfab rumuskan untuk mencoba Mindful Journaling:

1. Tentukan Tujuan membuat jurnal dan selaraskan dengan tujuan jangka panjang.

Pastikan bahwa jurnal yang akan kita buat ini akan membantu kita mencapai tujuan, baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang. Ada jurnal yang tujuannya untuk membantu membangun kebiasaan-kebiasaan baru seperti habit-tracking, perencanaan tahunan bulanan mingguan dan harian, atau untuk mencatat konsumsi nutrisi, jurnal finansial, konsumsi media, catatan olah-raga, dan konsumsi social-media setiap harinya. Ada juga jurnal yang bertujuan menangkap ide-ide dari beragam buku yang kita baca, atau beragam seminar yang kita hadiri, atau merangkum dan melakukan sintesa suatu konsep baik itu materi pelajaran sekolah/kuliah maupun yang di luar itu. Ada juga jurnal yang tujuannya untuk mengembangkan ide-ide desain, inovasi, mencatat pertumbuhan tanaman, mencatat resep masakan, mencatat perkembangan anak, dan sebagainya. Ada juga jurnal yang ditujukan untuk terapi seperti jurnal sketsa, jurnal syukur, healing-journal, dan coloring-journal. Ada juga jurnal yang khusus untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, yang luput atau sengaja tidak diberitakan di media. Apapun itu, pastikan jurnal ini ada manfaatnya.

Sebaiknya hindari membuat jurnal bila tujuannya hanya untuk mengikuti trend, mengikuti orang lain, mencatat keburukan orang-orang di sekitar dan menambah pikiran negatif tentang hidup kita, bertujuan untuk pamer gaya hidup, atau bila jurnal itu hanya digunakan untuk membuat kliping keseharian artis favorit (fanbase). Hal-hal semacam itu mungkin terasa menyenangkan/memuaskan, namun hanya mengalihkan perhatian dan energi kita dari hal-hal penting yang bermanfaat untuk masa depan kita; misalnya belajar, bekerja, memecahkan masalah, dan mengerjakan tugas-tugas harian.

2. Tangkap ide-ide dengan cepat pada buku kotretan, atau jadikan coretan Anda sebagai bagian dari seni utama.

Journaling adalah aktifitas kreatif yang memicu kerja otak kita, baik saat proses penulisan maupun proses kreasi hias-menghiasnya seperti yang umumnya dilakukan banyak orang saat ini. Proses kreatif ini seringkali diiringi dengan kemunculan ide-ide brilian, ide-ide unik, dan ide-ide konyol yang harus segera ditangkap. Terkadang dengan aktifitas hias-menghias yang memakan waktu, justru ide-ide yang bermunculan ini tidak bisa dioptimalkan. Pernahkah sobat makers mengalami momen yang terlewat seperti ini? Ketika kita berusaha mengingat-ingat lagi apa ide yang terlupa itu, kita pun mengalami kesulitan. Oleh karena itu para penulis, kreator, inovator, peneliti, dan para entrepreneur seringkali membawa buku saku atau secarik kertas dan pensil kemana pun mereka pergi, termasuk saat berada di rumah. Dengan demikian, sekalipun ide itu datang saat sedang menjadi montir di garasi atau sedang memotong rumput, mereka tetap bisa langsung mengikatnya dengan tulisan. Pastikan kita mendapat manfaat optimal dari menulis jurnal dengan tidak membiarkan proses kreatif dan proses berpikir kita terlewat begitu saja.

