Posted on

Material M014 – Tegel

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai terrazzo sebagai material yang dapat digunakan untuk melapis lantai, dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai tegel. Apa sih, tegel itu, dan apa ya bedanya dengan keramik? Katanya tegel itu material yang cocok digunakan di negara beriklim tropis, loh. Apa ya, kelebihannya? Kita cari tahu bersama-sama, ya.

Apa itu Tegel?

Tegel, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, adalah batu ubin. Sementara ubin, berdasarkan sumber yang sama, didefinisikan sebagai batu campuran pasir, semen, dan sebagainya yang digunakan untuk lantai (biasanya berbentuk segi empat). Definisi ini menjelaskan mengenai fungsi tegel sebagai material pelapis lantai dan material pembuatnya, yaitu pasir, semen, dan campuran lainnya. Nugroho (2016) menyebutkan bahwa menurut Mangunwijaya, tegel mulai digunakan di Indonesia setelah kedatangan orang Belanda. Kehadiran tegel ini menggantikan material keramik dan plesteran semen yang sebelumnya digunakan sebagai material lantai.

Di Indonesia, Tegel dikenal sebagai material klasik. Salah satu contoh penggunaannya di jaman dahulu adalah pada keraton-keraton di Yogyakarta dan Solo. Belakangan ini, tegel pun kembali naik daun. Penggunaan tegel di rumah ataupun di tempat-tempat komersial juga semakin beragam, selain sebagai material lantai, juga dapat digunakan sebagai material dinding, backsplash di dapur, maupun sebagai material aksesn (dinding, lantai, maupun bagian belakang meja, dan lain-lain). Meskipun begitu, menurut Sigit, pemilik usaha Tegel Panjen, karakter, teknik, cara pemasangan, dan perawatan tegel masih belum banyak diketahui.

Pembuatan Tegel

Tegel merupakan material yang unik karena cara pembuatannya manual. Cara membuatnya adalah dengan menyiapkan semen warna (sebagai lapisan paling atas) dan semen pelapis (untuk memberi ketebalan pada tegel), dan mencetaknya menggunakan cetakan logam. Setelah itu, tegel mengalami proses pressing menggunakan mesin press hidrolik dan pengeringan alami. Proses terakhir ini dapat memakan waktu 20 hingga 28 hari. Menurut Mega Puspa, pemilik pabrik Tegel Kunci di Yogyakarta, jika tegel ‘dipaksa’ kering, kualitasnya justru akan menurun.

Pembuatan tegel secara manual ini memiliki nilai positif dan negatif. Nilai positifnya adalah warna tegel yang dapat disesuaikan dengan keinginan pemesan dan prosesnya relatif lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pembuatan material lantai yang mengalami proses pembakaran. Namun, nilai negatifnya adalah waktu produksinya yang lama dan ukurannya yang tidak presisi satu sama lain. Hal yang terakhir ini sangat mempengaruhi tingkat kesulitan pemasangannya.

Kelebihan dan Kekurangan Tegel

Karena material pembuatnya, tegel memiliki karakteristik berpori. Karakter inilah yang membedakan tegel dengan keramik, marmer, atau material pelapis lantai lainnya. Pori-pori tegel ini menyebabkan tegel dapat ‘bernafas’ dan terasa sejuk sehingga cocok digunakan di daerah beriklim tropis (Nugroho, 2016). Dari segi perawatan dan ketahanan, tegel dapat bertahan hingga puluhan tahun, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan, dan tidak licin sehingga relatif aman.

Setelah membahas beberapa kelebihan tegel, sekarang waktunya untuk membahas beberapa kekurangan material ini. Seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, kekurangan tegel yang pertama adalah dari sisi pemasangannya yang sulit karena ukurannya yang tidak akurat. Selain membutuhkan tim instalasi yang ahli, hal ini juga menyebabkan harga pemasangannya lebih mahal dibandingkan pemasangan ubin keramik. Selain itu, permukaannya yang berpori membuat tegel harus melalui proses sealing agar mudah dibersihkan dan terhindar dari noda. Proses sealing juga mengurangi penyerapan tegel terhadap air (karena permukaan tegel yang berpori). Nah, proses sealing ini harus dilakukan secara menyeluruh di awal pemasangan dan diulangi dalam waktu 2 atau 3 tahun.

Kekurangan lainnya adalah ketebalan tegel yang mencapai 1,5 cm, lebih tebal dibandingkan dengan keramik pada umumnya (6 – 12 mm). Ketebalan dan material pembuatnya juga membuat tegel lebih berat daripada keramik sehingga dalam pemasangannya, perlu memperhatikan kekuatan struktur tempat tegel akan dipasang.

Semoga artikel ini dapat membantu makers yang ingin mengetahui tentang tegel atau ingin menggunakan tegel di rumahnya, ya. Selamat bereksplorasi.

Sumber:

Fazio, E. The Pros and Cons of Concrete Tiles. DIY Network. Retrieved from https://www.diynetwork.com

Haryanti, R. (2018, August 8). Proses Panjang Pembuatan Tegel. Kompas.com. Retrieved from https://properti.kompas.com

Haryanti, R. (2018, August 3). Mengenal Tegel yang Kembali Naik Daun. Kompas.com. Retrieved from https://properti.kompas.com

Nugroho, M. D. (2016). Karakter Visual pada Motif Ornamen Tegel Kunci Yogyakarta. Ornamen Jurnal Kriya Seni ISI Surakarta7(1).

Osowski, E. (2018, March 15). Cement Vs. Ceramic Tile: Why We Choose Ceramic for Our Bathroom. Tiny Rehab. Retrieved from https://www.tinyrehab.com

kbbi.web.id

Posted on

Material M013 – Terrazzo

Belakangan ini, terrazzo kembali populer sebagai material dalam dunia arsitektur. Material ini merupakan produk turunan dari mosaik marmer yang digunakan di Venice, Italia, di abad ke-16 sebagai material lantai di istana maupun di rumah-rumah. Melalui artikel ini, kita akan membahas mengenai sejarah terrazzo, cara pemasangan, hingga kelebihan dari material ini.

Terrazzo dari Masa ke Masa

Terrazzo adalah material komposit yang terbuat dari pecahan marmer, kuarsa, granit, kaca, dan batu lainnya yang diatur di atas binder tertentu (misalnya semen) dan dipoles hingga menjadi sebuah material dengan permukaan yang rata.

Material ini ‘ditemukan’ secara tidak sengaja oleh pekerja marmer di Venice, Italia, yang menemukan cara efektif untuk menggunakan sisa-sisa marmer dari konstruksi. Pekerja-pekerja tersebut menggunakan terrazzo untuk membuat teras di rumah mereka sendiri. Pada masa itu, teknik meratakan permukaan terrazzo berkembang dari cara yang paling sederhana yaitu diamplas menggunakan batu dengan tangan, hingga digiling dengan batu (galero). Mereka juga menemukan bahwa terrazzo yang dipoles (pada masa itu menggunakan susu kambing) dapat memberikan tampilan warna yang lebih cerah dan kilap yang mirip dengan marmer.

Meskipun penggunaan terrazzo sudah dimulai sejak abad ke-16 di Italia, material ini baru dikenalkan ke Amerika Serikat pada tahun 1890. Penggunaannya meningkat seiring dengan lonjakan imigran asal Italia, antara tahun 1900 hingga 1915 dan penemuan penggiling listrik pada tahun 1924.

Terrazzo tradisional menggunakan semen sebagai binder untuk agregatnya. Terrazzo jenis ini dapat digunakan di luar maupun di dalam ruangan, namun pemasangannya membutuhkan tenaga ahli yang saat ini sudah sulit untuk ditemukan. Terrazzo yang digunakan sekarang, sebagian besar merupakan epoxy-based terrazzo. Terrazzo jenis ini memiliki kelebihan berupa ukurannya yang lebih tipis dibandingkan terrazzo semen, lebih ringan, pemasangannya lebih mudah, dan warnanya lebih bervariasi. Namun, epoxy-based terrazzo hanya dapat digunakan di dalam ruangan, karena warnanya dapat berubah jika digunakan di luar.

Kepala Divisi Desain dan Produk British Ceramic TileClaire O’Brien mengatakan bahwa terrazzo merupakan alternatif pengganti beton dan granit yang menarik.  Di masa kini, terrazzo tidak hanya digunakan sebagai material lantai, table top, dan backsplash. Desainer mengeksplorasi ‘motif’ terrazzo untuk diadaptasi menjadi perlengkapan rumah seperti karpet, alat makan, hingga lamp shade.

