Posted on Leave a comment

Pengaruh Bahan-Bahan Pembersih pada Pipa dan Tangki Pengolahan Limbah Hunian

Rumah yang bersih sangat disukai. Membersihkan rumah dengan mudah juga sangat disukai. Oleh karena itu, produk-produk pembersih yang bisa memudahkan kita dalam membersihkan rumah juga sangat disukai. Seringkali kita tidak mengetahui apa kandungan bahan-bahan pembersih itu, terutama kandungan produk yang memang menjaga kerahasiaan dagangnya. Akan tetapi, sebenarnya kita perlu lebih kepo dalam hal ini agar kita bisa mengetahui dampak bahan-bahan itu terhadap kita yang menggunakannya, pada dinding, lantai, pipa pembersih, hingga tanah, air, dan udara di lingkungan tempat tinggal kita.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas pengaruh bahan pembersih sehari-hari kepada pipa-pipa pembuangan dan penampungan limbah. Sebelum itu, kita akan membahas empat jenis limbah rumah tangga. Empat jenis limbah rumah tangga itu adalah limbah padat daur ulang (recycle), limbah padat buangan (garbage/municipal solid waste), limbah cair abu (grey water), dan limbah cair hitam (black water).

Limbah padat (garbage/municipal solid waste) adalah sampah yang kita buang ke tempat sampah, lalu diangkut secara berkala oleh petugas kebersihan daerah. Limbah padat bisa mengandung bahan organik maupun bahan anorganik, tergantung kebijakan pengelola sampah dan kooperasi rumah tangga dalam pemilahan sampah.

Limbah cair abu (grey water) biasanya berasal dari air bekas mandi, bekas mencuci, air dari wastafel, dan limpahan air hujan yang tidak terserap. Limbah cair abu ini biasanya dialirkan melalui pipa-pipa bawah tanah, ditampung melalui grease trap / serapan, atau dialirkan ke riul kota. Pada prakteknya, banyak limbah cair abu yang langsung dialirkan ke riul kota (selokan).

Limbah cair hitam (black water) adalah kategori limbah yang dibuang ke penampungan insitu, yaitu tangki septik. Pipa pembuangan limbah dan tangki ini juga seringkali menjadi penampungan buangan bahan-bahan pembersih yang kita gunakan untuk membersihkan wastafel, bak cuci, kamar mandi, dan toilet. Oleh karena itu, pipa dan tangki juga terdampak oleh reaksi bahan-bahan tersebut. Apakah ada bahan tertentu yang bisa membahayakan saluran dan tangki rumah tangga?

Disinfektan berbahan minyak pinus (pine oil)

Segala bentuk disinfektan sebaiknya digunakan sesuai dengan konsetrasi yang disarankan oleh produsen. Apabila konsentrasi terlalu rendah, maka penggunaannya kurang efektif. Sementara itu bila konsentrasinya terlalu tinggi maka dapat membahayakan kulit, mengikis permukaan bahan tertentu, hingga menyebabkan terbunuhnya bakteri pengurai untuk mengolah limbah. Patut diperhatikan bahwa penggunaan normal seharusnya tidak akan terlalu membahayakan. Misalnya untuk membunuh semua bakteri dalam tangki septik berkapasitas 2000 Liter, setidaknya diperlukan tumpahan disinfektan pinus sebanyak 10 liter. Populasi bakteri yang terkena serangan pembersih ini kemudian akan memerlukan 30 hingga 65 jam untuk pulih.

Disinfektan berbahan hypochlorite bleach

Tumpahan disinfektan berbahan sodium hypochlorite sebanyak 3 liter dapat membunuh populasi bakteri tangki septik berkapasitas 2000 Liter. Populasi bakteri itu memerlukan 45 hingga 60 jam untuk pulih. Akan tetapi, kejadian tumpahan semacam itu tentu bukan praktek pembersihan kamar mandi normal. Menurut penelitian, 87-94% senyawa klorin akan terdegradasi dalam tangki septik, sehingga penggunaan normal tidak dianggap berbahaya. Lain halnya apabila tangki septik sudah memiliki kinerja yang kurang efektif. Penggunaan hypochlorite yang terlalu sering akan memperburuk kinerja bakteri sehingga sebaiknya dikurangi atau diganti dengan yang lebih ‘ramah’ terhadap populasi bakteri pengurai. Contoh pembersih yang dianggap lebih ramah adalah baking soda dan cuka.

