Posted on Leave a comment

Meningkatkan Adaptability Creativepreneur dengan Blue Ocean Strategy

Disclaimer: Halaman ini mungkin menampilkan iklan. Semua Iklan yang ditampilkan tidak berafiliasi dengan Diyfab. Mohon laporkan kepada admin melalui laman ini, apabila ditemukan iklan yang kurang berkenan. Terima kasih.
—-

Seri Creativepreneur – Ramadhan 1442 H

Adaptability adalah salah satu kunci keberhasilan Creativepreneur, baik yang baru memulai maupun yang sudah bermain cukup lama. Kenapa harus mampu beradaptasi? Berapa banyak UMKM Indonesia yang ‘dimakan’ oleh para ‘pemain’ dropshipper dan para pemilik toko palugada marketplace yang menggunakan strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi atau Matikan)? Saya sendiri tidak begitu paham apakah strategi ini masih masuk persaingan yang sah dan fair, atau sudah termasuk bentuk persaingan tidak sehat. Silakan para pembaca menilai sendiri dari contoh yang saya paparkan.

Dikisahkan ada anak muda bernama Hogo, seorang trainer dropshipping yang menebar ilmunya di Youtube. Ia menebar ilmu di Youtube karena ingin menyelamatkan para newbie dari jeratan mafia kelas dropshipping berbayar. Berkat kebaikan hatinya, khalayak ramai pun jadi mengetahui aneka ‘trik bermanfaat’ yang sebelumnya disembunyikan oleh ‘mastah-mastah’ dalam kelas-kelas berbayar itu. Menurutnya, sangat mungkin bagi toko baru dan para pemula, khususnya para dropshipper pemula, untuk menang bersaing di marketplace yang katanya kini ‘crowded’ dengan persaingan berdarah. Banyak strateginya, dimulai dari strategi mencari produk yang sedang trend, kemudian mengetahui cara menggunakan iklan, dan juga cara dropship agar ‘selamat’ dari ban/larangan penyedia platform.

Salah satu trik yang sering diulang oleh para trainer dropshipping, baik Hogo maupun lainnya, adalah strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Sering dengar? Berikut kutipan training Hogo:

“Jadi begini teman-teman juragan… Nanti juragan bisa masuk ke (Marketplace) lalu cari produk yang ingin juragan jual. Misalnya produk ‘daster payung’, ketik di sini lalu klik cari. Kemudian lihat yang sudah ada ulasannya. Misalnya ini nih… sudah terjual seribu produk lebih. Nah, ini bisa nih. Nanti temen-temen lakukan ATM. Amati, Tiru, Modifikasi. Temen-temen tiru persis aja di sini. Judulnya tiru samain aja, deskripsinya samain aja, semuanya samain. Nah harganya, untuk awal, temen-temen pasang harga lebih murah dulu. Lalu temen-temen pasang iklan. Iklannya iklan kata kunci dan iklan produk serupa. Saat mau bayar kan nanti pembeli lihat ke bawah tuh… Nanti muncul deh produk serupa, yaitu produk juragan yang harganya lebih murah. Pasti laku. Kalau sudah ada ulasan, bisa naikan harga 10% di atas supplier tapi iklan juragan harus terus jalan. Dijamin deh. Kalau masih rugi juga, ga ada yang beli juga, berarti produknya bukan yang sedang trend. Kuatin lagi dan perlaiki lagi metode cari-cari produknya.”

Bagaimana komentar pembaca yang budiman dan budiwati terkait ‘ilmu’ di atas? Apakah strategi tersebut betul-betul Amati Tiru Modifikasi, atau justru Amati Tiru Matikan?

Apapun itu, hasilnya adalah terjadinya persaingan harga ‘berdarah-darah’ di semua marketplace, yang membuat gerah pelaku usaha UMKM. Menurut hemat kami, strategi di atas bukan cara untuk menang bersaing di marketplace yang katanya kini ‘crowded’ dengan persaingan, melainkan justru strategi untuk menciptakan persaingan ‘berdarah’ yang lebih crowded lagi. Terlepas dari kondisi tersebut, UMKM harus bisa beradaptasi dan tetap unggul apapun iklimnya. Apalagi Creativepreneur, karena bukan ‘kreatif’ namanya jika tidak bisa beradaptasi untuk menjadi lebih unggul.

Unggul dengan Blue Ocean Strategy

Salah satu yang mungkin bisa membantu para Creativepreneur di luaran sana untuk bisa bertahan bahkan menjadi unggul di iklim yang sedemikian adalah dengan menggunakan Blue Ocean Strategy. Mau tidak mau, creativepreneur harus keluar dari Red Ocean menuju Blue Ocean. Red Ocean adalah kolam yang penuh sesak dengan banyak ikan hingga berebut makanan dan berebut oksigen di dalamnya. Sementara itu Blue Ocean adalah samudra yang masih biru, yang tidak sesak oleh ikan-ikan.

