Posted on Leave a comment

Minimalism Kembali Lagi, namun Tidak Semua Minimalism itu Sama (Part 2: Finance & Digital)

Seri artikel ini membahas minimalism dari beberapa sudut pandang yaitu (1) minimalism dalam seni, aesthetic, dan arsitektur; (2) financial minimalism; (3) digital minimalism; (4) minimalism dan environmentalism; dan (5) simplified experientialism.

2. Financial Minimalism

Financial minimalism cukup mudah dicerna karena intinya adalah hidup sehemat mungkin agar bisa menabung atau menginvestasikan 90% dari pendapatan. Banyak, sangat banyak youtuber yang mempromosikan financial minimalism. Secara garis besar pesan yang dibawa sangat masuk akal, bahwa kita tidak perlu mengkonsumsi makanan yang harganya paling mahal di supermarket, bahwa kita tidak perlu membeli seratus pakaian ketika kita hanya menggunakan sepuluh set, bahwa kita tidak perlu punya enam monitor ataupun sepuluh handphone, juga kita tidak perlu memiliki benda yang hanya dipakai sekali saja. Namun, apa yang akan terjadi bila kita perlu membeli gunting, misalnya? Hmm, cukup bersabar dan pakai pisau dapur saja. One device for all your needs! Atau yang paling jadi andalan pengadopsi minimalism: pinjam atau sewa. Ingat slogan the great reset? You will own nothing and you’ll be happy.

Sangat mudah untuk menjaga apartemen tetap empty, seperti yang diinginkan para minimalis, ketika pekerjaannya adalah seperti para youtuber slash financial influencer, yakni… youtuber yang membuat konten finansial. Perangkat yang dibutuhkan hanyalah: (1) diri sendiri, (2) kostum, seringkali cukup kostum atasan saja, bawahan pakai training tidak apa-apa, (3) peralatan kamera, webcam, microphone, tripod, mic holder, sound card, lampu, (4) laptop, (5) konten finansial dalam laptop, (6) studio editing video dalam laptop, (7) studio editing audio dalam laptop, (9) studio youtube dalam laptop, (10) koneksi internet, dan (11) listrik. Peralatan ini bisa disebut minimal dan bisa disimpan dalam satu sudut kerja. Namun, tantangan menjaga apartemen tetap empty dan financial expenditure tetap minimal akan meningkat seiring dengan jenis pekerjaan; juga seiring dengan jumlah tanggungan atau penghuni apartemen.

Financial minimalism intinya hemat, hemat, hemat. Tapi jangan salah, yang di-minimalkan hanya pengeluarannya saja. Tidak satupun promotor minimalism yang meminimalkan pendapatan. Iya tidak? Artinya kita juga harus waspada bahwa mungkin financial minimalism yang sangat ekstrim sebenarnya hanyalah glorified greedy economic principle, yaitu pendapatan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran sesedikit mungkin. Sebagian influencer konsep financial minimalism di Timur dan Barat mungkin tidak akan memberikan saran untuk melakukan sedekah setiap subuh, wakaf, ataupun infaq. Mungkin juga nanti mereka baru akan bagi-bagi sedekah, setelah selevel philantrophist dengan cara bikin yayasan bersumber crowdfunding abadi. Atau mungkin mereka sudah sangat dermawan dengan cara mereka sendiri. Wallahua’lam.

Mengapa financial minimalism begitu populer? Karena kebalikannya adalah boros dan boros adalah teman-nya setan. Financial minimalism muncul setelah banyak anak muda merasakan sulitnya mengelola keuangan akibat konsumerisme. Konsumerisme ini salah satunya direpresentasikan dengan istilah the daily latte. Banyak rumah tangga terlilit hutang juga tertimpa kesulitan akibat sifat boros. Dampak konsumerisme begitu besar pada generasi millenial dan generasi z, sehingga financial minimalism mendapat tempat istimewa di hati generasi muda.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dari financial minimalism. Pertama, generasi muda harus tahu bahwa resourcefulness (keberdayaan, kemandirian, berdikari) seringkali memerlukan alat dan biaya, dan terkadang berarti harus mengambil resiko. Terus menerus berhemat tanpa tahu apa ujungnya tidak akan ada gunanya, karena kita tidak tahu usia kita. Juga, ketakutan mengambil resiko hingga tidak ada pengeluaran sama sekali, terkadang justru membatasi pertumbuhan kita. Misalnya, kita menabung sekian lama namun takut membeli laptop, sehingga kita tidak bisa mengerjakan tugas kita tanpa meminjam laptop orang lain yang akibatnya menghambat diri dan orang lain. Atau misalnya, kita tahu kita membutuhkan motor untuk berkeliling menjajakan keripik pisang agar mendapat jangkauan lebih luas, namun kita memilih tetap berjalan kaki karena takut membeli barang mewah alias motor itu tadi.