Jenis-Jenis Terrazzo dan Cara Pemasangannya

Terrazzo dapat dibedakan berdasarkan cara pemasangannya.

Berdasarkan cara pemasangannya, terrazzo dapat dibedakan menjadi dua jenis, poured-in-place terrrazzo dan pre-cast terrazzo. Sesuai dengan namanya, poured-in-place terrazzo dipasang langsung di tempat (in-situ) sementara pre-cast terrazzo adalah terrazzo yang dibuat dalam bentuk tile berbentuk persegi dalam ukuran beragam (10 x 10 cm sampai 40 x 40 cm) dan digunakan secara luas sebagai material lantai untuk rumah, bangunan komersial, hingga bangunan institusional di negara-negara Mediterania, Timur Tengah, Asia dan di beberapa tempat di Amerika.

potongan pre-cast terrazzo

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat skema berikut ini:

skema pemasangan pre-cast terrazzo

 

skema pemasangan poured-in-place terrazzo

Dalam pemasangan poured-in-place terrazzo, pekerja menggunakan pemisah berbahan metal untuk mengerjakan terrazzo dalam bagian-bagian kecil, membatasi bagian yang memiliki warna atau desain terrazzo yang berbeda, dan yang terpenting, memberi ruang jika terrazzo memuai untuk mencegah terjadinya keretakan. Teknik ini ditemukan oleh L. Del Turco and Bros, Inc. pada tahun 1924.

Kelebihan dan Kekurangan Terrazzo

Secara tampilan, terrazzo memang menarik dan tidak mungkin memiliki motif yang sama. Motifnya, yang terbuat dari serpihan material membuatnya unik sekaligus ramah lingkungan karena dapat memanfaatkan sisa-sisa material dari proses konstruksi. Terrazzo juga termasuk material yang tahan lama, mudah dirawat, dan memberikan kesan mewah pada ruangan. Namun, terrazzo juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu harganya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan, misalnya, keramik, dan pemasangannya yang membutuhkan tenaga yang ahli.

Semoga artikel ini menjawab rasa penasaran makers yang mungkin tertarik untuk menggunakan material terrazzo, ya. Selamat mendesain dan bereksplorasi!

Sumber:

Karam, Gebran & Tabbara, Mazen. (2009). Properties of pre-cast terrazzo tiles and recommended specifications. Cerâmica. 55. 84-87. 10.1590/S0366-69132009000100011.

Lagdameo, Jennifer Baum. Material Guide: Everything You Need To Know About Terrazzo. 2017. https://www.dwell. com/article/terrazzo-flooring-5a3c5003

A Brief History of Terrazzo. National Terrazzo and Mosaic Association, Inc. http://ntma. com/wp-content/uploads/2015/06/History-of-Terrazzo.pdf

How to Specify: Terrazzo Flooring. https://architizer.com /blog/practice/details/how-to-specify-terrazzo-flooring/

What is Terrazzo? Here is Why it’s One of 2018’s Biggest Interior Design Trends. (2018). https://www.housebeautiful.com /uk/decorate/looks/a21525630/terrazzo-interior-design-trend/

2 Ways to Install Terrazzo. http://doyledickersonterrazzo.com /2-ways-to-install-terrazzo/

https://en.wikipedia.org/wiki/Terrazzo

Posted on

Nyaman dalam Ruang #4: Kualitas Udara dalam Ruang

Baca judul lain dari seri ini di sini:

Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Nyaman dalam Ruang #2: Passive Cooling

Nyaman dalam Ruang #3: Polusi Suara

Kualitas udara dalam ruang ternyata dapat menentukan tingkat kenyamanan suatu ruang dan mempengaruhi kondisi tubuh penghuni ruang tersebut. Tanpa kita sadari, kualitas air dalam ruang, seperti juga di luar ruangan, dapat mengandung material polutan di dalamnya. Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa kandungan polutan dalam udara di dalam ruangan bisa jadi 2 hingga 5 kali lebih banyak daripada kandungan polutan udara di luar ruangan. Karena itu, jika kita lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan, kenyamanan dan kondisi tubuh kita akan lebih mudah terpengaruh oleh kualitas udara di dalam ruang.

Yuk kita cari tahu apa saja komponen polutan udara dalam ruangan, sumber polutan dan efeknya, serta bagaimana cara memperbaiki kualitas udara di dalam ruang.

Penyebab Buruknya Kualitas Udara dalam Ruang

Kualitas udara di dalam ruangan dapat menurun akibat tidak adanya pergerakan udara di dalam ruang akibat kurang atau tidak adanya ventilasi pada ruang, dan karena kandungan polutan pada udara dalam ruang. Ventilasi ruang sebetulnya memiliki peran penting dalam membantu pergerakan udara di dalam ruang. Karena itu, perencanaan pembangunan yang baik juga dapat mempengaruhi kualitas air dalam ruang. Sementara itu, kandungan polutan udara pada ruang dapat disebabkan oleh aktivitas penghuni dan benda-benda yang berada di dalam ruang. Berikut ini adalah beberapa jenis polutan tersebut:

Volatile Organic Compounds (VOCs) – US Environmental Protection Agency (EPA) mendefinisikan VOCs sebagai senyawa kimia organik yang dapat menguap dalam temperatur dan tekanan ruang. Keberadaan VOCs di dalam ruang dapat berasal dari cat, semprotan aerosol, cairan pembersih, produk otomotif, pestisida, pakaian yang di dry-clean, peralatan seni (lem, spidol permanen), dan lain-lain. Senyawa kimia ini dapat menimbulkan masalah kesehatan jika terkandung dalam jumlah yang besar dalam udara dalam ruang.

Salah satu contoh senyawa VOC adalah Formaldehida. Dalam ruangan, formaldehida berasal dari furnitur dan produk kayu yang terbuat dari particle board, plywood, dan MDF (yang terbuat dari formaldehyde-based resin), material isolator (foam), kain, produk DIY (lem, varnish, cat, dll), produk pembersih (detergen, pelembut pakaian, disinfektan, dll), sampo, sabun cair, pestisida, hingga peralatan elektronik seperti mesin foto kopi dan komputer. Beberapa efek jangka pendek dari paparan formaldehida dalam jumlah yang banyak adalah iritasi sensorik, radang paru-paru, asma, hingga reaksi alergi.

Particulate Matter (PM) – US Environmental Protection Agency (EPA) mendefinisikan Particulate Matter sebagai campuran antara partikel solid dan liquid yang berada di udara dan memiliki diameter, bentuk, dan komposisi yang berbeda-beda. PM yang membahayakan jika berada di dalam udara ruangan adalah yang memiliki ukuran 10 mikrometer, karena partikel pada ukuran tersebut dapat terhirup oleh manusia. Jika terhirup dalam jumlah banyak, partikel dapat menimbulkan kerusakan pada paru-paru dan jantung. Sumber PM dalam ruang dapat berasal dari alat penghangat ruangan, kompor, dan cerobong asap.

Kontaminan Biologis – misalnya bau badan tidak sedap, benda atau saluran yang basah atau lembab di dalam ruang, tungau, dan kotoran binatang.

Gas yang berasal dari bawah tanah – radon dan bau dari saluran pembuangan

Akibat Kualitas Udara Ruang yang Buruk

Kualitas udara yang buruk memiliki efek yang berbeda-beda pada tiap individu. Hal ini berkaitan dengan sensitivitas individu tersebut terhadap polutan. Berikut ini adalah beberapa efek yang dapat timbul akibat buruknya kualitas udara suatu ruangan pada penghuninya:

Efek Jangka Pendek – efek jangka pendek biasanya terjadi dalam 24 jam setelah paparan terhadap udara ruangan yang buruk. Efek yang mungkin timbul contohnya adalah pusing dan reaksi alergi (gatal-gatal). Efek jangka pendek ini dapat hilang dengan cepat, tapi bisa juga berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Efek Jangka Panjang – efek jangka panjang dapat terjadi jika penghuni ruang terpapar udara yang mengandung asap tembakau, radon, asbes, dan benzena dalam waktu yang lama, meskipun konsentrasi paparannya sedikit. Efek yang sering dikaitkan dengan hal ini adalah kanker.

