Posted on Leave a comment

Membuat “To-Do-List” yang Efektif bagi Insan Produktif, termasuk Creativepreneur

Disclaimer: Halaman ini mungkin menampilkan iklan. Semua Iklan yang ditampilkan tidak berafiliasi dengan Diyfab. Mohon laporkan kepada admin melalui laman ini, apabila ditemukan iklan yang kurang berkenan. Terima kasih.

Seri Creativepreneur – Ramadhan 1442 H

Kebanyakan dari kita sebenarnya adalah Insan Produktif; jika kita menjalankan tugas-tugas harian dengan baik serta bisa menghindarkan diri dari hal-hal yang kurang bermanfaat. Seorang ibu rumah tangga yang mengerjakan tugas-tugasnya dan tidak tergelincir menggosip, nonton drama 8 jam, ataupun ketagihan belanja online, adalah insan produktif. Seorang kepala keluarga yang bekerja mencari nafkah serta mengerjakan tugas-tugas harian lainnya tanpa tergelincir main game, nonton debat politik tiada akhir, dan nonton Netflix berjam-jam, adalah insan produktif. Seorang anak yang mengerjakan tugas-tugasnya belajar dan membantu orang tua serta tidak tergelincir main game, scrolling komik online berjam-jam, atau terjebak channel-channel tak bermanfaat, juga termasuk insan produktif.

Jika kita mengurai tugas dari masing-masing orang tersebut, lalu merincinya ke dalam to-do-list, tentu daftar itu akan sangat panjang sehingga dengan hanya melihatnya saja kita sudah lelah duluan. Dengan demikan, membuat to-do-list pun ada ilmunya, dan tidak semua hal perlu kita masuk-kan ke dalam to-do-list. Hal yang menjadi kebiasaan tidak perlu kita masukkan ke dalam to do list.

Urgensi Kebiasaan di Era Disrupsi

Pada artikel-artikel sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana membangun kebiasaan. Banyak orang belum menyadari bahwa kebiasaan itu harus dibangun dari diri sendiri. Orang tua mungkin masih bisa mencoba menerapkan kebiasaan-kebiasaan pada anak-anak ketika anak itu masih kecil. Akan tetapi, orang tua sehebat apapun pada hakikatnya tidak memiliki kuasa atas keputusan anaknya, apalagi segala keputusan-keputusan kecil yang ia pilih setiap harinya. Waktu dan tenaga orang tua sangat terbatas, tidak mungkin ada yang bisa mengawasi anak-anaknya selama 24/7.

Keputusan setiap orang dari hari ke hari itulah yang kelak akan membentuk kebiasaan. Di kemudiaan hari bila si anak itu tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan buruk pun, keinginan untuk berubah hanya akan efektif bila muncul dari dalam diri sendiri, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Orang tua bisa memberikan fasilitas, motivasi, mendatangkan konsultan ataupun guru-guru terbaik, namun bila tidak ada keinginan berubah dari dalam diri, tidak akan terjadi perubahan. Hal ini berlaku juga pada orang dewasa. Banyak orang mengira dirinya memiliki kemampuan untuk merubah orang lain. Padahal sama sekali tidak. Semua itu ada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala, sementara kita manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a.

Membangun kebiasaan amatlah penting apabila kita ingin tetap bisa menunaikan tugas-tugas harian di era disrupsi ini. Tahukah Sobat Makers sekalian bahwa kita saat ini sedang berada di era disrupsi? Disrupsi artinya pengalih perhatian. Di era ini kita hampir sepanjang waktu memegang handphone, menggunakan gadget yang penuh dengan stimulus, mulai dari dering telpon, notifikasi whatsapp, notifikasi media sosial, notifikasi marketplace, alarm pribadi, hingga konten-konten yang menarik minat dan menyita waktu kita seperti youtube, podcast, koran online, artikel blog, webtoon, wattpad, Instagram, telegram, email, Netflix, tiktok, berita-berita receh, dan aneka meme. Belum lagi bila kita berpergian lalu panca indera kita dibombardir oleh iklan dalam bentuk jingle (di mini-market misalnya), billboard, banner, poster, teriakan pedagang keliling, hingga selebaran angsuran kredit motor yang ditebar di jalanan.