Sodium Hydroxide

Sodium hydroxide atau yang kita kenal sebagai lye (soda api / soda kaustik), jika sering digunakan atau digunakan dalam jumlah banyak sekaligus, dapat menyebabkan korosi pada pipa berbahan metal dan juga membunuh bakteri pengurai. Kekuatannya lebih daripada disinfektan berbahan minyak pinus dan klorin. 20 gram saja sudah cukup untuk membunuh mayoritas bakteri dalam tangki septik berukuran 2000 liter. Dibutuhkan 48 jam untuk memulihkan populasi bakteri setelah terpapar caustic soda. Oleh karena itu, hindari penggunaan caustic soda sebagai pembersih dan bila kita menggunakan soda api untuk keperluan lain, jangan buang lebihannya ke toilet.

Detergen (Laundry Detergent)

Detergen yang kita gunakan untuk mencuci pakaian termasuk jenis senyawa surfactant, yang berfungsi memisahkan ikatan permukaan antara dua zat. Itulah sebabnya detergen bisa digunakan untuk membersihkan noda. Bahan pembuat detergen di antaranya linear alkylbenzene sulfonate dan/atau alkyl dimethyl ammonium chloride. Dua senyawa ini secara alami terdegradasi bila masuk ke dalam tangki septik. Tetapi, bagaimana bila detergen itu dibuang melalui pipa ke selokan seperti yang sering terjadi di rumah-rumah? Detergen memang bisa mengalami biodegradasi, namun membutuhkan waktu untuk terurai secara sempurna. Apabila penumpukan detergen di sumber-sumber air terlalu banyak, maka bahayanya adalah detergen bisa termakan oleh hewan-hewan bahkan oleh manusia.

Solvents and Solvent-based Product

Solvents atau pelarut ada banyak jenisnya, namun banyak di antaranya tidak dapat bercampur dengan air (misalnya minyak tanah). Oleh karena itu membuang bahan-bahan yang termasuk solvent dan bahan yang mengandung solvent seperti cat ke dalam sistem pemipaan sangat tidak disarankan. Solvent yang tidak bercampur dan tidak terurai dapat menumpuk di dalam tangki, juga bisa terbawa bersama cairan efluen ke area resapan. Lebih lanjut lagi, solvent dapat menyebabkan terhambatnya perkolasi atau resapan air buangan ke dalam tanah.

Aditif Septik (Booster)

Zat aditif yang ditambahkan ke dalam tangki septik ada dua jenis. Pertama, starter bakteri atau enzyme yang digunakan untuk meningkatkan kinerja bakteri pengurai. Kedua, bahan degreasers atau pelarut lemak. Penumpukan lemak di dalam tangki septik dapat menyebabkan terhambatnya degradasi endapan serta memperbanyak jumlah padatan. Hal ini dapat menyebabkan pemompaan lebih sering dilakukan. Akan tetapi, bahan degreaser yang dijual ada yang mengandung senyawa karsinogenik yang berbahaya apabila terserap tanah dan masuk hingga ke air tanah. Daripada menggunakan degreasers, ebih baik hindari pembuangan makanan atau sisa rebusan berlemak melalui toilet.

_______________________________

Referensi

John J. Schwartz, Ann T. Lemley, Kalpana Pratap. 2004. Household Chemicals and Your Septic System.
Switarto, B., & Sugito, S. (2012). Aplikasi Biofilter Aerobik untuk Menurunkan Kandungan Detergen pada Air Limbah Laundry. WAKTU: Jurnal Teknik UNIPA, 10(2), 22-31.
Sumantri, A., & Cordova, M. R. (2011). Dampak Limbah Domestik Perumahan Skala Kecil terhadap Kualitas Air Ekosistem Penerimanya dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 1(2), 127-127.
Muslimah, M. S., & Si, S. (2017). Dampak Pencemaran Tanah Dan Langkah Pencegahan. J. Penelit. Agrisamudra, 2(1), 11-20.
Andrian, D., & Irawati, D. Y. (2019). Dampak Proses Pengolahan Air Bersih Terhadap Lingkungan. Heuristic, 16(1).

_______________________________

Wallahua’lam

_______________________________

Please Login to Comment.

twenty − one =