Rasa Tidak Nyaman – merasa gerah, mencium bau yang tidak nyaman, hingga iritasi hidung dan mata dapat terjadi akibat ruangan yang pengap karena udara tidak dapat bergerak atau terganti.

Penurunan Performa – sebuah studi menyatakan bahwa penurunan performa seseorang dalam aktivitas fisik maupun konsentrasi dalam ruangan dapat terjadi akibat ruangan yang tidak memiliki ventilasi yang baik dan adanya kandungan polutan pada udara dalam ruang.

Cara Memperbaiki Kualitas Udara di Dalam Ruangan

Efek yang dapat ditimbulkan dari buruknya kualitas udara dalam ruang ternyata cukup banyak dan signifikan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, ada baiknya kita juga mengetahui cara-cara yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kualitas udara dalam ruang.

Menggunakan alat pembersih udara – Alat pembersih udara seperti air purifier dapat menyaring udara dari polutan berbentuk partikel maupun gas. Nilai Clean Air Delivery Rate (CADR) pada alat yang digunakan menunjukkan kemampuan untuk menyaring partikel. Nilai CADR berbanding lurus dengan luas area yang dapat dibersihkan secara optimal oleh alat tersebut. Sementara itu, untuk menyaring polutan berbentuk gas, air purifier harus memiliki filter penyaring gas (misalnya yang terbuat dari karbon aktif).

‘Menganginkan’ ruang (aerating– aerating dilakukan dengan cara memasukkan udara dari luar pada waktu tertentu (misalnya di pagi hari) dengan cara membuka jendela atau pintu selama beberapa saat. Udara yang masuk akan secara alami menggantikan udara yang ada di dalam dengan mengeluarkan udara

Menggunakan sistem ventilasi yang sesuaiventilating merupakan usaha memasukkan udara untuk menggantikan udara yang ada di dalam ruang dengan menggunakan alat. Berbeda dengan aeratingventilating dilakukan sepanjang alat yang digunakan dipasang. Jadi, bisa dilakukan terus-menerus, bukan hanya pada waktu dan durasi tertentu saja. Nah, sistem ventilasi yang dapat dilakukan ada 3 jenis, yaitu:

Natural ventilation – sistem ventilasi ini dilakukan secara alami, misalnya menggunakan jendela, pintu, atau bukaan yang terdapat di dalam ruangan. Meskipun sistem ini tidak membutuhkan alat dan energi tambahan, kekurangannya adalah sistem ini tidak dapat dikontrol oleh penghuni ruang.

Spot ventilation – sistem ini dilakukan dengan mengontrol pergerakan udara dengan menggunakan exhaust fan yang diletakkan pada titik tertentu di dalam ruang. Dengan sistem ini, polutan dan kelembaban berlebih pada udara yang berasal dari sumber tertentu dapat menghilang. Contoh spot ventilation adalah dengan meletakkan exhaust fan di kamar mandi atau menggunakan penghisap asap di atas kompor.

Whole house ventilation – sesuai dengan namanya, sistem ini dilakukan dengan menempatkan sejumlah exhaust fan di berbagai titik dalam sebuah bangunan. Sistem ini dibagi tiga, yaitu:

Memiliki aliran udara yang baik di dalam ruang memberikan beberapa keuntungan bagi penghuni ruang, seperti 1) hilang atau berkurangnya polutan udara dalam ruang; 2)  menghilangkan bau tidak sedap; 3) menghilangkan CO2 hasil dari proses pernapasan dan pembakaran dan meningkatkan jumlah gas O2; dan 4) mengurangi kelembaban dalam rumah.

Meskipun kita mengetahui keberadaannya, kualitas udara dalam ruang bisa jadi salah satu hal yang masih luput dari perhatian kita sebagai penghuni. Semoga informasi ini dapat membuat makers jadi lebih paham dan bisa dengan nyaman beraktivitas di dalam ruangan ya.

Sumber:

Kaden, Debra A.; Mandin, Corinne; Nielsen, Gunnar D.; Wolkoff, Peder. (2010). WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Selected Pollutants. https://www.ncbi.nlm .nih.gov/books/NBK138711/

EPA Indoor Environment Division. (July 2018). Guide to Air Cleaners in the Home. https://www.epa.gov/ sites/production/files/2018-07/documents/guide_to_air_cleaners_in_the_home_2nd_edition.pdf

Fundamentals of Indoor Air Quality. https://www.epa.gov/indoor-air-quality-iaq /fundamentals-indoor-air-quality-buildings

Guide to Home Ventilation. https://www.energy.gov /sites/prod/files/guide_to_home_ventilation.pdf

How to Air Your House Properly. https://www.energuide.be /en/questions-answers/how-to-air-your-house-properly/1712/

Indoor Particulate Matter. https://www.epa.gov /indoor-air-quality-iaq/indoor-particulate-matter

Introduction to Indoor Air Quality. https://www.epa.gov/ indoor-air-quality-iaq/introduction-indoor-air-quality

Technical Overview of Volatile Organic Compounds. https://www.epa.gov/ indoor-air-quality-iaq/technical-overview-volatile-organic-compounds

What is the  Difference Between Ventilating and Aerating. https://www.energuide.be /en/questions-answers/what-is-the-difference-between-ventilating-and-aerating/753/

 

Posted on

Nyaman dalam Ruang #3: Polusi Suara

Baca judul lain dari seri ini di sini:

Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Nyaman dalam Ruang #2: Passive Cooling

Jika kita beraktivitas di kota besar yang ramai, pasti kita terbiasa dengan suara-suara di sekeliling kita. Suara mobil di jalan, dengung alat elektronik, suara orang bercakap-cakap, hingga suara pesawat yang kadang-kadang melintas. Coba sesekali kita berkunjung ke desa, gunung, atau tempat lain yang lebih sepi. Pasti suasananya berbeda, ya. Namun, karena sudah terbiasa dengan suara di sekeliling kita, bisa jadi kita tidak menyadari bahwa suara-suara di sekeliling kita ternyata mempengaruhi kualitas lingkungan dan kenyamanan kita.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak yang ditimbulkan dari polusi suara, mari kita simak pembahasan berikut ini.

Apa itu Polusi Suara?

level bahaya intensitas suara dan sumbernya

Polusi suara didefinisikan sebagai suara dengan volume berlebihan atau mengganggu yang mengganggu (secara terus-menerus maupun sementara) pada suatu area. World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa suara dengan intensitas 70dB ke bawah merupakan batas intensitas yang aman untuk makhluk hidup meskipun paparan terhadap suara tersebut berlangsung secara terus menerus. Sementara itu, suara dengan intensitas 85 dB atau lebih akan berbahaya jika waktu paparannya mencapai lebih dari 8 jam secara terus-menerus. Contoh dari paparan suara keras yang berbahaya adalah ketika kita beraktivitas di dekat jalan yang sibuk dengan kendaraan.

Selain kualitas air, udara, maupun permasalahan sampah, polusi suara bisa disebut sebagai salah satu faktor yang mengurangi kualitas lingkungan dan hidup di perkotaan.

Sumber Polusi Suara dan Akibatnya

Beberapa sumber suara yang dapat dikategorikan sebagai sumber polusi suara adalah sebagai berikut:

Meskipun kelihatan sepele dan seringkali kita temui sehari-hari, ternyata suara yang berlebihan atau tergolong ke dalam polusi suara, dapat mengakibatkan berbagai masalah bagi manusia. Beberapa dampaknya adalah sebagai berikut:

  • Masalah pendengaran – paparan terhadap suara keras secara terus menerus dapat merusak gendang telingan dan menurunkan sensitivitas telinga terhadap suara.
  • Masalah kesehatan – masalah kesehatan ini dapat berupa kesehatan psikis seperti stres, gangguan tidur dan aggressive behavior, dan kesehatan fisik seperti hipertensi dan kelelahan
  • Perkembangan anak – sebuah studi menyatakan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan dengan polusi suara dapat mengalami keterlambatan membaca, kesulitan memahami dan membedakan suara, dan dapat memiliki tekanan darah dan stress level yang lebih tinggi.

Menghindari Polusi Suara

Setelah mengetahui apa bahaya dari polusi suara, sekarang mari kita mencari tahu bagaimana cara menghindarinya untuk menambah kenyamanan kita beraktivitas di dalam ruang.

