Posted on Leave a comment

Seri Urban Farming – Berkebun Kale di Lahan Tropis

Kale atau yang biasa disebut kubis keriting adalah tanaman jenis sayuran yang memiliki variasi warna daun hijau kebiruan, hijau muda, merah, dan ungu tergantung pada varietasnya. Para ilmuwan memiliki perbedaan pendapat terkait kapan awal mula tanaman ini dikonsumsi oleh manusia. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa kale awalnya berasal dari kawasan Mediterania Timur dan Asia Minor. Di daerah aslinya yang memiliki empat musim, sayuran yang tergolong kedalam keluarga Brasisca ini umumnya ditanam pada akhir musim dingin atau awal musim semi. Selain itu, kale juga dapat menjadi pilihan tanaman yang disemai pada akhir musim panas untuk dipanen pada musim gugur dan musim dingin. Dalam berbagai kajian, tanaman ini dianggap sebagai superfood atau queen of vegetables karena kaya akan kandungan nutrisi dan antioksidan, di samping memiliki beragam manfaat bagi yang mengonsumsinya. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan oleh Becerra-Moreno et al. (2014) menyebutkan bahwa 1 porsi saji kale dapat memenuhi lebih dari 100% asupan harian vitamin A serta 40% vitamin C yang direkomendasikan. Lalu, apakah Anda tertarik untuk mulai menanam kale di kawasan tropis seperti Indonesia?

Beberapa tahun belakangan, trend gaya hidup sehat mulai marak digencarkan di kalangan masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Terlebih ketika 2 tahun terakhir masyarakat dihantui oleh bayang-bayang pandemi. Segala upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Salah satunya adalah dengan mengkonsumi lebih banyak sayuran hijau dan bahkan banyak masyarakat yang mulai menjadi petani perkotaan di area rumah mereka. Kale kemudian menjadi salah satu tanaman primadona untuk dibudidayakan. Di Indonesia sendiri tanaman ini masih tergolong sayuran mahal dengan harga jual bervariasi antara Rp. 50.000 – 100.000/kg, serta masih minim kompetitornya.

Berikut beberapa informasi dasar yang perlu diperhatikan sebelum mulai menanam kale, diantaranya:

Mengenal berbagai jenis kale

Kebanyakan orang awam umumnya hanya mengenal satu jenis kale yakni kale keriting atau curly kale seperti yang sering dijumpai di berbagai supermarket besar di Indonesia. Padahal di luar sana ada berbagai jenis kale yang dapat menjadi pilihan untuk mulai ditanam di kebun atau pekarangan rumah. Bahkan, laman Cornell University melansir setidaknya terdapat sekitar 50 varietas kale, beberapa diantaranya adalah Kale Nero Lacinato atau Kale Dinosaurus, Kale Red Russian, Kale Ornamental, Kale Chinese atau Kailan, Kale Redbor, Kale Siberian, Kale Red Ursa dan Kale Scarlet. Saat ini beberapa swalayan besar telah menjual beragam jenis kale ini. Namun, jika Anda menemui kesulitan untuk menemukannya di daerah Anda, maka Kami menyarankan Anda untuk mengunjungi berbagai situs e-commerce yang menjual perlengkapan pertanian. Berbagai jenis benih kale dari beragam merek mudah ditemukan dan bahkan sudah dikemas dalam ukuran hemat atau repack bagi pemula yang ingin mencoba berkebun kale. Mulailah dengan menanam jenis kale yang lebih sering dibudidayakan di Indonesia, seperti Kale Keriting, Nero dan Red Russian.

Cara menanam Kale

Menanam Kale tergolong mudah jika ditanami didaerah yang bersuhu lebih dingin, misalnya Bandung, Bogor, atau Berastagi. Namun, jika Anda tinggal dikawasan perkotaan yang cukup panas, maka perlu perhatian khusus bagaimana cara Anda merawat tanaman kale sejak proses semai. Anda dapat mengikuti petunjuk dibawah ini:

Pertama, sebaiknya penyemaian benih kale dilakukan dalam nampan semai atau wadah gelas plastik yang telah dilubangi pada bagian bawahnya. Agar mempermudah proses pemindahan, Kami menyarankan hanya menyemai 1-2 benih per wadah. Menabur banyak benih kale dalam 1 wadah dikhawatirkan akan mudah merusak akar atau patah batang ketika proses pemindahan. Sebaiknya Anda menyemai benih di area teduh tidak terkena terik matahari. Biasanya benih mulai berkecambah dalam waktu 1 minggu. Namun perlu diingat, setiap varietas kale dan merek mungkin membutuhkan waktu berbeda atau lebih lama untuk proses semai. Selain menyemai dari biji, menariknya tanaman kale juga dapat diperbanyak dengan cara stek batang tunas anakan yang banyak tumbuh di sepanjang batang dewasa yang telah tumbuh meninggi. Anda hanya perlu memilih tunas anakan yang telah berbatang untuk kemudian ditancapkan ke media semai. Biasanya butuh waktu 8-10 hari untuk tunas anakan menghasilkan akar dan siap dipindahkan.