Banyak contoh lainnya, tetapi sebaiknya permisalan ini digunakan untuk mengukur diri sendiri, bukan orang lain… Mungkin banyak contoh serupa pada orang lain di sekitar kita, namun bisa jadi situasinya berbeda. Bisa jadi yang kita lihat tetap berjalan kaki itu karena ternyata ia menabung untuk biaya berobat orang tuanya. Bisa jadi yang kita lihat pinjam laptop terus itu karena memang tabungannya belum cukup atau karena ia baru saja diberhentikan dari pekerjaannya. Wallahua’lam.

Juga berhati-hati agar tidak masuk jebakan keborosan dengan dalih investasi, seperti yang banyak dijadikan jurus kojo oleh para penjual alat-alat, barang branded, buku, kursus, skema investasi, dan seminar. Semoga kita semua lebih waspada dan lebih baik lagi.

Kedua, generasi muda harus tahu bahwa terus-menerus menabung dan melupakan ‘belanja’ bukanlah apa yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah saw mengajarkan kita untuk memberi kepada keluarga, kepada tetangga, kepada kerabat, kepada orang miskin sesuai dengan kapasitas kita dengan sikap yang pertengahan, yaitu tidak boros dan tidak kikir. Yang membedakan kapitalisme dan ekonomi Islam adalah mindset bahwa sedekah itu menumbuhkan, bukan mengurangi. Sulit untuk mengukur keborosan dan kekikiran ini jika tidak berhubungan dengan apa yang kita miliki, sehingga sebaiknya hindari menilai orang lain dan sibukkan diri dengan mengukur diri sendiri. Bila kita tahu fakta seseorang yang selalu makan di luar lalu banyak berutang, dan dia adalah orang dekat kita atau yang kita kenal, maka bisa beri saran dengan perlahan. Namun secara garis besar, mind your own business. Selalu berdo’a agar kita sendiri bisa seimbang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw dan agar kita mudah menjalani hisab di yaumil akhir. Aamiin.

3. Digital Minimalism

Rupanya tidak hanya kehidupan kita di dunia nyata yang penuh dengan clutter, namun juga dunia maya. Pertanyaan yang perlu kita arahkan kepada diri sendiri, diantaranya: (1) berapa banyak gadget yang kamu punya? (2) berapa banyak aplikasi yang kamu gunakan? (3) berapa banyak aplikasi serupa yang tetap kamu install dalam gawai? (4) berapa banyak akun media sosial yang kamu kelola? (5) berapa banyak kontak yang harus kamu hubungi setiap hari? (6) berapa banyak fotomu yang tersebar di internet? (7) berapa banyak langganan berbayar di dunia maya? (8) berapa banyak ebook dan pdf yang sudah di-download namun tidak pernah dibaca? (9) berapa banyak produk budaya seperti lagu, film, dan game yang memenuhi hardisk-mu? (10) berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk itu semua?

Kita akan terkejut ketika ternyata sudah ribuan hingga puluhan ribu foto diri kita tersebar di dunia maya. Semua dibagikan secara gratis. Kita juga akan heran dengan banyaknya foto dan video yang belum tersebar ke internet namun memenuhi memori handphone kita. Ketika membuka laptop atau komputer, ternyata hard disk kita selalu penuh dan laptop terasa berat karena banyaknya program dan files yang memenuhinya. Terkadang kita sendiri tidak bisa menemukan dokumen yang kita butuhkan saking banyaknya folder yang berantakan. Kemudian kita juga menjadi ‘cultural people’ yang mengkonsumsi lagu, buku-buku, film, game, dan aneka produk budaya lainnya; lebih banyak mengkonsumsi daripada berproduksi. Setelahnya, menjadi penting bagi kita sebagai ‘cultural people’ untuk mengetahui ‘plot twist’ film terbaru, lagu populer terbaru, meme terbaru, life hack terbaru, tips and trick terbaru, dan kutipan tokoh fiksi terbaru. Kita bahkan membayar biaya bulanan untuk streaming lagu premium, youtube premium, streaming serial, dan forum premium. Akun sosial media yang dikelola pun ada puluhan, dibangun dan ada yang diperjual-belikan. Mailing list dan newsletter hingga puluhan ribu, itupun sebagiannya sudah otomatis difilter masuk ke dalam arsip, tak pernah dibuka. Ini semualah yang disebut digital noise yang coba dihindari oleh Digital Minimalism.

