Posted on 1 Comment

Minimalism Kembali Lagi, namun Tidak Semua Minimalism itu Sama (Part 3: Environmentalism & Experientialism)

Seri artikel ini membahas minimalism dari beberapa sudut pandang yaitu (1) minimalism dalam seni, aesthetic, dan arsitektur; (2) financial minimalism; (3) digital minimalism; (4) minimalism dan environmentalism; dan (5) simplified experientialism.

4. Minimalism dan Environmentalism

Sebelumnya kita sudah mengenal istilah declutter yang menjadi inti minimalism populer, baik dari sudut pandang aesthetic, finansial, dan interaksi digital. Kegiatan declutter di dunia nyata akan melibatkan proses eliminasi benda-benda yang kurang terpakai baik melalui giveaway, garage sale, daur ulang, maupun pembuangan. Di satu sisi, generasi muda yang mempertimbangkan untuk mengadopsi gaya hidup minimalis umumnya memiliki kesadaran untuk menjadi lebih baik lagi. Di sisi lain, seperti halnya kebanyakan generasi millennial dan generasi Z, mereka juga selalu diajarkan untuk peduli pada lingkungan sejak kecil, sekalipun tidak semuanya bisa mempraktekannya dalam kehidupan. Dengan demikian, jika selama ini kita telah membuat keputusan mengakumulasi banyak barang yang pada akhirnya harus kita declutter, kini pertanyaannya adalah bagaimana kita bertanggungjawab atas barang-barang yang akan kita keluarkan dari hidup kita.

Banyak orang mencoba untuk mengambil kendali proses reuse dan recycle dengan harapan akan memperpanjang usia pakai benda-benda yang sudah menjadi tanggung-jawabnya. Namun reuse dan recycle sendiri tidak akan mengeluarkan benda-benda dari lingkaran kita sehingga counter-productive terhadap tujuan declutter. Terkecuali jika pada akhirnya benda reuse atau recycle itu dapat dijual atau diberikan kepada orang lain. Sekalipun demikian, reuse dan recycle tetap merupakan kegiatan bermanfaat daripada mempertahankan clutter menumpuk seperti sedia kala.

Jika kita ingin mempercepat proses declutter namun tetap melakukannya dengan lebih bertanggung-jawab, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, jangan membuang semuanya ke TPS demi mendapatkan kebersihan instan, karena itu berarti kita membersihkan dunia kita sambil mengotori dunia orang lain / makhluk lain.

Kedua, lakukan sortir dengan seksama untuk memisahkan benda-benda yang sudah umum di-daur ulang di lingkunganmu, seperti kardus, kertas, botol plastik minuman, aneka plastik (PVC, PPE, HDPE, fiberglass), kaleng, kaca, dan besi. Lebih baik bila dicuci atau bilas terlebih dahulu sebelum dibuang. Benda seperti karet juga bisa di-daur ulang (sandal, sol sepatu, ban, dan mainan), namun karena sangat jarang frekuensi pembuangannya dibanding kardus atau botol, sebaiknya lakukan riset terlebih dahulu di mana bisa membuang karet untuk daur ulang. Kemasan karton minuman seperti susu, jus, dan teh bisa didaur-ulang tapi tidak semua tempat penampungan menerimanya. Terkadang terpaksa harus digabungkan dengan sampah domestik. Jangan lupakan juga sebagian sampah domestik organik yang justru akan sangat berharga bila dijadikan kompos.

Pakaian bekas yang tidak layak didonasikan bisa dicacah dan dijual sebagai kain perca atau majun. Namun, proses jual beli majun tidak secepat jual beli botol plastik atau kardus, serta tidak semua pusat jual beli majun menerima majun campuran. Kalau baju yang dibuang sangat banyak, maka cobalah pisahkan sesuai jenis bahannya misalnya katun, rayon, jeans, kaos, dan semacamnya. Biasanya bila sudah terpisah dengan baik, limbah majun lebih bisa diterima. Jika sangat sulit membuang majun, salah satu teknik recycle adalah dengan membuat clothcrete. Caranya ada dalam artikel DIY Clothcrete (klik di sini). Namun, pastikan clothcrete yang dibuat benar-benar bermanfaat karena kita tentu menggunakan bahan tambahan seperti pasir, semen, dan air.

