Posted on Leave a comment

Material M019 – Filament 3D Printer (PLA) dengan Limbah Organik

Filament PLA yang biasa digunakan untuk 3d printing adalah bahan yang bisa di-dekomposisi oleh tanah (compostable/biodegradable). Selain itu, PLA juga bisa didaur-ulang dengan dilelehkan lalu dijadikan filament kembali. Alat untuk men-daur-ulang filament bekas menjadi filament baru disebut Filament Extruder Machine. Beberapa profesional dan peneliti sudah mencoba untuk meningkatkan pemanfaatan limbah dengan menggabungkan limbah PLA (misalnya hasil printing yang gagal, support structure, atau model 3d lama yang sudah tidak digunakan lagi) dan limbah lainnya untuk membuat PLA baru. PLA hasil daur ulang umumnya memiliki kekuatan yang lebih rendah dari PLA murni. Namun, penggunaan limbah organik bisa memudahkan proses pengomposan dengan memperbesar luas permukaan dan mengundang aktivitas dekomposer. PLA daur ulang ini sangat ideal untuk 3d printing yang menghasilkan prototype awal (karena umumnya setelah evaluasi dan perbaikan tidak lagi dipergunakan), menghemat biaya filament, juga bisa membantu para Makers untuk mengelola limbah printing. Pada artikel ini kita akan membahas contoh-contoh penelitian yang menggunakan limbah organik sebagai campuran PLA.
Continue reading Material M019 – Filament 3D Printer (PLA) dengan Limbah Organik

Posted on Leave a comment

M017 – Papercrete, Teknologi Berusia 5 Dekade

Di antara kita mungkin ada yang pernah membuat prakarya dari bahan papercrete di sekolah. Atau minimal, bubur koran yang dibentuk dengan bantuan lem aci. Betul, papercrete memang sederhana dan sama sekali bukan barang baru, namun bisa jadi sangat bermanfaat jika kita mengupas lagi potensinya. Bagi sebagian pihak, papercrete adalah bahan penelitian yang serius, sebab penggunaan kertas pada campuran beton bisa mengurangi penggunaan portland cement, mengurangi berat satuan beton yang dihasilkan (dead load), meningkatkan kuat lentur, meningkatkan kohesi adonan, mengurangi konduktivitas termal, dan juga mengurangi biaya membuatan beton atau adukan plaster. Kekurangan dari papercrete ada pada sifatnya yang kurang tahan terhadap air (menyerap air), juga kehawatiran publik atas ketahanannya terhadap api. Namun, masing-masing material pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan papercrete ini masih bisa ditutupi dengan waterproof dan tambahan pelindung api.
Continue reading M017 – Papercrete, Teknologi Berusia 5 Dekade

Posted on Leave a comment

Keseimbangan Warna dalam Ruang Eksterior dan Interior

Pertimbangan aplikasi warna pada ruang interior dan eksterior bisa saja berbeda. Ketika berbincang mengenai aplikasi warna eksterior, padu-padan warnanya bisa jadi lebih rumit dari pada ruang interior karena berhubungan dengan bangunan-bangunan milik orang lain, yang dirancang orang lain, dan dibangun orang lain. Setidaknya kita mungkin pernah merasakan, ketika tirai ‘under-construction’ diturunkan, warna-warna eksterior yang muncul di bangunan baru adalah warna-warna ‘mengejutkan’ yang membuat kita speechless. Bangunan iconic atau branding yang ambisius bisa sangat mencolok dalam menampilkan warna, juga bisa sangat memberikan dampak visual pada lingkungan dan masyarakat seperti dalam contoh berikut:
Continue reading Keseimbangan Warna dalam Ruang Eksterior dan Interior

Posted on 1 Comment

Sistem Warna dari Aristoteles hingga RGB & CMYK

Sebelum Newton membuat lingkaran yang memperlihatkan spektrum warna dalam cahaya putih pada abad ke-delapan belas, para pendahulu sudah mencoba mengidentifikasi warna pelangi dan menyusun teori urutan warna (color order). Aristoteles (384- 322 SM), dalam tulisannya yang berjudul De Sensu, mengurutkan aneka warna dari putih ke hitam, seperti dalam diagram berikut:
Continue reading Sistem Warna dari Aristoteles hingga RGB & CMYK

