Posted on Leave a comment

Seri Urban Farming: Mengenal Istilah Urban Farming dan 5 Manfaat Utamanya

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Rasanya pepatah ini tepat bagi kita yang hendak memulai aktivitas urban farming atau pertanian perkotaan. Asumsi bahwa sulit melakukan aktivitas berkebun di lingkungan perkotaan sepertinya tidak lagi relevan jika kita sudah mengenal urban farming. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi kita untuk mendesign sendiri miniatur cantik pemandangan pedesaan atau kebun hijau nan asri di area pekarangan perkotaan yang umumnya relatif terbatas atau sempit. Selain itu, tanaman yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang baik dan segar. Beberapa tahun belakangan semakin banyak masyarakat yang sadar dan tertarik untuk mulai melakukan tren pertanian perkotaan ini. Bahkan sebagian diantaranya telah mampu melakukannya secara berkelanjutan guna memenuhi sebagian besar kebutuhan sayur dan buah untuk konsumsi harian keluarga. Lantas apa itu urban farming?

Defini Urban Faming

Urban farming atau urban gardening mengacu pada aktivitas bercocok tanam di kawasan perkotaan yang hasil panennya dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarga dan memiliki nilai ekonomi jika dijual kembali. Umumnya aktivitas ini dilakukan dengan memanfaatkan area seperti pekarangan rumah, lahan terbuka hijau di area tinggal, atap rumah, balkon apartmen, area perkantoran, kebun komunitas, lahan vertikal, seperti pinggiran jalan dan lain sebagainya. Bahkan ruang sempit sekalipun dapat dijadikan lahan yang efektif jika digunakan untuk kegiatan pertanian perkotaan dengan sistem, misalnya hidroponik, akuaponik, dan green house atau rumah kaca. Artinya, aktivitas ini dilakukan dengan memanfaatkan area yang terbengkalai atau kurang produktif untuk ditanami bermacam jenis tanaman. Contoh tanaman yang dapat dibudidayakan dengan praktek urban farming adalah sayuran, rempah, buah-buahan, hingga berbagai macam jenis bunga.

Pakcoy, tanaman sayur yang cocok untuk Urban Farming
Pakcoy, tanaman sayur yang cocok untuk Urban Farming

Manfat Urban Farming

Dalam artikel ini, kami akan menjabarkan 5 manfaat utama kegiatan urban farming dari berbagai sumber, diantaranya:

Kesehatan

Aktivitas berkebun membantu meningkatan kesehatan diri baik secara fisik maupun mental. Disamping itu, aktivitas ini juga dapat dikategorikan sebagai olahraga yang menyehatkan lagi murah. Berkebun dapat dikatakan sebagai bentuk investasi kesehatan jangka panjang yang membantu menghindarkan kita dari beragam resiko penyakit. Dengan menanam sendiri makanan kita atau membeli sayur dan buah dari petani lokal, kita dapat dengan pasti mengetahui nurtisi dan media tanam yang digunakan sejak proses semai tanaman hingga panen. Selain kesegarannya tetap terjaga, hasil panen juga lebih sehat tanpa penggunaan pestisida dan berbagai pupuk kimia jika ditanami secara organik.

Tomat Lokal Bebas Pestisida

Masyarakat yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, umumnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di dalam ruangan dan dalam perjalanan. Aktivitas harian pun lebih minim gerak serta lebih beresiko mengalami stress. Hal ini diperparah dengan kecendrungan berada di lingkungan terbuka yang berpolusi dan bising yang berdampak buruk bagi kesehatan. Sementara itu, aktivitas urban farming yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan memberikan kesempatan bagi mereka untuk istirahat sejenak dari aktivitas harian yang melelahkan. Dengan berkebun, mereka meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik di luar ruangan yang membantu menghasilkan vitamin D yang berguna untuk mengingkatkan daya tahan tubuh. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa aktivitas ini memberikan kesempatan bagi kita untuk beraktivitas di ruang terbuka yang merangsang relaksasi atau memberikan rasa damai, mengurasi stress, kecemasan, tekanan darah, dan ketegangan otot (Dewey, 2021).

Kaya Nutrisi

Pertanian Perkotaan adalah salah satu cara terbaik untuk memperoleh makanan yang bergizi dan sehat bagi keluarga kita. Kegiatan ini memberikan kesempatan konsumen untuk mengakses sumber makanan yang tumbuh secara lokal dan sehat. Selain itu, jarak perjalanan makanan ke piring kita akan menjadi relatif lebih singkat, biasa dikenal dengan istilah from garden to table. Hal ini menjadi lebih baik bagi kesehatan karena umumnya makanan yang melewati proses distribusi dengan jarak perjalanan yang cukup jauh bahkan berhari-hari akan berakibat pada berkurangnya nilai gizi dari tanaman yang dihasilkan (Dewey, 2021). Bahkan dalam periode 130 hari musim tanam, sebidang lahan berukuran 10×10 meter saja jika ditanami secara efektif akan mampu menghasilkan sebagian sebar sayuran tahunan untuk konsumsi rumah tangga, serta membantu memenuhi kebutuhan nutrisi vitamin A, C, B kompleks, serta zat besi (Bellows et al., 2008).