  • Menutup jendela – jendela yang ditutup menutup jalan gelombang suara untuk masuk ke dalam ruang. Karena itu, menutup jendela dapat mengurangi intensitas suara yang masuk ke dalam ruangan. Menggunakan double-pane window (jendela dengan dua buah kaca yang dipisahkan oleh ruang udara) juga dapat menngurangi dampak dari polusi suara di dalam ruangan.
  • Soundproofing soundproofing bekerja dalam 2 cara, yaitu mencegah gelombang suara masuk atau ke luar ruangan (dengan menggunakan partisi ruangan maupun dinding tebal), dan menyerap gelombang suara (misalnya menggunakan busa atau melapisi lantai dengan karpet atau vinyl).
  • Menanam pohon atau membangun di tempat yang memiliki tumbuhan – Ranting, batang, daun, dan bagian-bagian pohon lainnya memecah dan memantulkan gelombang suara sehingga intensitasnya mengecil. Beberapa studi menyebutkan area hijau yang rimbun dapat mengurangi intensitas suara hingga 6-10 dB. Meskipun begitu, efeknya tidak bisa disamakan dengan efek yang dihasilkan dari penggunaan soundproofing pada bangunan.
diagram kawasan kebisingan berdasarkan PP nomor 40 tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Bandar Udara

Perencanaan kota yang baik juga sebetulnya dapat menghindari paparan terhadap polusi suara. Salah satu caranya adalah dengan membuat peraturan mengenai lokasi lahan untuk perumahan. Sebagai contoh, di Indonesia terdapat aturan mengenai kawasan kebisingan untuk menentukan bangunan dengan aktivitas apa yang dapat dibangun dalam area di sekitar bandara. Jarak dan luas kawasan kebisingan ini dapat ditentukan dengan melakukan pengukuran langsung karena perbedaan aktivitas bandara dapat mempengaruhi intensitas suara yang dihasilkannya.

 

Sumber:

Peraturan Pemerintah no. 44 Tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Bandar Udara Pasal 33 – 37

Dobson, Martin & Ryan, Jo. Trees and Shrubs for Noise Control. https://www.trees.org.uk/ Trees.org.uk/files/8c/8c69f212-a82e-424b-96d1-c8ff6dc02403.pdf

Kivi, Rose. How Does Sound Proofing Work?. https://www.hunker.com /13412617/how-does-sound-proofing-work

20+ Easy and Practical Ways to Reduce Noise Pollution https://www.conserve-energy-future .com/easy-and-practical-ways-to-reduce-noise-pollution.php

Noise Pollution (Eco-Healthy Child Care) https://health.ucdavis.edu /mindinstitute/resources/resources_pdf/Noise_Pollution_7_14.pdf

Understanding Noise Pollution. https://www.conserve-energy-future.com/ causes-and-effects-of-noise-pollution.php

What is Noise Pollution. https://www.environmentalpollutioncenters.org /noise-pollution/

Posted on

Nyaman dalam Ruang #2: Passive Cooling

Baca judul lain dari seri ini di sini:

Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Jika sebelumnya kita sudah mengetahui apa yang dapat membuat bangunan atau ruangan kita terasa panas, sekarang, kita akan mempelajari hal apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai thermal comfort di dalam ruang. Sebagai penduduk di negara beriklim tropis khatulistiwa, kita mungkin dimudahkan dengan perbedaan temperatur sepanjang tahun yang tidak terlalu ekstrim.

Penggunaan kipas angin dan pendingin ruangan juga merupakan cara yang lumrah untuk mencapai thermal comfort dalam sebuah bangunan. Cara tersebut memang merupakan sebuah cara paling efektif dan mudah. Namun, penggunaan pendingin ruangan memiliki efek yang buruk bagi lingkungan, yaitu peningkatan konsumsi energi, penipisan ozon, pemanasan global, dan permasalahan kualitas udara di dalam ruangan.

Karena itu, artikel kali ini akan membahas mengenai cara untuk mencapai thermal comfort dengan mempertimbangkan desain dari sebuah bangunan.

Apa itu Passive Cooling?

Desain suatu bangunan dapat mempengaruhi temperatur dalam ruang pada bangunan tersebut. Beberapa faktor yang dapat menjadi pertimbangan dalam desain sebuah bangunan adalah arah muka bangunan, jumlah dan letak bukaan bangunan, hingga perlakuan terhadap ruang luar sebuah bangunan. Faktor-faktor ini bisa jadi merupakan cara untuk membuat passive cooling terjadi dalam bangunan.

Apakah passive cooling itu?

Passive cooling adalah proses menurunkan temperatur ruang dalam hingga berada dalam temperatur ideal dengan proses alami tanpa penggunaan alat elektronik. Proses ini membutuhkan energi dan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan metode lain (misalnya penggunaan pendingin ruangan). Prinsip kerjanya juga sederhana, yaitu mengurangi panas yang terserap oleh bangunan dan menghilangkan panas berlebih yang tersimpan pada bangunan.

Mendinginkan ruang dalam bangunan dengan cara passive cooling telah terbukti dapat mengurangi beban pendinginan (cooling load) dari sebuah bangunan secara efektif. Selain itu, metode ini juga dapat menciptakan kondisi thermal comfort, meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan, dan membutuhkan konsumsi energi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan pendingin ruangan.

Mendesain Bangunan untuk Memungkinkan Terjadinya Passive Cooling

Passive cooling dalam bangunan dapat terjadi dengan cara mendesain bangunan dengan baik. Beberapa desain yang dapat dilakukan untuk menciptakan proses passive cooling dalam bangunan adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan jendela dengan shading device. Shading device yang dimaksud bisa berada di dalam ruangan (kerai, vitrase) maupun di luar ruangan (kanopi).
  • Menggunakan low-e glass atau jendela kaca berisi gas mulia. E-coated glazing meminimalisir jumlah sinar ultraviolet dan inframerah yang masuk melalui kaca. Kaca jenis ini biasanya tetap dapat meneruskan cahaya alami ke dalam ruangan. Sementara kaca berisi gas mulia merupakan dua panel (atauh lebih) kaca yang diisi dengan gas. Gas mulia (biasanya Argon atau Krypton) dapat memperlambat laju transfer panas dari luar bangunan ke dalam bangunan. Namun, kaca jenis ini biasanya jauh lebih mahal harganya daripada kaca yang hanya diisi udara.
kiri: kaca dengan low-e coating | kanan: kaca dengan gas mulia
  • Cross-ventilation dan stack ventilationPenggunaan ventilasi pada ruangan memberi jalan pada angin untuk membawa udara dengan temperatur lebih rendah dan mengeluarkan udara dengan temperatur lebih tinggi. Pada cross ventilation, ventilasi berada di dua sisi bangunan pada jalur gerak angin. Sementara pada stack ventilation, ventilasi berada di satu sisi bangunan dan jalan keluar lainnya berada di bagian atas bangunan (misalnya langit-langit atau atap). Sistem ini memanfaatkan gerak alami udara panas yang selalu naik. Udara yang lebih dingin akan masuk melalui ventilasi di sisi bawah bangunan dan menggantikan udara panas tersebut.
kiri: cross ventilation | kanan: stack ventilation

  • Evaporative coolingPeletakkan kolam atau water feature lain di bagian luar bangunan dapat membantu mendinginkan udara yang masuk ke dalam ruangan melalui bukaan. Karena itu, cara ini tergantung pada posisi water feature dan bukaan dari sebuah bangunan.
  • Memperhatikan bentuk bangunan dan posisi bukaan bangunan. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan proses passive cooling suatu bangunan. Bukaan yang terletak di bagian timur dan barat bangunan akan menambah panas suatu ruangan karena letaknya sama dengan jalur matahari. Bentuk bangunan yang memanjang dari barat ke timur juga membuat paparan matahari terhadap bangunan lebih sedikit dibandingkan bangunan yang memanjang dari utara ke selatan.
  • menggunakan tipe jendela yang tepat. Desain jendela dapat menentukan arah angin dari luar ke dalam bangunan. Jendela dengan bukaan yang digeser dapat memasukkan 50% angin ke dalam ruangan, jendela dengan kisi-kisi (louver), dapat mengarahkan dan memasukkan angin sebanyak 95%, sementara jendela jungkit dapat mengarahkan angin ke dalam ruangan.
  • memperhatikan posisi pohon di sekitar bangunan. Naungan pohon dapat mengurangi paparan matahari terhadap bangunan dan mengurangi temperatur bangunan tersebut. Sebuah studi menyebutkan bahwa naungan dan proses evapotranspirasi pohon dapat menurunkan temperatur hingga 5°C.

