Posted on Leave a comment

5 Tips untuk Bangun Lebih Awal dan ‘Mencuri Start’ di Keberkahan Pagi

Banyak orang mengira ia bisa melakukan banyak hal dalam satu tahun, namun di saat yang sama ia mengecilkan banyaknya yang bisa ia raih dalam lima belas tahun.

Sungguh ironis ketika kita menyadari bahwa kutipan di atas ada benarnya. Kebanyakan orang menginginkan segala sesuatu yang serba instan, sehingga kurang mempertimbangkan potensi besar dari pencapaian jangka panjang. Terkadang saking ingin instan-nya, seseorang mengira ia bisa melakukan banyak hal dalam satu hari, atau bahkan satu malam, atau satu jam! Tidak mengherankan bila banyak pelajar dan mahasiswa yang terjebak dengan Sistem Kebut Semalam (SKS). Tidak mengherankan juga ketika banyak orang kemudian kewalahan akibat mengira bisa mengerjakan segala hal dalam sehari, juga karena menuntut orang lain melakukan segala hal dalam waktu singkat.

Waktu adalah salah satu ‘harta’ manusia yang paling berharga. Ia diberikan kepada semua orang sesuai jatahnya dan semuanya akan ditanya terkait waktu yang dimilikinya itu. Kita semua melalui waktu kurang dari 24 jam dalam sehari. Sebagian di antaranya diisi dengan tidur. Tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang membutuhkan tidur, bukan? Termasuk seorang muslim. Sebab seorang muslim pun masih tetap manusia, bukan mesin. Oleh karena itu, sekalipun para ulama mengajarkan pentingnya menghidupkan malam dan sedikit tidur, beliau-beliau juga menekankan pentingnya tidur itu sendiri. Seperti halnya sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, yang mengingatkan Abu Darda radhiyallahu ‘anhu bahwa tubuh kita sendiri juga memiliki hak untuk beristirahat.

Karena sifat waktu yang begitu terbatas dan pentingnya tidur yang cukup, maka kami mengikuti pendapat bahwa yang terbaik adalah bangun lebih awal dan ‘mencuri start’ di awal hari, dibandingkan memperlama ‘bekerja’ di akhir hari lalu tidur di akhir malam dan bangun lebih siang. Kenyataannya secara konseptual, pandangan ini diterima oleh banyak orang. Namun pada prakteknya, masih sangat sedikit yang berhasil mengimplementasikan konsep ini, apalagi di era ‘rebahan’ dan era ‘disrupsi’ ini.

Berikut 5 tips sederhana untuk bangun lebih awal dan memulai hari lebih awal.

1. Tuliskan target esok hari sebelum tidur.

Seseorang yang memiliki target terdengar seperti seseorang yang terlalu ambisius di kalangan sebagian generasi muda saat ini. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki tujuan besar dalam hidup tentunya memahami betapa pentingnya target harian. Apabila seseorang berkata tujuannya adalah surga, yang mana ia sangat mahal dan merupakan tujuan yang sangat besar, maka sudah sewajarnya ia memiliki target harian dan tidak membiarkan hari-hari berlalu begitu saja. Seseorang yang mempunyai target tentunya kan mengisi hari-hari dengan ‘menyingsingkan lengan baju’ dan berusaha, bukan hanya dengan duduk-duduk santai, melakukan yang tidak bermanfaat, apalagi terus rebahan.

Sebelumnya kita sudah membahas pentingnya ‘to-do-list’ dan ‘kebiasaan’ dalam Serial Creativepreneur. Yang dimaksud dengan ‘target harian’ dalam tips kali ini bisa berupa daftar ‘to do list’ untuk esok hari, atau bisa juga berupa pencapaian dalam memenuhi kebiasaan harian yang desang difokuskan (misalnya menghafalkan 2 halaman Al-Qur’an, atau semacamnya), semua tergantung pada pribadi masing-masing. Target itu harus bisa terukur kerberhasilannya dan harus dituliskan sebelum kita bersiap-siap beristirahat. Hal ini akan membuat kita dalam kondisi siap untuk mengeksekusi rencana ketika kita terbangun, tanpa perlu meraba-raba kembali apa saja yang harus dilakukan di hari tersebut.

