Posted on Leave a comment

Metode ‘Bleaching’ pada Kayu

Bleaching kayu (pemutihan) sering kali dilakukan untuk mendapatkan warna kayu yang lebih terang dari warna aslinya. Hal ini banyak dilakukan oleh pengrajin mebel agar warna yang dihasilkan dapat menyesuaikan desain yang diinginkan. Selain itu, bleaching juga diperlukan untuk membersihkan kayu dari jamur dan noda biru (blue stain) akibat mikroorganisme, mineral, dan bekas-bekas korosi metal. Terkadang sekalipun warna kayu sudah sesuai dengan yang diinginkan, kita juga tetap perlu melakukan penyesuaian di beberapa titik seperti pada bagian mata kayu, bagian end-grain, bekas lem, ataupun pada bekas-bekas getah. Langsung saja kita mengupas beberapa metode yang biasa digunakan untuk melakukan bleaching.

1. Peracetic acid (Paa) (Liang & Wang, 2015)

Liang & Wang memperkenalkan penggunaan jenis bleaching yang dianggap lebih ramah lingkungan, yaitu peracetic acid. Penggunaannya tidak meninggalkan zat-zat toxic pada permukaan kayu, namun tetap memiliki kemampuan oksidasi yang tinggi sehingga seringkali digunakan sebagai bahan permbersih. Larutan yang digunakan adalah campuran air, peracetic acid, dan sodium pyrophosphate sebagai penstabil. Penelitian yang dilakukan Liang & Wang ini bertujuan mengetahui konsentrasi peracetic acid, konsentrasi sodium pyrophosphate, suhu aplikasi, dan derajat pemutihan yang dihasilkan. Media yang diputihkan adalah veneer kayu yang lebih tipis dan bisa direndam dalam larutan, bebeda dengan kayu papan atau profil, sehingga hasilnya pada aplikasi profil dan papan mungkin berbeda. Kesimpulannya, komposisi larutan yang digunakan mengandung 10 gram Paa per liter larutan, 0.4 gram sodium pyrophosphate per liter larutan, dengan pH awal 6.5. Aplikasi ideal pada suhu 65 derajat celcius dengan perendaman selama 1 jam. Kemudian kayu dibilas dengan air hingga pH netral, diratakan, dan dikeringkan.

2. Hydrogen peroxide atau hidrogen peroksida (Downs, 1961: 2)

Sebelum menggunakan hydrogen peroxide, permukaan kayu sebaiknya diberi selapis larutan sodium hydroxide (caustic soda / soda api, atau lye biasa sebagai pengganti). Konsentrasi larutan sodium hydroxide adalah 4 pound (1,81 kg) tablet soda api dalam 10 gallon (37,85 liter) larutan. Permukaan kayu yang sudah dikuas (atau disemprot) dengan larutan sodium hydroxide kemudian dikeringkan dengan dibiarkan selama 30 menit. Setelahnya baru diberi larutan hydrogen peroxide 30-35% penggunakan spray atau kuas. Aplikasi hidrogen peroksida dan soda api harus disertai penggunaan alat pelindung K3 oleh aplikator. Kayu lalu kembali dibiarkan hingga benar-benar kering, kemudian dibilas dengan air bersih. Untuk menetralkan sodium hydroxide yang tersisa, permukaan kayu bisa dibilas atau disemprot dengan acetic acid (cuka). Konsentrasi cuka yang digunakan adalah 1 pound (0,45 kg) per 10 gallon (37,85 liter) larutan. Setelah disemprot larutan cuka, kayu dibiarkan 15 menit, lalu dibilas dengan air dan dikeringkan kembali. Setelahnya, kayu diamplas dan bisa diberikan finishing yang diinginkan.

3. Sodium hypochlorite atau pemutih pakaian komersil.

Menurut Liang & Wang (2014), bleaching kayu menggunakan pemutih pakaian hasilnya tidak sebaik menggunakan peracetic acid maupun hydrogen peroxide. Sementara itu, hydrogen peroxide dianggap lebih ampuh daripada peracetic acid, tergantung tingkat konsentrasi larutan. Terkadang, sodium hypochlorite masih disarankan sebagai bahan pemutih kayu di workshop untuk derajat pemutihan yang tidak terlalu drastis.

4. Oxalic acid atau Asam Oksalat (Downs, 1961: 3).

Jenis asam ini disarankan untuk digunakan ketika bleaching ringan dibutuhkan. Konsentrasi larutan mulai dari 4 hingga 32 avoirdupois ounces (113,2 gram – 905,6 gram) kristal asam oksalat per gallon (3.78 liter) air panas. Umumnya berat asam oksalat yang digunakan adalah berat pertengahan yaitu 11 – 16 ounces (311.3 – 452.8 gram). Perlu diperhatikan bahwa untuk melarutkan asam ini harus menggunakan wadah kaca, keramik, atau besi lapis enamel; tidak boleh menggunakan wadah besi biasa ataupun besi galvanis. Asam oksalat lebih baik diaplikasikan ketika larutan panas atau hangat, namun juga bisa digunakan dalam kondisi dingin. Setelah warna yang diinginkan tercapai, kayu bisa dibilas dengan air panas atau dinetralkan terlebih dahulu dengan larutan 3 oz (85 gram) borax per gallon (3.78 liter) diikuti dengan bilas air panas.

————————————————–

Harus diperhatikan bahwa pemutihan kayu memerlukan ketelitian dan kehati-hatian sebab melibatkan penggunaan berbagai jenis larutan asam. Setiap jenis asam memiliki cara penyimpanan dan cara penggunaan tersendiri. Pengguna wajib membaca label pabrik dan mematuhi ketentuan keselamatan. Proses bleaching juga harus dilakukan di ruangan yang berventilasi baik.

Meskipun warna hasil bleaching terlihat bagus, bleaching memiliki beberapa kekurangan yaitu bisa menjadikan kayu lebih getas atau mudah rapuh. Selain itu, beberapa studi memperlihatkan bahwa kayu yang diputihkan bisa kembali menjadi lebih gelap hingga mendekati warna asalnya apabila terpapar sinar matahari (Down, 1961; Budakci, 2006, Liang & Wang, 2015)).

————————————————–

Referensi

Budakci, M. (2006). Effect of outdoor exposure and bleaching on surface color and chemical structure of scots pine. Progress in Organic Coatings, 56(1), 46-52.
Downs, L. E. (1961). Bleaching wood.
Liang, T., & Wang, L. (2015). An environmentally safe and nondestructive process for bleaching birch veneer with peracetic acid. Journal of Cleaner Production, 92, 37-43.
Wiranatha, I. G. P., Aryasih, I. G. A. M., & Posmaningsih, D. A. A. (2014). Pengaruh Lama Kontak Hidrogen PeroksidA terhadap Keluhan Subyektif Pengrajin Lontar. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 4(1), 61-69.

Is Peracetic Acid a Problem? PPE You Should Consider


https://www.bobvila.com/articles/bleaching-wood/

How to Bleach Wood

————————————————–

Wallahua’lam

————————————————–

Please Login to Comment.

three × 5 =