Penerapan desain ini tentu dapat berbeda-beda tergantung pada local climate suatu daerah. Misalnya, posisi jendela yang tepat di area beriklim tropis adalah di selatan, sementara di area lainnya adalah di utara. Hal ini dipengaruhi oleh posisi matahari pada area-area tersebut.

Demikianlah pembahasan mengenai passive cooling. Semoga menambah informasi bagi makers yang masih bertanya-tanya kenapa rumahnya terasa panas, ingin mulai renovasi atau membangun rumah ya.

Sumber:

Choudhary, Satyanarayan & Singh Thakur, Manvendra & Dogne, Nitesh. (2014). PASSIVE COOLING TECHNIQUES, DESIGN CONCEPT AND VENTILATION TECHNIQUES.

Santamouris, Mat. (2005). Passive cooling of buildings. 34.

http://www.yourhome.gov.au/ passive-design/passive-cooling

Posted on

Nyaman dalam Ruang #1: Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Pernah merasa kepanasan saat berdiam diri dalam suatu bangunan? Tentu pernah, ya. Sekarang, pernah nggak terpikir kenapa kita bisa merasa kepanasan dalam bangunan yang sama? Nah, kalau pernah kepikiran, dalam artikel kali ini kami akan menjelaskan beberapa alasannya. Siapa tahu ada dari makers yang berniat merenovasi rumah karena merasa rumahnya panas? Yuk, simak lebih dahulu apa sih yang mempengaruhi panas di dalam bangunan.

Thermal Comfort

Thermal comfort (atau kenyamanan termal) merupakan sebuah keadaan di mana manusia (sebagai penghuni dari suatu ruang) merasa nyaman dengan temperatur di dalam ruangan. Hal ini sebetulnya bersifat subjektif, karena tingkat kenyamanan setiap orang terhadap panas berbeda-beda. Tapi pada dasarnya, tubuh manusia secara alami mempertahankan suhu tubuhnya pada suhu 37°C. Jika suhu dalam tubuh meningkat (misalnya karena aktivitas metabolisme), maka tubuh akan melepaskan panas dari dalam tubuh (misalnya dengan berkeringat), dan sebaliknya.

Proses ini tergantung pada suhu lingkungan. Jika suhu di sekitar kita terlalu tinggi atau sama dengan suhu alami tubuh, proses pelepasan panas dari dalam tubuh kita tidak akan terjadi karena panas bergerak dari suhu yang lebih tinggi ke rendah. Tubuh kita justru akan menerima panas dan kita merasa gerah. Sebaliknya, jika suhu sekitar kita rendah, panas tubuh akan lebih mudah terlepas sehingga kita bisa merasa kedinginan.

Kesimpulannya, thermal comfort dapat kita capai dengan mengatur panas ruangan agar proses pelepasan panas tubuh dapat terjadi.

Kenapa Ruangan Terasa Panas?

Kenapa sebuah ruangan atau bangunan dapat terasa panas? Hal ini bisa kita jawab dengan mengetahui bagaimana transfer panas dapat terjadi. Tinggal di negara tropis membuat kita memiliki satu sumber panas yang besar, yaitu matahari. Nah, panas dari matahari dapat memanaskan sebuah ruangan dalam 3 cara: konduksi, konveksi, dan radiasi. Meskipun ketiga proses transfer panas ini pasti terjadi secara alami, ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk memperlambat laju transfernya sehingga kita dapat mempertahankan temperatur yang nyaman.

  • Konduksi

Panas dari matahari dapat memanaskan dinding bagian luar bangunan yang terekspos langsung dengan matahari. Panas ini merambat dari dinding bangunan bagian luar melalui lapisan dinding hingga memanaskan bagian dalam dinding yang lebih rendah suhunya karena tidak terkena langsung sinar matahari. Karena itu, solusi untuk menghambat laju transfer panas ini adalah dengan memilih material dinding yang memiliki nilai konduktivitas rendah, seperti batu bata atau menambahkan material insulator yang tidak menghantarkan panas.

  • Konveksi

Contoh perpindahan panas dengan metode konveksi adalah memanasnya udara yang terkena sinar matahari atau udara di bagian dalam ruangan yang dindingnya panas akibat proses konduksi. Perpindahan panas jenis ini sulit untuk dihambat, kecuali dengan cara melambatkan aliran udara yang masuk ke dalam ruangan.

  • Radiasi

Matahari, sebagai sumber panas terbesar, merambatkan panasnya melalui gelombang elektromagnetik. Ruangan yang memiliki akses langsung ke sinar matahari bisa terasa panas karena proses radiasi ini. Karena itu, peletakkan bukaan dalam ruangan dan posisi rumah terhadap naungan dari pohon atau bangunan di sekitarnya adalah cara untuk menghindari panasnya bangunan akibat radiasi.

 ***

Dengan mengetahui kenapa ruangan bisa terasa panas, semoga makers bisa menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi dan posisi ruangan masing-masing ya!

 

Sumber:

van Hoof, Joost & Mazej, Mitja & Hensen, Jan. (2010). Thermal comfort: Research and practice. Frontiers in Bioscience. 15. 765-788. 10.2741/3645.

https://www.scientificamerican.com /article/why-people-feel-hot/

Video Heat Transfer: Crash Course Engineering #14

Posted on

Material M012 – Mud Brick, Material Bangunan Kuno

Lumpur merupakan material berbentuk liquid maupun semi-liquid yang terbuat dari campuran air dan beberapa jenis tanah (misalnya loam, silt, atau lempung). Secara alami, lumpur dapat terbentuk setelah terjadi hujan atau di daerah yang dekat dengan sumber air. Kita biasa melihat lumpur sebagai permukaan tanah yang lembek dan cenderung membuat kotor jika diinjak. Namun, tahukah makers bahwa lumpur dapat diproses menjadi mud brick, sebuah material bangunan yang sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu.

Kenapa Menggunakan Mud Brick?

Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, beragamnya material bangunan dengan berbagai kelebihannya, mungkin akan sulit membayangkan kenapa mud brick merupakan sebuah pilihan material bangunan yang digunakan secara luas pada masanya. Beberapa alasannya adalah:

  1. Ketersediaannya yang Melimpah – Tanah merupakan material yang tersedia melimpah di berbagai tempat. Hal ini memudahkan orang untuk mendapatkan akses pada material tersebut dan menggunakannya.
  2. Relatif Murah dan Hemat Energi – Penggunaan mud brick di masa lalu tidak membutuhkan teknologi pembuatan mutakhir maupun teknik yang sulit. Ketersediaannya juga membuat biaya transportasi material ke lokasi yang memerlukan bisa jadi tidak dibutuhkan atau sangat minim.
  3. Menciptakan kenyamanan termal (thermal comfort) pada bangunan – tanah sebagai  merupakan penyerap panas yang baik. Pada siang hari, panas diserap oleh tanah sehingga dinding dalam bangunan akan terasa sejuk, sementara di malam hari, saat udara relatif sejuk, panas tersebut akan dilepaskan sehingga bagian dalam bangunan terasa lebih hangat. Kemampuan ini, pada mud brick, dipengaruhi oleh kandungan air  pada tanah sebagai material penyusunnya dan siklus kering-basah dinding bangunan yang dipengaruhi oleh eksposur oleh hujan dan panas matahari.

Penggunaan Mud Brick dalam Arsitektur

Karena lumpur dapat terbentuk dari komponen tanah yang berbeda-beda, maka karakteristik dan teknik penggunaannya juga dapat berbeda pula. Berikut ini adalah beberapa material konstruksi yang terbuat dari lumpur:

Cob dan Adobe

Cob dan adobe tersusun dari tanah dengan komposisi 75-85% pasir/agregat dan 15-25% lempung dan dicampur dengan jerami dan air. Perbedaannya adalah, jika cob langsung digunakan sebagai material konstruksi, maka adobe dibentuk terlebih dahulu menjadi bata dan dikeringkan di bawah sinar matahari.

Compressed Earth Block

Jika cob dan adobe merupakan material tradisional yang tidak membutuhkan alat tertentu dalam pembuatannya, compressed earth block membutuhkan sedikit teknologi dalam pembuatannya. Campuran dari tanah (mentah maupun diberi stabilizer) diberi sedikit air agar lembab, lalu dimasukkan ke dalam cetakan besi untuk diberikan tekanan secara manual maupun menggunakan mesin. Penggunan soil stabilizer dalam campuran tanah membuat material dapat digunakan untuk membangun dinding yang lebih tinggi dan lebih tipis daripada dengan material tanah lainnya, kuat terhadap tekanan, dan tahan air.