Jika kita tidak membangun pondasi kebiasaan yang kuat, juga target progress harian yang kokoh, maka dapat dipastikan perhatian kita akan tersita oleh disrupsi-disrupsi di atas. Selain untuk membentengi diri dari godaan disrupsi, kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun pun berfungsi untuk membuat sekat-sekat pada waktu-waktu kita. Sedemikian agar kita semakin sadar betapa terbatasnya waktu kita. Juga betapa tidak mungkin seseorang bisa melakukan semua hal yang ia inginkan. Harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang diprioritaskan.

Lantas apa itu to-do-list dan apa fungsinya?

To-do-list lebih berfungsi untuk mencatat tugas-tugas dalam suatu proyek atau program, serta tugas-tugas di luar kebiasaan harian. Misal, memperbaiki keran yang tidak rapat, bisa dimasukan ke dalam to do list karena hanya terjadi saat itu, bukan terjadi setiap hari. Pergi ke dokter gigi, memperbaiki jahitan karpet, dan menambal atap yang bocor, semuanya itu dapat dimasukkan ke dalam to-do-list. Kegiatan mingguan juga bisa dimasukkan ke dalam to do list, bila kita sendiri masih kewalahan dengan membiasakan tugas harian.

Selain itu, to-do-list juga bisa diisi dengan tugas-tugas progresif terkait suatu proyek atau program. Misalnya proyek kita adalah membangun channel youtube, maka langkah-langkah dari awal hingga akhir untuk bisa membuat channel youtube ini bisa dimasukkan ke dalam to-do-list. Misalnya kita perlu (1) membuat logo dan nama channel, (2) membuat akun, (3) membuat deskripsi, (4) merumuskan konten, (5) merumuskan target audience, (6) menulis script, (7) membuat atau mencari prop, (8) pergi ke lokasi shooting, (8) perekaman video, (9) edit pasca-produksi, dan (10) upload ke youtube.

Terkait penulisan to-do-list ini, ada sebuah saran berharga dari Ivy Lee yang pernah diterapkan oleh Charles M Scwab pada perusahaan Bethlehem Steel. Yaitu, untuk mengoptimalkan tujuan penulisan to-do-list, batasi hanya dengan menuliskan maksimal 6 daftar setiap harinya. Daftar ini diurutkan dari yang paling penting ke yang kurang penting. Lalu harus dikerjakan berurutan. Hanya ketika daftar nomor satu sudah selesai, kita boleh mengerjakan tugas nomor dua.

Batasi hanya dengan menuliskan maksimal 6 daftar setiap harinya. Daftar ini diurutkan dari yang paling penting ke yang kurang penting. Lalu harus dikerjakan berurutan. Hanya ketika daftar nomor satu sudah selesai, kita boleh mengerjakan tugas nomor dua.

Bila keenam tugas itu sudah selesai, kita boleh menambahkan satu per satu tugas lainnya. Namun, jika daftar di hari itu masih ada yang tersisa pada akhir hari (misalnya jam 5 sore atau jam 8 malam tergantung jadwal pribadi), maka tugas yang tersisa bisa kita masukkan ke to do list keesokan harinya. Intinya, jangan terlalu ‘kejam’ pada diri sendiri dengan menetapkan 20 to-do-list atau bahkan 100 to-do-langsung. Melihatnya saja mungkin sudah membuat penat.

Dari proyek membuat channel youtube di atas, misalnya, kita hanya menuliskan tugas nomor 1 sampai 6 saja yakni membuat nama hingga menulis script pada hari pertama. Bila masih ada waktu bisa dilanjutkan dengan nomor 7, jika kurang waktu maka bisa dilanjutkan keesokan harinya. Dengan membatasi hanya 6 saja, juga fokus menyelesaikan satu demi satu tugas, kita bisa lebih ringan dalam pelaksanaannya. Namun juga bukan berarti memperlambat pekerjaan karena ingin menunda mengerjakan tugas yang dirasa ‘sulit’ atau karena ingin rebahan. Jika demikian, maka yang menjadi masalah adalah etos kerja. Ketika etos kerja bermasalah, membuat to-do-list atau tidak pun tidak akan berpengaruh. Metode Ivy Lee di atas terbukti meningkatkan produktivitas pabrik BS.co hingga menjadi produsen besi kedua terbesar di amerika pada masanya. Wallahua’lam.

Please Login to Comment.

4 × 4 =