2. Istighfar sebelum tidur sebanyak-banyaknya.

Tiada seorang pun yang bisa menjamin bahwa dirinya tidak berbuat salah pada hari itu. Jika Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam mencontohkan istighfar tujuh puluh kali dalam sehari, atau seratus kali dalam sehari, maka tentunya kita yang banyak salah ini harus sungguh-sungguh beristighfar lebih banyak lagi dari pada itu. Semoga kita mampu melakukannya dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kita semua. Aamiin.

3. Berwudhu dan berdoa.

Mengambil wudhu adalah salah satu yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur. Demikian pula berdoa, membaca dzikir harian, membaca ayatul Kursi, surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas.

4. Tidur lebih awal.

Tidur lebih awal, uniknya, seolah telah menjadi ‘kendala’ serius di kalangan generasi muda saat ini. Banyak orang kesulitan untuk tidur lebih awal. Terutama bila sedang ‘terjebak’ marathon serial drama tertentu, atau sibuk main game, atau karena banyak pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan saat itu. Tentunya ada alasan yang wajar dan ada alasan yang dibuat-buat. Ada yang menganggap tidur lebih awal itu kurang keren. Ada juga yang menetapkan dirinya ‘nocturnal’ padahal tidak Allah ciptakan dengan karakteristik seperti kelelawar, berang-berang, ataupun burung hantu. Ada juga yang memang waktu bersosialisasi dengan teman-temannya secara online dijadwalkan di malam hari. Dan banyak alasan lainnya, wallahu a’lam.

Apapun alasannya, jika kita baru mulai membiasakan bangun lebih awal (sebelum subuh), juga sedang membiasakan tidak tidur setelah subuh, maka ada baiknya mencoba tidur lebih awal. Tidak harus segera tidur selepas Isya, namun usahakan jangan tidur lebih malam dari pukul 22.00. Tidur di awal malam dari sisi medis penting untuk pembentukan sel darah merah. Selain itu juga penting untuk mengembalikan siklus circadian yang telah bergeser akbiat seringnya begadang dan tidur di pagi hari. Tidak ada solusi dari kurang tidur malam selain daripada tidur itu sendiri, dan tidur di malam hari tidak bisa digantikan dengan tidur di pagi hari karena kualitas yang dirasakan oleh tubuh akan berbeda. Juga tidur sejenak di siang hari tidak bisa digantikan dengan tidur di waktu yang lain. Wallahua’lam. Lagi-lagi, prakteknya memerlukan disiplin ekstra daripada sekedar berteori.

5. Bacaan rutin ketika bangun tidur.

Dari Kuraib, Maula Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, katanya Ibnu ‘Abbas bercerita kepadanya: “Pada suatu malam dia tidur di rumah bibinya, Maimunah, Ummul Mu’minin. Dia tidur melintang Kasur, sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya memanjang Kasur. Beliau tidur hingga lebih kurang sampai pertengahan malam. Setelah itu beliau bangun sambil menyapu kantuk dari mukanya. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat penghabisan Surat Ali Imran. Sesudah itu beliau pergi ke tempat air, lalu beliau berwudhu dan membaguskan wudhunya, sesudah itu beliau shalat. Kata Ibnu ‘Abbas, ‘’Aku pun bangun dan kulakukan pula pekerjaan seperti yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Tetapi beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Mula-mula beliau shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, dan kemudian witir (satu rakaat). Sesudah itu beliau berbaring hingga terdengar muadzin melantangkan suaranya untuk adzan Subuh. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bangun, lalu shalat ringkas dua rakaat, sesudah itu beliau pergi (ke masjid) shalat Subuh.’’ HR Muslim No.738

Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu katanya: ‘’Bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur beliau membaca do’a: ‘’Allahumma bismika ahya wa bismika amutu.’’ Dan apabila beliau bangun beliau membaca: ‘’Alhamdulilllahilladzi ahyana ba’da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.’’ (HR. Muslim 2333)

——————-

Please Login to Comment.

eighteen − 2 =