Selanjutnya, beri perhatian khusus kepada limbah elektronik. Carilah tempat khusus penampungan limbah elektronik di kotamu, jangan menggabungkannya dengan sampah domestik begitu saja karena selain mengandung racun dan berpotensi terbakar, limbah elektronik juga mengandung sumber daya alam yang bisa di-recovery.

Bukankah kegiatan declutter ini melelahkan? Apabila kita mau bersusah payah melakukan proses declutter yang bertanggung jawab seperti contoh di atas, selanjutnya kita akan lebih punya kemampuan untuk menahan diri sebelum membeli barang. Ternyata mengadopsi barang ke dalam tanggungjawab kita itu berat juga ya, guys.

5. Simplified Experientialism

Simplified experientialism intinya mengurangi ketergantungan kepada benda-benda, yang selama ini menjadi salah satu cara bagi sebagian orang untuk bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup. Disebut ‘simplified’, karena istilah ini diadopsi tanpa mengambil keseluruhan konsep filosofi experientialism. Dalam simplified experientialism, hidup itu yang penting berfokus kepada pengalaman dan membangun memori. Misalnya, daripada melepas stres dengan pergi ke mall atau online shopping, lebih baik jalan-jalan ke taman, keliling komplek, ataupun jalan kaki ke hutan. Atau juga untuk liburan keluarga, tidak perlu menghabiskan banyak dana untuk tiket, gadget, gear, dan souvenir, tapi bisa dengan piknik di atap rumah ataupun pergi ke daerah tepian kota yang masih sepi untuk mencari udara segar. Yang penting bukan menumpuk benda-benda, tapi memori.

Experientalism memiliki sisi negatif juga, yaitu sering kali digunakan untuk mempromosikan jalan-jalan (wanderlust), wisata ekstrim untuk adrenalin, dan juga wisata pengalaman lainnya termasuk tempat-tempat instagramable. Bagi sebagian orang, tourism and travel diklasifikasikan sebagai salah satu cabang hedonisme. Sekalipun banyak dari pengalaman-pengalaman itu bisa membangun karakter, usaha yang besar demi sebuah pengalaman atau memori belum tentu bermanfaat untuk diri sendiri (selain merasakan pengalaman itu) dan belum tentu berkontribusi positif kepada dunia.

Misalnya pengalaman melihat bunga bangkai atau pengalaman melihat hewan-hewan afrika di kebun binatang. Pengalaman melihat singa akan memberikan kepada kita penginderaan bahwa singa itu besar, tinggi, tidak seperti kucing, pasti sangat berat jika menimpa kita, giginya besar tajam dan mengerikan jika merobek daging. Akan tetapi, jika ternyata kita sendiri tidak bertemu singa di alam bebas untuk lari darinya, ataupun tidak berkerja di bidang-bidang yang berhubungan dengan singa, sebenarnya hidup kita tidak terlalu berbeda apakah kita pernah melihat singa secara langsung atau tidak. Mungkin yang bisa ditekankan adalah rasa empati kepada hewan liar, tadabur atas keragaman makhluk yang begitu berbeda satu sama lain, serta kesadaran bahwa ada makhluk lain selain manusia di dunia ini yang juga memiliki hak atas udara, tanah, air, dan alam bebas. Namun, banyak leluhur kita tetap menjadi tokoh-tokoh besar dalam sejarah sekalipun tidak pernah melihat singa secara langsung, bukan?

Demikian pula dengan usaha yang besar menabung untuk melihat bunga tulip asli di Belanda. Tidak ada bedanya bunga tulip yang kita lihat di toko bunga dengan bunga tulip di pinggiran kota Amsterdam, kecuali konteksnya. Memang jika pengalaman itu berhubungan erat dengan momen-momen penting dalam hidup kita, ia akan berharga. Namun jika tidak, memori hanya akan lewat saja bagaikan mimpi.