Kale yang baru dipindah dari media persemaian

Kedua, ketika tanaman kale sudah mengeluarkan beberapa daun sejati atau berukuran tinggi sekitar 3-4 inci atau 7.5-10 cm, Anda dapat mulai memindahkan anakan kale ke area bedengan atau raised bed. Jika perkarangan yang Anda miliki sangat terbatas, sebaiknya kale ditanam di dalam pot atau planterbag. Semakin besar pot tanam maka akan semakin besar ukuran tanaman yang dapat tumbuh dan biasanya mampu bertahan lebih dari 1 tahun. Menempatkan tanaman Kale yang mulai beranjak remaja di area yang memiliki naungan seperti paranet adalah pilihan yang tepat. Pemberian mulsa untuk tanah juga sangat penting guna menjaga kelembapan media tanam. Siram secara teratur dan pastikan tanah selalu lembab, namun tidak sampai menyebabkan busuk akar. Metan yang kering akan mengakibatkan daun kale mudah layu dan tanaman kekurangan nutrisi. Akibatnya proses pertumbuhan tanaman kale akan terganggu.

Ketiga, agar dapat memanen daun kale yang kaya nutrisi, menjaga asupan nutrisi tanaman selama proses pertumbuhan menjadi penting, terlebih jika ditanam di daerah tropis. Media tanam harus sehat dan gembur dengan komposisi tanah dan kompos organik yang memadai. Pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin per 2 minggu. Sementara pilihan menanam secara organik atau konvesional menggunakan pupuk kimia, semua adalah pilihan. Jika tujuan Anda berkebun kale adalah mengkonsumsi sendiri hasil panen, Kami menyarankan agar menanamnya secara organik. Beberapa pilihan pupuk organik yang dapat digunakan adalah kompos, guano, bubuk cangkang telur, air cucian beras, atau berbagai materi organik yang kaya akan nitrogen.

Kale Dwarf Curly dan Kale Nero siap panen

Memanen Kale

Sebagian orang memilih menanam kale sebagai microgreens untuk campuran salad yang biasanya dipanen kurang dari 2 minggu. Sedangkan kale dewasa umumnya bisa dipanen dalam kurun waktu 2 bulan setelah tanam dipengaruhi oleh kualitas benih dan metan, serta perawatannya. Memanen kale tidak dengan cara memotong habis batang. Jika Anda ingin memperpanjang masa panen dan produktivitas daun, maka mulailah dengan hanya memetik daun-daun paling tua yang berada di batang bagian bawah. Cara penyimpanan kale di dalam lemari es sama halnya dengan sayuran lainnya. Sebaiknya ditempatkan dalam wadah plastik tertutup agar kale tetap segar. Jika Anda ingin mengkonsumsinya sebagai campuran minuman smoothies hijau, sebaiknya cuci bersih, keringkan, dan potong daun kale menjadi beberapa bagian. Selanjutnya masukkan ke dalam plastik klip ziplock untuk disimpan di dalam freezer. Cara ini akan membuat kale tahan lama serta mempermudah Anda ketika ingin membuat minuman segar.

Nah, sekarang waktunya Anda untuk mulai menanam dan menikmati manfaat sehat tanaman kale, selamat berkebun hijau, Sobat Makers!

Panen kale dan sayuran hijau lainnya

Referensi:

Alejandro Becerra-Moreno, Pedro A. Alanís-Garza, José Luis Mora-Nieves, Juan Pablo Mora-Mora &
Daniel A. Jacobo-Velázquez (2014) Kale: An excellent source of vitamin C, pro-vitamin A, lutein and glucosinolates, CyTA – Journal of Food, 12:3, 298-303.
Cornell Garden Based Learning, Cornell University College of Agriculture & Life Sciences, Horticulture Section. “Vegetable Varieties for Gardeners is a citizen science program”. Cornell University, http://vegvariety.cce.cornell.edu/main/showVarieties.php?searchCriteria=kale&searchIn=1&crop_id=0&sortBy=overallrating&order=DESC. Diakses pada 6 Februari 2022.

———————

Wallahua’lam

———————

Please Login to Comment.

2 × 4 =