Posted on Leave a comment

Teori Warna dan Optik dari Aristoteles hingga Newton

Serial Warna & Desain – 1442 H / 2021 M

Berkaitan dengan warna, kita para praktisi tentu sehari-harinya sering berinteraksi dengan pewarna (dye) dan pigmen. Pigmen adalah mineral yang secara alami memiliki warna, yang sejak dahulu diolah dan digunakan pada cat, karet, plastik, linoleum, keramik, pensil warna, dan aneka produk lainnya. Pigmen tidak berikatan secara kimia dengan substrat yang diwarnainya, sementara pewarna celup (dye) adalah pewarna yang secara kimia berikatan dengan substrat yang diwarnai. Egyptian blue (calcium copper silicate) dianggap sebagai pigmen pertama yang digunakan oleh manusia (Crewdson, 1953: 34; Habashi, 2016: 156). Pada perkembangan pigmen, bahan-bahan mineral yang sering digunakan sebagai sumber warna adalah: (1) alumunium, (2) arsenic (sudah dilarang karena beracun), (3) cadmium, (4) karbon, (5) cobalt, (6) krom (chromium), (7) tembaga (copper), (8) besi (iron), (9) timbal (sudah dilarang karena beracun), (10) mangan, (11) mercuri (beracun, dahulu pekerja tambangnya adalah narapidana buangan karena merkuri memang sudah dikenal beracun), (12) molybdenum, (13) titanium, (14) seng (zinc), (15) uranium, dan (16) emas (Habashi, 2016: 156-164). Sementara itu bahan organik yang dikenal menghasilkan pigmen di-antaranya: (1) Indanthrene, (2) Phosphotungstic, (3) Alizarin Crimson, (4) Permanent Orange, dan (5) Indanthrene Blue (Crewdson 1953: 88).
Continue reading Teori Warna dan Optik dari Aristoteles hingga Newton

Posted on Leave a comment

Menelaah Kembali Proporsi Matematis dalam Arsitektur dan Desain

Dalam perancangan, kita sering mendengar istilah proporsi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, proporsi berarti ‘perbandingan’, ‘bagian’, atau ‘perimbangan’. Secara praktis proporsi dapat diartikan dengan ‘sejumlah bagian tertentu dibandingkan dengan keseluruhan sesuatu itu’. Proporsi bisa berupa perbandingan antara satu bagian dengan bagian lain dari satu keseluruhan, seperti halnya ‘rasio’. Misalnya jari-jemari kita memiliki proporsi tertentu dibandingkan lengan. Demikian pula kepala memiliki proporsi tertentu dibandingkan tinggi badan keseluruhan, atau dibandingkan dengan tangan dan kaki kita.

Kita mungkin juga sudah sering mendengar istilah di lapangan: ‘’proporsi satu banding dua” atau “proporsi tiga banding lima”, namun apa sebenarnya proporsi dan apakah proporsi begitu penting dalam proses kreasi manusia?
Continue reading Menelaah Kembali Proporsi Matematis dalam Arsitektur dan Desain

Posted on

Material M015 – Bio-Cement, Bio-Grout, dan Bio-Aggregate; Perjalanan Mencari Alternatif Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Hunian adalah kebutuhan primer manusia. Kita bisa menduga, bahwa material penyusun hunian adalah salah satu bentuk ‘engineering’ perintis yang dibuat manusia. Seiring kesadaran dan kepedulian manusia terhadap kelestarian lingkungan, muncul penelitian dan eksperimen rekayasa untuk menghasilkan bahan bangunan yang sesedikit mungkin memberikan dampak negatif kepada lingkungan. Salah satu jalur penelitian ini membawa kita pada istilah “Biomaterial”. Istilah ini berkembang terutama di dunia medis, dalam rangka menghasilkan bahan-bahan implant, obat, dan scaffold jaringan yang tidak membahayakan tubuh. Namun istilah ini juga berkembang ke bidang-bidang lainnya, termasuk dunia konstruksi.