Fired Brick

Seperti namanya, campuran lumpur yang tanahnya berupa lempung dan pasir dibentuk dan melalui proses pembakaran sebelum dapat digunakan. Material jenis ini lebih tahan lama namun membutuhkan lebih banyak energi daripada jenis material tanah lainnya.

Al Ajmi et al (2016), menyebutkan bahwa mud brick relatif lebih banyak digunakan di negara-negara padang pasir. Hal ini disebabkan karena ketersediaan silt dan lempung dalam tanah di negara-negara tersebut. Salah satu contoh penggunaannya, yang masih ada hingga sekarang, adalah bangunan-bangunan tinggi di Shibam, Yaman. Lokasinya cukup strategis dengan curah hujan yang rendah, lokasi yang tinggi agar terhindar dari banjir dan jarak yang cukup jauh dari sumber air.

Namun, penyesuaian dapat dilakukan pada bangunan dengan curah hujan tinggi, seperti yang dilakukan di Devon, Inggris. Bangunan dengan material cob di Devon memiliki atap yang bentuknya menghalangi air hujan untuk melembabkan dinding secara berlebihan, dan pondasi solid yang mencegah air tanah untuk meresap ke dalam campuran dinding.

Meningkatkan Kualitas Mud Brick

Al Ajmi (2016) melakukan uji terhadap pengaruh antara komposisi material pembentuk mud brick terhadap kekuatannya. Dari hasil ujinya ditemukan bahwa kekuatan tekan mud brick dipengaruhi oleh perbandingan berat pasir dan lumpur dalam campuran mud brick, penambahan jerami dalam campuran, dan penambahan sedikit material perekat (kapur atau semen). Penambahan semen, meskipun dapat meningkatkan kekuatan tekan mud brick, tapi jika terlalu banyak ternyata juga mempengaruhi kemampuan mud brick dalam penyerapan panas.

Dengan penelitian lebih lanjut dalam meningkatkan kualitas mud brick dari segi kekuatan dan kemampuan penyerapan panasnya, bisa jadi mud brick merupakan sebuah alternatif material bangunan ramah lingkungan yang akan digunakan secara luas di masa depan.

Sumber:

Al-Ajmi, Farraj & Abdalla, Hany & Abdelghaffar, Magdi & Almatawah, Jamal. (2016). Strength Behavior of Mud Brick in Building Construction. Open Journal of Civil Engineering. 06. 482-494. 10.4236/ojce.2016.63041.

G.S., Sruthi. (2013). Mud Architecture. International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology. 02 (01).

https://eco-sf.org /resources/articles/31-natural-building-for-urban-landscapes

https://en.wikipedia.org/wiki/ Mud

Posted on

Material M011 – Kaca dalam Arsitektur

Kaca bukanlah material yang asing dalam kehidupan kita.  Kaca dapat digunakan mulai dari alat makan seperti piring dan gelas, hingga wadah makanan. Bisa juga digunakan sebagai table top, maupun penutup lemari. Nah, kalau dalam bangunan, penggunaannya yang paling sederhana adalah pada jendela dan panel pintu.

Penggunaan kaca pada bangunan sudah dimulai di negara-negara di Eropa sejak abad ke 19 (Butera, 2018). Namun, penggunaannya secara massal baru dilakukan setelah penemuan proses pembuatan float glass pada tahun 1958 oleh Pilkington dan Bickerstaff. Proses ini membuat kaca yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, bentuk yang lebih beragam dan permukaan yang rata dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan dengan teknologi pembuatan kaca pada abad ke-19.

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas lebih jauh mengenai penggunaan kaca dalam arsitektur.

Proses Pembuatan Kaca

Proses pembuatan float glass yang ditemukan oleh Pilkington dan Bickerstaff dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Bahan mentah dari kaca berupa pasir, kalsium oksida, dan sodium karbonat, dikumpulkan di tempat produksi kaca. Bahan mentah ini ditimbang dan dicampur dalam proporsi yang sudah ditentukan. Pada tahap ini juga, unsur tambahan sebagai bahan pewarna kaca dapat ditambahkan.
  2. Campuran tersebut kemudian dipanaskan hingga temperatur 1500°C. Kalsium oksida pada campuran berperan dalam menurunkan titik lebur kaca. Tanpa kalsium oksida, campuran membutuhkan temperatur yang lebih tinggi lagi untuk menjadi kaca.
  3. Setelah itu, campuran kaca diapungkan dalam timah cair untuk menghasilkan kaca dengan ketebalan yang diinginkan. Setelah proses ini selesai, kaca dapat didinginkan.

Kekurangan dan Kelebihan Menggunakan Kaca dalam Bangunan

Meskipun kaca biasanya identik dengan material yang dapat pecah, menggunakan kaca yang sesuai pada bangunan memberikan beberapa keuntungan. Keuntungan yang pertama berhubungan dengan sifatnya yang transparan. Kaca dapat memasukkan sinar dan panas matahari ke dalam ruangan. Hal ini berdampak pada kualitas ruangan yang lebih baik karena mendapatkan cahaya alami dan mengurangi penggunaan listrik untuk menyalakan lampu di siang hari. Keuntungan lainnya adalah, kaca merupakan material yang relatif mudah dibersihkan, dapat didaur ulang, juga memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap cuaca.

Namun, kaca juga memiliki beberapa kekurangan, seperti harganya yang lebih mahal dibandingkan dinding bata maupun partisi gypsum interior, dapat pecah akibat benturan keras dan tiba-tiba, dan jika digunakan tanpa pertimbangan terhadap iklim lokal, dapat menciptakan efek rumah kaca pada ruangan di dalamnya karena sifatnya yang menyerap panas, dan yang terakhir, silau.

Jenis Kaca dalam Arsitektur

Jenis kaca yang digunakan dalam arsitektur bermacam-macam. Pada dasarnya, kaca tersebut berasal dari float glass atau plate glass yang diberi perlakuan tertentu untuk meningkatkan kekuatan, memberi efek tertentu pada bangunan, maupun meningkatkan performanya sebagai material. Beberapa jenis kaca tersebut adalah:

1. Annealed Glass, Heat-Strengthened Glass, dan Fully Tempered Glass

Ketiga kaca ini merupakan jenis kaca yang berbeda berdasarkan kekuatannya terhadap keretakan. Jenis yang pertama, Annealed Glass, merupakan kaca polos (float glass) yang mengalami proses pendinginan. Kaca jenis ini merupakan kaca yang paling banyak digunakan dalam arsitektur (misalnya pada jendela maupun bagian pintu). Karena tidak mengalami pemanasan, kaca jenis ini memiliki bentuk permukaan paling rata. Namun, kaca ini pecah menjadi serpihan-serpihan yang tajam dan berbahaya. Kaca ini juga memiliki kekuatan yang lebih kecil dibandingkan dengan dua jenis kaca lainnya.

Heat-Strengthened Glass dan Fully-Tempered Glass merupakan kaca yang mengalami proses pemanasan. Perbedaannya adalah, jika heat-strengthened glass hanya mengalami proses pemanasan, fully-tempered glass mengalami proses pendinginan yang cepat tepat setelah proses pemanasan. Proses ini menciptakan tingkat ketahanan kaca terhadap beban angin maupun panas menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan annealed glass. Selain itu, pecahan yang ditimbulkan jika terjadi kerusakan juga berupa pecahan berukuran kecil yang menyebabkan jenis kaca ini cukup aman untuk digunakan sebagai kaca pada jendela dalam kondisi cuaca yang ekstrim.

tabel perbandingan kaca berdasarkan kekuatannya

2. Laminated Glass

Laminated glass tersusun dari dua lapis kaca polos yang mengapit lapisan polimer transparan (misalnya polyvinyl butyral). Lapisan polimer di antara kaca dapat mencegah pecahan kaca rontok jika kaca pecah. Karena itu, kaca jenis ini cocok untuk digunakan sebagai kaca pengaman (misalnya pada railing) dan pada skylight. Kelebihan lain dari laminated glass adalah melindungi bagian dalam kaca dari sinar ultraviolet, mengurangi getaran, dan memiliki kualitas akustik yang baik.