Yang tidak banyak orang ketahui adalah bahwa experientalism sebenarnya berkaitan dengan gagasan George Lakoff dan Mark Johnson sebagai respon kepada filosofi objektivitas. Dalam penelusuran kebenaran ilmiah, kita mengenal subjektivitas dan objektivitas. Suatu pernyataan yang objektif, misalnya, akan bisa diukur berdasarkan objek yang dinilai dalam pernyataan tersebut. Sementara itu pernyataan yang subjektif tidak akan bisa diukur sama persis oleh orang lain karena hanya ada dalam persepsi subjek yang membuat pernyataan atau penilaian. Misalnya, pernyataan ‘’Silinder itu beratnya satu kilogram’’ adalah pernyataan objektif karena kita bisa mengukur silinder itu dengan timbangan dan melihat apakah betul beratnya satu kilogram. Sementara itu pernyataan ‘’Silinder itu sangat indah’’ adalah penyataan subjektif, karena perdebatan soal keindahan adalah sesuatu yang sulit untuk diukur. Respon terhadap pernyataan subjektif akan terbagi tiga: yang setuju, yang tidak setuju, dan yang tidak peduli/abstain. Sementara itu respon terhadap pernyataan objektif hanya satu, apakah silinder itu betul satu kilogram atau silinder itu tidak satu kilogram.

Dalam experientialism, pengalaman seseorang menjadi basis pengetahuan dan pemahaman atas dunia dan kehidupan secara keseluruhan. Menurut kamus Miriam Webster, experientialism adalah teori filosofis yang menyatakan bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan, bahwa pengetahuan tidak selalu berasal dari deduksi rasional, pengajaran, ataupun analisa sebab-akibat. Lakoff dan Johnson mengemukakan bahwa manusia kemudian menggunakan metafora berdasarkan pengalamannya untuk menggambarkan konsep yang abstrak. Namun bukan berarti semua yang ada di alam ini tidak nyata kecuali apa-apa yang dialami oleh manusia. Menurut Lakoff dan Johnson tetap ada ‘basic realism / mind-independent external world’ dan ada esensi dunia yang tidak terpengaruh pengalaman individual.

Sampai di sini, Sobat Makers, tidak perlu pusing memikirkan sisi filosofis experientialism. Baik pengalaman, deduksi, analisa sebab akibat, pengajaran, studi empiris, maupun studi kualitatif semuanya adalah metode belajar yang bisa dikombinasikan satu sama lain. Intinya cukup tahu saja bahwa pengulangan kata experientialism itu belum tentu diartikan sama oleh para pendengarnya, sama seperti istilah minimalism yang memiliki banyak sudut pandang.

————————————————

Kesimpulan

Minimalism ternyata banyak sisi baiknya. Namun, banyaknya sudut pandang terhadap minimalism juga membuat kita harus waspada agar tidak terjebak pada penafsiran yang disalahgunakan. Misalnya, aesthetic minimalism instan yang diikuti dengan binge shopping, financial minimalism ekstrim yang menjebak dalam glorified greedy economic principle, declutter instan yang tidak peduli pada destinasi akhir clutter kita, serta jebakan-jebakan lainnya. Mari menggunakan sisi positif minimalism sambil terus berhati-hati dalam berbuat.

————————————————

Referensi

Kondo, M. (2015). The Life-Changing Magic of Tidying: The Japanese Art. Random House.
Dopierała, R. (2017). Minimalism–a new mode of consumption?. Przegląd Socjologiczny, 66(4), 67-83.
Millburn, J. F., & Nicodemus, R. (2015). Minimalism: Live a meaningful life. Asymmetrical Press.
Meissner, M. (2019). Against accumulation: lifestyle minimalism, de-growth and the present post-ecological condition. Journal of Cultural Economy, 12(3), 185-200.
https://en.wikipedia.org/wiki/Experientialism
https://www.merriam-webster.com/dictionary/experientialism

————————————————

Wallahua’lam

————————————————

1 thought on “Minimalism Kembali Lagi, namun Tidak Semua Minimalism itu Sama (Part 3: Environmentalism & Experientialism)

  1. […] dalam seni, aesthetic, dan arsitektur; (2) financial minimalism; (3) digital minimalism; (4) minimalism dan environmentalism; dan (5) simplified […]

Please Login to Comment.

17 + seven =