Memang kita sebagai muslim meyakini bahwa selama ada makhluk tercipta, pasti kebutuhan-kebutuhannya itu dijamin oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Namun tetap bumi ini harus dikelola dengan baik oleh manusia, karena manusia-lah yang diberi tugas untuk mengelola itu. Salah satu cara mengelolanya adalah dengan berikhtiar, berusaha, mengatur, menanam, memperbaiki, merawat, beritikad baik, dan salah satu strategi ikhtiarnya bila menjadi pengusaha adalah dengan positioning ini. Wallahua’lam.

Kembali ke strategi untuk keluar dari Red Ocean ke Blue Ocean, bagaimana caranya ya?

Blue Ocean Strategy adalah judul buku tentang ‘positioning’ yang menjadi salah satu buku utama yang disarankan untuk dibaca oleh para pengusaha. Menurut kami buku ini cukup membuka mata, bahwa berkutat dengan issue ‘scarcity’ atau ‘kelangkaan’ seperti yang diajarkan pada mata pelajaran ekonomi di sekolah-sekolah, hanya akan membuat pengusaha takut bersaing, takut menggunakan dan mengelola sumber daya, takut sedekah, juga takut mencoba hal baru. Sebaliknya, buku ini justru mengajak pengusaha untuk tidak takut bersaing. Sesuai dengan subjudul buku tersebut, buku Blue Ocean Strategy membahas bagaimana menciptakan ruang pasar yang belum di masuki pesaing (atau yang ditinggalkan) dan membuat persaingan tidak relevan.

Pasar Potensial

Ada banyak contoh dalam buku ini yang menunjukkan bahwa strategi Blue Ocean ini bisa digunakan, baik oleh pemain baru maupun pemain lama, agar bisa meraih pasar potensial. Apa itu pasar potensial? Pasar potensial adalah pasar yang belum tersentuh oleh produk yang ada, namun sebenarnya memiliki kebutuhan atas produk tersebut dan daya beli yang cukup namun tidak pernah mencoba produk tersebut. Pasar potensial bisa juga pasar tertentu yang sudah pernah mencoba suatu produk tetapi kapok setelah mencoba karena beberapa alasan tertentu. Ada yang alasannya di harga, ada yang alasannya karena perlu waktu lama untuk memperoleh produk tersebut, ada yang alasannya karena manfaat yang ia peroleh tidak sesuai dengan harga yang ia bayarkan ataupun janji yang diiklankan. Ada beragam alasan. Alasan-alasan inilah justru peluang bagi kita pengusaha untuk membuat diferensiasi produk, yang menjawab hambatan, problem, atau kesusahan pasar potensial itu tadi.

Enam Prinsip Utama dari Blue Ocean Strategy

1. Merestrukturisasi batas-batas pasar.
2. Fokus pada Gambaran Umum, bukan angka.
3. Meraih pasar di luar permintaan pasar yang ada.
4. Membuat runutan strategi yang tepat.
5. Mengatasi kesulitan atau problematika organisasi yang utama
6. Menyusun eksekusi ke dalam strategi.

Strategy Canvas

Dalam buku Blue Ocean Strategy, penulis W Chan Kim dan Renee Mauborgne mencontohkan apa yang disebut dengan Strategy Canvas. Strategy Canvas ini digunakan pengusaha untuk mengidentifikasi kompetitor langsung (dan tidak langsung yang signifikan) yang sudah memenuhi Red Ocean, lalu mengidentifikasi keunggulan dan kekurangan produk atau jasa dari kompetitor tersebut. Kelebihan dan kekurangan ini bisa dilihat dari rasa, harga, kemasan, ketahanan, penggunaan istilah, marketingnya, cara distribusinya, jenis variasi produknya, kemudahan mendapatkan, kemudahan menggunakan, kemudahan memilih, kepedulian lingkungan, kepedulian sosial, ataupun image seperti ‘fun’, ‘adventure’, ‘cool’, ‘efficient’, ‘fast’, dan semacamnya. Misalnya pengusaha produk minuman ingin menembus pasar dengan kondisi persaingan seperti berikut:

Dari sana perusahaan bisa masuk ke perumusan strategi apa yang akan dia ambil menggunakan alat yang disebut Strategy Matrix.

Strategy Matrix

Dari perumusan strategi matrix yang dilakukan, perusahaan produk minuman di atas lalu mindahkan strateginya itu dari Strategy Matrix ke dalam Strategy Canvas untuk memperlihatkan kontras atau diferensiasi dibandingkan produk yang sudah ada. Berikut contohnya:

Mereka memasang harga jual produk yang lebih tinggi daripada kompetitor termurah, namun diimbangi dengan image di atas produk termurah itu. Juga di saat yang sama memiliki kemampuan produksi dengan biaya yang lebih rendah. Artinya mereka bisa memperbesar margin atau profit per produknya. Mereka juga menambahkan value atau kualitas lain berupa kemudahan mengkonsumsi, kemudahan memilih, dan juga value emosional berupa image ‘fun’ dan ‘adventure’.

—–
Sekian dulu sharing teknik positioning Creativepreneur untuk bisa meningkatkan adaptability menggunakan Blue Ocean Strategy. Semoga bermanfaat!

Please Login to Comment.

twenty + eight =