Dalam buku Digital Minimalism, Cal Newport menawarkan pilihan untuk hidup lebih fokus atau terjebak dalam kebisingan digital. Teknik yang ia gunakan untuk menjadi lebih minimalis di dunia digital adalah dengan membuat semacam filter terhadap pilihan teknologi apapun, sebelum kita mulai menggunakan teknologi itu. Idealnya screening atau filtering ini dilakukan setelah detox atau puasa digital. Hal ini berlaku pada semua jenis teknologi baik di dunia nyata maupun dunia maya. Namun filter ini sangat penting untuk dunia maya/ digital, karena dengan penampakan resiko yang relatif sedikit di dunia digital, justru kita lebih sering membuat pilihan ‘yes’, ‘approve’, ‘allow’, ‘like’, ‘read more’, ‘love’, ‘add to wishlist’, ‘subscribe’, ‘try now’, ‘get free ebook’, dan ‘join’. Filter yang disusun Cal Newport berisikan tiga lapisan, yaitu: (1) apakah teknologi itu sejalan dengan nilai-nilai yang paling kamu hargai (sedikit benefit saja tidak cukup), (2) apakah teknologi itu adalah alat terbaik untuk mencapai tujuan yang sejalan dengan nilai-nilai yang paling kamu hargai itu (jika tidak efektif gantilah dengan teknologi yang lebih baik), dan (3) apa peran teknologi itu dalam hidupmu serta apakah dapat dikelola kapan dan bagaimana kamu menggunakan teknologi itu (jika tidak, lampu merah, mungkin memang teknologi itu dibuat untuk mengatur penggunanya).

Sebelum Cal Newport, sudah banyak penulis, pembicara, motivator yang menyarankan pembatasan atas kehidupan digital. Misalnya Tim Ferris dalam buku 4-hour Workweek (yang banyak menuai respon panas dari berbagai arah karena judul bukunya yang kontroversial); menawarkan teknik untuk mulai membuka email setelah pukul 12 siang, setelah hal-hal penting dikerjakan di pagi hari. Demikian pula Benjamin Chapin, yang menulis dalam Directional Thinking tentang pembatasan ‘suggestive environment’ seperti berita radio (podcast), televisi (youtube), dan newspaper (mailing list, forum, newsletter, media sosial). Beberapa youtuber, yang membuat channel berisi resume buku-buku self-development, memberikan kesimpulan bahwa superimpose kebanyakan buku adalah penekanan pada pembatasan digital. Bahkan, sebenarnya hampir semua motivator yang peduli pada audiens-nya akan menyarankan hal yang sama: quit social media. Hal ini juga sejalan dengan nasihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk hidup bagai seorang musafir, seorang asing, juga untuk tidak ikutan menjadi penyebar berita-berita yang belum diketahui kebenarannya (misalnya dengan mudah memencet tombol like dan share).

Kesimpulannya, minimalism sejauh ini adalah konsep yang sangat baik. Mulai dari minimalism dalam sudut pandang aesthetic, finansial, hingga minimalism di dunia digital. Harus diwaspadai bahwa setiap konsep yang diterima dan diperlakukan secara ekstrim pasti memiliki sisi negatif, maka kembali kepada kita sendiri untuk mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan pertengahan. Dalam segala hal, lebih mudah berteori dan berkonsep daripada melakukan. Oleh karena itu, selalu, selalu, selalu panjatkan do’a agar kita bisa mengamalkan dengan seimbang dan bisa selamat dunia-akhirat. Aamiin

PS: Buku-buku self-help dan self-development tidak semuanya menggunakan studi ilmiah, juga tidak semua metodenya bisa diaplikasikan pada semua orang, termasuk dalam studi digital minimalism. Oleh karena itu baiknya setiap orang tetap bersikap kritis dalam membaca buku-buku self-help.

———————————–

Referensi

Newport, C. (2019). Digital minimalism: Choosing a focused life in a noisy world. Penguin.
Lawson, E. (2019). Debrief: Digital minimalism and the Deep End. British Journal of General Practice, 69(681), 189-189.
Skivko, M., Korneeva, E., & Kolmykova, M. (2019). Digital Minimalism as a Leading Limitation of Media Communications in the Heyday of Digital Culture. In Proceedings of the 6th International Conference on Social, Economic, and Academic Leadership (ICSEAL-6-2019) (pp. 225-229).
Dopierała, R. (2017). Minimalism–a new mode of consumption?. Przegląd Socjologiczny, 66(4), 67-83.
Millburn, J. F., & Nicodemus, R. (2015). Minimalism: Live a meaningful life. Asymmetrical Press.
Meissner, M. (2019). Against accumulation: lifestyle minimalism, de-growth and the present post-ecological condition. Journal of Cultural Economy, 12(3), 185-200.

———————————–

Wallahua’lam

———————————–

Please Login to Comment.

3 × 1 =