3. Insulating Glass

Sesuai namanya, kaca jenis ini memiliki tingkat insulasi terhadap panas dan suara yang baik. Kaca ini terbentuk dari dua buah kaca yang membentuk ruang tertutup di antaranya. Bagian tersebut dapat diisi dengan udara kering maupun gas dengan nilai konduktivitas yang rendah (misalnya sulfur hexafluoride atau argon). Kemampuan insulasi kaca jenis ini terhadap panas juga dapat ditingkatkan dengan memberi lapisan rendah emisi di bagian luar kaca.

Karena karakteristiknya, kaca ini dapat ditemui pada bangunan komersial, curtain wall, maupun skylight.

ilustrasi bagian laminated glass (kiri) dan insulating glass (kanan)

4. Tinted Glass

Merupakan kaca yang mengalami proses pewarnaan dengan menggunakan mineral tertentu. Mineral yang digunakan terserap dalam seluruh lapisan kaca sehingga dapat menyerap cahaya dan radiasi inframerah. Namun, tidak seperti kaca bening, penggunaan tinted glass membuat sinar matahari yang dapat masuk ke dalam ruangan berkurang drastis. Hal ini menyebabkan ruangan seringkali tetap membutuhkan lampu agar intensitas cahaya di dalam menjadi ideal.

5. Kaca dengan Lapisan Khusus

Kaca dapat diberi lapisan khusus untuk meningkatkan performanya maupun memberikan efek tertentu pada bangunan. Pada Self-Cleaning Glass, misalnya, kaca diberi lapisan titanium dioksida yang dapat merusak struktur kotoran organik yang menempel pada permukaannya. Dalam prosesnya, sinar matahari dibutuhkan untuk menciptakan reaksi tersebut, sedangkan air hujan dapat membasuh residu yang menempel pada kaca.

Kaca dengan lapisan fotokromik, dapat berubah warna tergantung pada intensitas sinar matahari yang mengenainya. Kaca jenis ini dapat digunakan untuk menciptakan keteduhan pada bagian dalam bangunan, meskipun dinding bangunan terbuat dari kaca.

Kritik Terhadap Penggunaan Kaca

Butera (2018), telah menulis mengenai beberapa dampak buruk dari penggunaan kaca yang berkaitan dengan sustainibilitas bangunan. Arsitektur yang ramah lingkungan memang menjadi topik yang hangat seiring dengan kemajuan teknologi dan kesadaran manusia terhadap kerusakan bumi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penggunaan kaca sebagai material bangunan memang tidak hanya memberikan dampak yang positif , tapi ada juga yang negatif.

Silau akibat sinar matahari yang menjadi salah satu masalah bagi bangunan dengan dinding atau permukaan kaca dapat mengurangi kenyamanan visual pengguna ruangan. Salah satu solusi untuk mengurangi efek silau ini adalah dengan memberi teduhan pada bagian luar bangunan atau menutup kaca dengan tirai. Namun, hal ini justru menghalangi akses cahaya alami ke dalam ruangan sebagai salah satu alasan dari penggunaan kaca pada bangunan.

Bangunan dengan permukaan kaca yang besar (misalnya gedung pencakar langit) juga rentan terhadap penggunaan sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) yang besar. Tidak hanya memasukkan cahaya, kaca juga memasukkan panas ke dalam ruangan. Jika ruangan terlalu panas, maka pengguna ruangan tidak akan merasa nyaman. Sistem HVAC yang digunakan untuk memberikan kenyamanan pada ruangan bisa jadi merupakan suatu pemborosan energi yang tidak sebanding dengan manfaat dari penggunaan kaca pada bangunan.

Kaca jelas menciptakan alternatif fasad bangunan yang menarik. Material ini memberikan kesan ringan, transparan, dan modern pada bangunan. Namun, sebagai penggunanya, kita tetap harus bijaksana dalam menggunakan material yang satu ini.

Sumber:

Butera, Federico. (2018). Glass architecture: is it sustainable?.

Jelena, Savic & Djuric Mijovic, Danijela & Bogdanovic, Veliborka. (2013). Architectural glass: Types, performance and legislation. Facta universitatis – series: Architecture and Civil Engineering. 11. 35-45. 10.2298/FUACE1301035S.

www.en.wikipedia.org/wiki/ Float_glass

www.gharpedia.com/ advantages-disadvantages-glass-building-material/

www.understandconstruction.com /glass.html

Posted on

Membangun di Atas Tanah Reklamasi

Tanah merupakan sebuah elemen penting dalam proses membangun. Coba lihat di mana rumah, sekolah, atau pusat perbelanjaan terdekat dengan kita berdiri? Tentu saja di atas tanah. Sebagai sebuah tempat membangun, tentu saja kekuatan tanah juga penting untuk diketahui sebelum kita mulai membangun. Namun, bagaimana jika tidak ada tanah yang dapat dibangun atau bangunan yang akan dibangun direncanakan untuk menjadi sebuah ikon dari sebuah negara sehingga diperlukan lokasi yang spesial sebagai tempat pembangunannya?

Meskipun banyak contoh yang dapat dipelajari, kita dapat memulainya dengan melihat Aldar HQ. Berlokasi di Abu Dhabi, Kantor Pusat Aldar, pengembang Al Raha Beach, merupakan sebuah pencakar langit yang unik. Tingginya mungkin tidak menyaingi Burj Al Khalifa, namun bentuknya yang terinspirasi dari cangkang kerang merupakan sebuah contoh pembangunan struktur istimewa di tanah yang tadinya tidak ada. Ya, Aldar HQ dibangun di atas pulau buatan sekitar 700 m dari daratan di Teluk Persia.

Melihat bentuknya yang unik, tentu banyak komponen non-konvensional yang dilibatkan dalam pembangunannya. Seperti rangka besi spesial yang membentuk rangka fasad bangunan, lalu panel kaca untuk fasad yang didesain untuk dapat menghadapi tekanan angin yang bertemu dengan tepi bangunan dan dapat menyedot panel kaca hingga terlepas dari bangunan. Namun, dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai pondasi bangunan yang berada di atas pulau buatan atau hasil reklamasi.

Apa Itu Reklamasi?

Reklamasi merupakan sebuah proses pembuatan tanah baru yang biasanya berada di atas permukaan air, misalnya laut. Di Abu Dhabi, proses reklamasi ini sudah dilakukan sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Pengembangan lahan dengan melakukan reklamasi ini tentu saja tidak hanya dilakukan di Abu Dhabi, tapi juga di kota-kota besar seperti Hongkong, New York, dan Jakarta.

Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, menyatakan bahwa bangunan di atas tanah reklamasi sebetulnya aman. Hal ini disebabkan oleh kekuatan tanah yang memang tergantung pada komposisi penyusunnya. Pengembang yang membuat memiliki tanggung jawab untuk melakukan perbaikan tanah dasar pada saat pengurugan agar tanah reklamasi tidak mengalami penurunan dalam jangka yang panjang.

Membangun Aldar HQ

Pulau buatan tempat Aldar HQ dibangun dibentuk dari pasir yang berasal dari dasar laut (marine sand). Meskipun Uni Emirat Arab merupakan negeri padang pasir, namun pasir gurun (desert sand) bukanlah pasir yang tepat untuk digunakan sebagai tempat membangun. Pasir gurun memiliki butiran yang kecil dan halus dan tidak cocok untuk digunakan dalam proses reklamasi. Sementara marine sand memiliki butiran yang lebih kasar dan lebih besar. Butirannya dapat melekat satu sama lain dan dapat digunakan sebagai dasar dari bangunan.

Pulau buatan yang menjadi lokasi dari Aldar HQ membutuhkan lebih dari 3 juta meter kubik pasir. Pasir ini tidak semua digali dari dasar laut, tapi dipindahkan ke lokasi yang telah ditentukan dari bekas proyek infrastruktur Abu Dhabi sebelumnya. Pemindahan ini dilakukan menggunakan pengeruk, disalurkan melalui pipa apung ke lokasi, untuk kemudian diratakan menggunakan ekskavator. Proses ini membutuhkan waktu 8 bulan hingga pulau yang diinginkan terbentuk.

Setelah pulau pasir terbentuk, proses selanjutnya adalah membuat pondasi bangunan. Mengingat skala bangunan yang besar dan bentuknya yang unik, dibutuhkan perhatian khusus dalam membuat pondasi Aldar HQ. Sebelum menggali lahan, tim konstruksi terlebih dahulu membuat diaphragm wall atau D-Wall. Hal ini dilakukan karena, saat pasir digali hingga jauh ke dalam, lama kelamaan, air laut akan merembes dan dapat mengakibatkan longsor.