Continue reading Material M015 – Bio-Cement, Bio-Grout, dan Bio-Aggregate; Perjalanan Mencari Alternatif Bahan Bangunan Ramah Lingkungan
Posted on

5 Website Halal-Art dan Halal-Design yang Menginspirasi

Bagi pecinta komposisi dan geometri, dunia seni peninggalan Islam adalah suatu khazanah yang memukau. Keindahan geometri-geometri islam yang bersambung satu sama lain, yang tersusun dari hirarki-hirarki matematis dan pecahan-pecahan surgawi bagaikan keindahan yang tak putus-putus. MasyaAllah.

Sebagai seorang muslim, tentunya dunia sebebas dunia seni pun memiliki batas-batas tertentu, yakni batas halal dan haram. Tidak semua karya seni itu halal. Karya seni yang memuat gambar makhluk bernyawa, contohnya, adalah seni yang dibenci Rasulullah SAW, yang sangat mengganggu beliau ketika beliau hendak shalat. Karya seni yang berisi kata-kata syirik, kata kasar, dan kata-kata jorok juga sangat dibenci dan sangat dilarang. Begitupula karya seni yang mempromosikan dukungan kepada yang memusuhi ataupun mengabaikan ajaran Islam, seperti mempromosikan busana yang tidak menutup aurat, mempromosikan gaya hidup non-muslim, makanan-minuman haram, dan sebagainya.

Continue reading 5 Website Halal-Art dan Halal-Design yang Menginspirasi
Posted on

Strategi Retrofit (Pasca-Konstruksi) untuk Mengatasi Panasnya Dinding Barat dan Utara

Kita yang berada di bawah garis khatulistiwa tentunya sadar bahwa sumber panas terbesar kita, matahari, sangat dominan dari arah Barat dan Utara. Biasanya dinding di sisi Barat dan Utara pada siang hari akan mulai terasa hangat, kemudian semakin hangat di sore hari, dan tetap hangat di malam hari sebelum menjadi dingin di pagi harinya. Fenomena semacam ini bisa diperhatikan di banyak rumah tinggal, gedung sekolah, perkantoran, masjid, dan bangunan komersial, terutama bila kesemua bangunan tersebut dibangun dengan bahan bata dan beton. Tentunya di daerah-daerah panas, kita mengharapkan bangunan kita memiliki temperatur yang sejuk agar dapat digunakan untuk beristirahat baik di siang hari maupun di malam hari. Panas berlebih yang dipancarkan dinding justru akan sangat mengganggu. Sebaliknya di daerah dingin, panas yang tersimpan dalam dinding dapat dimanfaatkan sebagai pemanas alami sesuai kebutuhan kenyamanan di daerah tersebut.

Continue reading Strategi Retrofit (Pasca-Konstruksi) untuk Mengatasi Panasnya Dinding Barat dan Utara
Posted on

G008 – Interpolated, Kinky Curves, Polyline, dan PolyArc

Sebelumnya kita sudah membahas apa itu NURBS.  Bagi yang penasaran untuk apa kita repot-repot belajar NURBS, bisa mampir dulu ke artikel wikipedia terkait sejarah dan perkembangan NURBS. Sementara itu, mari kita masuk ke jenis-jenis curve lainnya dalam Grasshopper.

Interpolated Curves

Ketika membuat Interpolated Curves, semua titik parameter dilalui / dihubungan oleh kurva. Komponen interpolated curves pada Grasshopper yang baru memiliki empat input: V (Vertices), D (Degrees), P (periodic), dan K (knot styles). Input V (vertices) adalah kumpulan titik referensi yang kita ambil dari Rhino. Sama seperti ketika kita akan membuat NURBS Curves. D (degree) juga sama, namun perlu diperhatikan bahwa pada interpolated curves, nilai degrees harus selalu ganjil. Input K, yang tidak ada pada komponen NURBS merujuk pada jarak spacing pada knot. Input K ini diisi dengan interger 0 (uniform spacing), 1 (chord), atau 2 (sqrtchord). Mari kita coba ketiga input tersebut pada komponen <IntCrv> kita dan lihat bagaimana hasilnya. Demikian adalah superimpose dari 3 buah interpolated-curve dengan knot style berbeda-beda.
Continue reading G008 – Interpolated, Kinky Curves, Polyline, dan PolyArc