3. Alokasikan waktu khusus untuk berpikir dan batasi waktu jurnal Anda agar tetap menunaikan tugas yang lain.

Seperti halnya berucap secara lisan, ataupun berkomunikasi dengan gambar, menuliskan sesuatu pada jurnal juga memerlukan pertimbangan, proses perenungan, dan proses berpikir lebih mendalam. Tentu bila jurnal yang kita buat bersifat pribadi, kita bisa lebih leluasa menuangkan pemikiran kita dan melakukan revisi di waktu yang lain. Atau bila jurnal itu ditujukan untuk menulis lepas dan melakukan brainstorming, maka menulis dengan cepat tanpa pikir panjang bisa jadi pendekatan terbaik. Namun bila jurnal ini ditujukan untuk konsumsi publik, maka penting untuk menyediakan waktu berpikir sebelum, pada saat, dan setelah menuliskan sesuatu. Ada kalanya kita memerlukan refleksi setelah menuliskan satu kalimat, atau setelah menulis beberapa halaman. Dengan menulis, pikiran-pikiran kita akan semakin kaya. Selain itu kita juga memiliki bukti atas apa yang kita pikirkan, dengan demikian kita pun bisa memperbaiki jika pikiran kita itu salah; berbeda dengan proses berpikir verbal dimana seringkali kita lupa dan tidak sadar telah mengutarakan pemikiran yang tidak tepat.

Agar proses berpikir dalam journaling ini bermanfaat, maka kembali apapun yang kita tuliskan harus ada manfaatnya untuk kita dan selaras dengan tujuan. Dengan kata lain, ia juga harus berupa pikiran-pikiran positif terhadap diri, kehidupan, dan pandangan atas dunia secara keseluruhan. Saat ini kita memang hidup pada masa yang penuh fitnah, pada dunia yang penuh dengan keanehan-keanehan, dan hari-hari di mana banyak kesulitan dan kesedihan terjadi. Menyadari hal-hal itu, mewaspadai kemungkinan-kemungkinannya, dan mencari solusi konkret dari masalah yang ada adalah hal yang penting. Bukan berarti isi jurnal kita harus serba pelangi dan bunga-bunga. Namun semua itu tetap harus dilakukan dengan optimisme dan sifat pantang menyerah. Pikiran negatif dan keputus-asaan hanya akan melukai diri kita, menghilangkan tenaga dan waktu kita, serta menjauhkan kita dari tujuan. Dengan demikian, manfaat journaling juga menjadi hilang bila hanya diisi dengan negativity.

Juga, batasi waktu jurnal Anda agar tidak lalai dari tugas-tugas yang lain. Sekalipun pekerjaan kita adalah penulis penuh waktu, tentu ada juga target-target yang harus diselesaikan selain mengisi jurnal. Apalagi bila ada tugas belajar dan tugas bekerja yang harus diselesaikan. Dengan demikian kita juga tidak perlu berlebihan dalam menjadikan setiap halaman jurnal kita sebagai mahakarya seni. Tentu tidak dilarang membuat format, tema, dan standar estetika tertentu dalam Mindful Journaling, namun sepantasnya saja. Jangan lupa nasihat yang sangat penting: Moderation is key.

4. Sediakan ruang kosong untuk umpan balik (feedback) atau tindak lanjut (follow up) dari catatan yang Anda buat.

Mindful Journaling selalu berkaitan erat dengan pertumbuhan kita, perjalanan hidup kita, dengan target dan tujuan kita. Dengan demikian ia adalah sebuah proses yang mungkin memerlukan umpan balik dan tindak lanjut di kemudian hari. Umpan balik ini bisa diselipkan, atau ditambahkan pada ruang-ruang kosong yang disediakan dalam jurnal kita.

5. Evaluasi apakah jurnal yang Anda buat membantu mencapai tujuan atau justru melalaikan dari tujuan, lalu buat perbaikan pada entri selanjutnya.

Setiap periode tertentu, kita bisa mengevaluasi kembali apakah jurnal yang kita buat sudah sesuai dengan manfaat yang kita butuhkan atau ternyata kurang bermanfaat. Hal ini bisa dinilai dengan pencapaian tujuan/target kita sebagai parameternya. Misalnya, apakah jurnal matematika yang kita buat membantu kita memahami konsep, atau ternyata kita perlu lebih banyak latihan-latihan daripada memperbanyak rangkuman konsep. Atau apakah jurnal tanaman kita sudah mencatat aspek-aspek penting atau justru yang tercatat adalah komponen-komponen yang kurang berpengaruh dalam proses menanan di kemudian hari. Demikian seterusnya. evaluasi ini juga membantu agar proses journaling kita tidak sia-sia dan justru menjadi lebih baik dari hari ke hari. Selalu lakukan perbaikan-perbaikan.

——————
Wallahua’lam bisshowab. Bismillah.
Selamat membuat jurnal dan semoga bermanfaat!

-Diyfab

Please Login to Comment.

thirteen + 9 =