D-wall dibuat dari panel beton yang membentuk barikade untuk menghalangi arus air laut. D-wall ditanam ke dasar laut dan tingginya mencapai 16 m di bawah permukaan. Setelah D-wall selesai dibuat, pasir yang berada di dalam barikadenya dapat dibuang untuk membuat ruang bagi pondasi.

***

Membangun pada tanah reklamasi bukan merupakan hal yang baru. Keamanan bangunan di atasnya pun sudah dapat dibuktikan jika prosesnya dilakukan dengan benar. Namun, apakah ini merupakan solusi dari masalah semakin sedikitnya lahan untuk membangun? Hal ini tentu saja masih harus diteliti lebih lanjut.

 

 

Sumber:

Film dokumenter Megastructures: Skyscraper In the Round (National Geographic)

https://en.wikipedia.org/wiki/Land_reclamation

https://www.thenational.ae/uae/environment/how-abu-dhabi-has-grown-1.606311

Alexander, Hilda B. 2018. “Menyoal Keamanan Bangunan Properti di Atas Tanah Reklamasi”, https:// properti.kompas.com/read/2018/03/18/230000421/menyoal-keamanan-bangunan-properti-di-atas-tanah-reklamasi.

Posted on

Bentuk Heksagon: Dari Rumah Lebah Hingga Arsitektur

Alam merupakan inspirasi terbesar bagi manusia. Banyak sekali pelajaran mengenai bentuk dan struktur alami yang ternyata, jika dipelajari, memiliki rahasia yang menguntungkan bagi manusia. Pada artikel kali ini, kita akan belajar mengenai rumah lebah dan bagaimana manusia mengaplikasikan pengetahuan dari rumah lebah dalam material buatan.

Rumah Lebah

Lebah madu memiliki rumah untuk dua kebutuhan penting : sebagai tempat tinggal yang aman bagi koloni lebah madu dan tempat untuk menyimpan nektar hingga menjadi madu. Rumah tersebut dibuat menggunakan lilin yang diproduksi oleh tubuh lebah. Namun, untuk memproduksinya 1 ons lilin, lebah butuh mengkonsumsi 8 ons madu yang mereka hasilkan, karena itu, lilin tersebut sangatlah berharga bagi lebah. Dan dengan menggunakan lilin tersebutlah, lebah membuat unit-unit tempat tinggal dan penyimpanan nektar berbentuk hexagonal.

ilustrasi perbandingan area efektif (putih) dengan area sisa (kuning) pada permukaan yang dibagi dengan bentuk hexagon, lingkaran, dan segitiga

Polymath asal Polandia, Jan Brozek (1585 – 1652), menduga bahwa cara paling efisien untuk membagi sebuah area menjadi area-area lebih kecil yang sama besar namun dengan meminimalisir nilai perimeter garis pembaginya adalah dengan bentuk segi enam, atau hexagon. Hal ini baru dapat dibuktikan oleh Thomas C. Hales, seorang matematikawan asal Amerika Serikat pada tahun 1999 (honeycomb conjecture).

Honeycomb Structure

Pemanfaatan lilin yang efisien dalam pembuatan rumah lebah merupakan inspirasi bagi manusia dalam menggunakan material dalam pembuatan struktur. Honeycomb structure adalah sebutan bagi struktur alami maupun buatan yang memungkinkan penggunaan material secara minimal dan berdampak pada harga material yang digunakan menjadi lebih murah dan struktur yang dihasilkan menjadi lebih ringan. Secara umum, honeycomb structure memiliki kelebihan yaitu (1) nilai strength-to-weight ratio-nya tinggi, (2) kekuatan tekannya baik dan (3) ringan.

skema honeycomb structure

Struktur honeycomb buatan biasanya ditemukan sebagai core dari sandwich panel (struktur yang terbuat dari 3 lapisan yaitu core dan lapisan kulit yang menempel di dua sisi dari core). Panel dengan core honeycomb ini biasanya sangat kaku, memiliki massa yang kecil, dan memiliki harga produksi yang rendah. Penggunaan panel dengan core honeycomb juga sangat luas, contohnya di bidang transportasi, konstruksi, furnitur, dan pengepakan. Karena penggunaan yang luas itu juga, material pembentuknya beragam, mulai dari alumunium, polimer, hingga material serat alami dalam bentuk kertas yang kaku dan keras.

 

Aplikasi Honeycomb Structure pada Arsitektur

Aplikasi honeycomb structure pada arsitektur sebagian besar merupakan pemanfaatan struktur tersebut dalam bentuk sandwich panel. Dengan beberapa kelebihan yang telah disebutkan sebelumnya, panel dengan core honeycomb dapat ditemui pada :

  • Panel dinding, lantai, maupun langit-langit yang digunakan untuk insulasi panas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zeyrek et al (2017), panel dengan honeycomb core yang diisi dengan polyurethane foam dapat menyerap panas dari dalam bangunan dan melepaskan panas tersebut dengan lebih terkontrol.
  • Lantai kaca. Kaca berukuran 4 mm dapat menjadi ‘kulit’ bagi panel dengan bahan core alumunium. Panel dengan struktur tersebut memiliki kekuatan terhadap beban dan ketahanan yang lebih besar daripada panel kaca biasa.
  • Panel batu ringan. Menggunakan batu sebagai fasad suatu bangunan dapat menambah beban yang sangat signifikan pada struktur, sementara jika batu yang digunakan ditipiskan untuk mengurangi beban, permukaannya mudah pecah. Sebagai solusi, potongan batu (misalnya granit atau marmer) setebal 1 cm dapat menjadi ‘kulit’ dari honeycomb core dengan bahan alumunium. Panel batu ringan ini dapat digunakan sebagai material fasad bangunan dan hanya memiliki berat 25% dibandingkan dengan menggunakan potongan batu aslinya.

Adaptasi Bentuk Heksagon dari Rumah Lebah dalam Arsitektur

Bentuk heksagon atau segi-6 yang menjadi bentuk dasar bagi rumah lebah merupakan sebuah bentuk yang menarik. Dengan ditemukannya bukti bahwa bentuk heksagon merupakan bentuk yang dapat dibuat dengan material yang efisien, apakah bentuk ini dapat begitu saja diadaptasi dalam bentuk arsitektur?

Contoh penggunaan bentuk heksagon dalam arsitektur adalah pada fasad apartemen buatan biro arsitektur BIG di Kepulauan Bahama, Honeycomb. Pada bangunan tersebut, fasad heksagonal pada bangunan merupakan balkon sekaligus kolam pribadi bagi tiap-tiap unit. Dengan bentuk yang tidak konvensional, diperlukan teknologi material yang tidak biasa pula. Honeycomb menggunakan beton ‘superslab’ yang dapat menggantung lebih dari 5 m dari struktur bangunan. Selain itu, Duo, sebuah bangunan high-rise yang didesain oleh Büro Ole Scheeren di Kampong Glam, Singapura, menggunakan frame berbentuk heksagon pada fasad bangunannya. Frame tersebut dipasang untuk menaungi fasad kaca bangunan dari sinar matahari.

 

sumber:

Zeyrek O, Demirural A, Baykara T (2017) Functional Honeycomb Based Composite Panels for Structural and Thermal Management Applications. J Material Sci Eng 6: 391. doi: 10.4172/2169-0022.1000391

Block, India. (6 Maret 2018). Honeycomb Patterned Towers by Büro Ole Scheeren Frame Gardens in Singapore. https://www.dezeen.com/2018/03/06/ buro-ole-scheeren-architecture-duo-skyscrapers-singapore-gardens/

Chamberland, Marc. (25 Juli 2015). The Miraculous Space Efficiency of Honeycomb: Hexagons and the Science of Packing. https://slate.com/technology/2015/07 /hexagons-are-the-most-scientifically-efficient-packing-shape-as-bee-honeycomb-proves.html

Lam, Sharon. (10 Januari 2017). Hexagons for a Reason: The Innovative Engineering behind BIG’s Honeycomb. https://www.archdaily.com/802378/ hexagons-for-a-reason-the-innovative-engineering-behind-bigs-honeycomb

Click to access material1-honeycomb.pdf

Ted-Ed : Why Do Honeybees Love Hexagons? – Zack Patterson & Andy Peterson, https://www.youtube.com/ watch?v=QEzlsjAqADA