Lebih lanjut, Bellows juga menjelaskan bahwa pengalaman berkebun tanaman segar yang meliputi proses menanam, memanen, mengidentifikasi perbedaan varietas dan kualitas tanaman yang ada ditoko dan kebun, mempelajari perbedaan musim tanam, memasak, hingga mengawetkan makanan akan berdampak baik terhadap perubahan kebiasaan pola makan yang lebih sehat.

Bunga Wortel yang siap menjadi benih baru

Panen yang selalu segar

Seperti yang kita ketahui bersama, proses pendistribusian makanan dengan model pertanian tradisional biasanya dilakukan dari satu kota ke kota lain hingga antar negara maupun benua. Sedangkan aktivitas pertanian perkotaan umumnya dilakukan di daerah-daerah padat penduduk. Sehingga jarak distribusi hasil panen ke konsumen menjadi lebih singkat dibandingan model pertanian konvensional. Jarak yang relatif dekat tidak saja berdampak baik dalam memangkas biaya transportasi hasil panen ke para pelanggan, tapi umumnya menanam sendiri atau membeli produk yang ditanam secara lokal akan menghasilkan produk yang jauh lebih segar. Bayangkan jika kita bisa kapan saja memanen sayuran hijau dari kebun teras atau atap rooftop dan langsung mengolahnya menjadi makanan lezat.

Panen sayur sehabis hujan
Panen sayur sehabis hujan

Ketahanan Pangan Masyarakat

Berkebun di kawasan perkotaan memiliki kontribusi positif terhadap ketahan pangan masyarakat, terutama dalam kondisi krisis. Contohnya, aktivitas urban farming terus digencarkan oleh berbagai pihak baik secara personal maupun pemerintah di tengah masa krisis karena Pandemi yang tengah dialami oleh masyarakat diberbagai belahan dunia selama 2 tahun terkahir ini. Pandemi memaksa masyarakat untuk tetap tinggal di rumah sembari terus melakukan aktivitas harian, seperti belajar dan bekerja atau Work from Home (WFH). Oleh karena itu, urban farming kemudian menjadi salah satu tren akvitas produktif yang digemari untuk memanfaatkan waktu senggang.
Bahkan akhir-akhir ini pemerintah terus melakukan berbagai program guna mendukung upaya urban farming baik yang dilakukan secara perorangan maupun kolektif di tingkat komunitas. Salah satu alasan utama yang mendasari masyarakat melakukan aktivitas urban farming adalah para petani rumahan berharap hasil panen dari kebun kecil mereka dapat dibagikan ke keluarga, tetangga, teman, bahkan ke orang-orang yang membutuhkan guna ikut menjaga atau bahkan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat di lingkungan rumah tinggal.

Panen Okra Hijau

Membangun Komunitas

Orang-orang yang tinggal di kota-kota besar cenderung lebih disibukkan dengan berbagai aktivitas personal, mandiri, dan minim interaksi sosial. Kondisi ini lama kelamaan dapat menimbulkan berbagai masalah, misalnya munculnya perasaan tidak saling percaya, tidak bahagia, hingga munculnya penyakit mental seperti depresi. Sebaliknya, aktivitas pertanian perkotaan, contohnya berkebun di lahan sempit seperti pagar rumah di gang-gang kecil serta kebun komunitas dapat menjadi media untuk mempererat kembali interkasi sosial antar warga atau komunitas. Semua kelompok masyarakat dari anak-anak hingga lansia dapat sama-sama belajar lebih mencintai dan menghargai alam serta hidup lebih sehat. Berkebun seperti ini juga dapat saling menguntungkan dengan berbagi atau bertukar hasil kebun. Di samping hasil panen yang berlebih juga dapat dipasarkan kembali untuk membantu perekonomian keluarga atau anggota komunitas berkebun.

Nah, apakah Sobat Makers tertarik untuk menjadikan urban farming sebagai salah satu aktivitas menyenangkan? Tunggu apa lagi, selamat merasakan manfaat berkebun hijau.

Sumber:

Bellows C. Anne., Browns, Ketherina., & Smit, Jac. (2008). Health benefit of urban agriculture. ResearchGate. 01(01). 1-28.
Sarah, D. (2021, December 23). The power of urban agriculutre in transforming a community. https://www.clf.org/blog/the-power-of-urban-agriculture-in-transforming-a-community/#:~:text=Community%3A%20Urban%20farming%20adds%20and,well%20as%20with%20each%20other.

Please Login to Comment.

four × five =