Posted on Leave a comment

Material M019 – Filament 3D Printer (PLA) dengan Limbah Organik

Filament PLA yang biasa digunakan untuk 3d printing adalah bahan yang bisa di-dekomposisi oleh tanah (compostable/biodegradable). Selain itu, PLA juga bisa didaur-ulang dengan dilelehkan lalu dijadikan filament kembali. Alat untuk men-daur-ulang filament bekas menjadi filament baru disebut Filament Extruder Machine. Beberapa profesional dan peneliti sudah mencoba untuk meningkatkan pemanfaatan limbah dengan menggabungkan limbah PLA (misalnya hasil printing yang gagal, support structure, atau model 3d lama yang sudah tidak digunakan lagi) dan limbah lainnya untuk membuat PLA baru. PLA hasil daur ulang umumnya memiliki kekuatan yang lebih rendah dari PLA murni. Namun, penggunaan limbah organik bisa memudahkan proses pengomposan dengan memperbesar luas permukaan dan mengundang aktivitas dekomposer. PLA daur ulang ini sangat ideal untuk 3d printing yang menghasilkan prototype awal (karena umumnya setelah evaluasi dan perbaikan tidak lagi dipergunakan), menghemat biaya filament, juga bisa membantu para Makers untuk mengelola limbah printing. Pada artikel ini kita akan membahas contoh-contoh penelitian yang menggunakan limbah organik sebagai campuran PLA.
Continue reading Material M019 – Filament 3D Printer (PLA) dengan Limbah Organik

Posted on Leave a comment

Material M018 – Resin, Jenis-jenis, Proses Pembuatan, Aplikasi, dan Siklusnya (Part 1)

Resin adalah hasil sekresi getah tanaman yang mengeras, mudah terbakar, biasanya berwarna coklat kemerahan dan transparan. Selain dari tanaman, ada juga resin yang diambil dari serangga serta resin sintetis buatan pabrik yang umumnya merupakan produk turunan dari minyak bumi (petroleum). Di pasaran, resin dijual dalam bentuk cair, kemudian dalam aplikasinya diberikan katalis (catalyst/hardener) dan dibiarkan mengeras. Resin yang dijual di pasaran itu adalah resin sintetis berjenis unsaturated-polyester resin dan epoxy resin. Selain resin alami dan sintetis, ada juga yang disebut rosin. Rosin adalah getah yang mengeras dan dibentuk balok atau silinder. Rosin banyak digunakan untuk melumasi senar biola, sebagai flux solder, anti licin pada sepatu, atau juga sebagai bahan perekat.
Continue reading Material M018 – Resin, Jenis-jenis, Proses Pembuatan, Aplikasi, dan Siklusnya (Part 1)

Posted on Leave a comment

M017 – Papercrete, Teknologi Berusia 5 Dekade

Di antara kita mungkin ada yang pernah membuat prakarya dari bahan papercrete di sekolah. Atau minimal, bubur koran yang dibentuk dengan bantuan lem aci. Betul, papercrete memang sederhana dan sama sekali bukan barang baru, namun bisa jadi sangat bermanfaat jika kita mengupas lagi potensinya. Bagi sebagian pihak, papercrete adalah bahan penelitian yang serius, sebab penggunaan kertas pada campuran beton bisa mengurangi penggunaan portland cement, mengurangi berat satuan beton yang dihasilkan (dead load), meningkatkan kuat lentur, meningkatkan kohesi adonan, mengurangi konduktivitas termal, dan juga mengurangi biaya membuatan beton atau adukan plaster. Kekurangan dari papercrete ada pada sifatnya yang kurang tahan terhadap air (menyerap air), juga kehawatiran publik atas ketahanannya terhadap api. Namun, masing-masing material pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan papercrete ini masih bisa ditutupi dengan waterproof dan tambahan pelindung api.
Continue reading M017 – Papercrete, Teknologi Berusia 5 Dekade

Posted on Leave a comment

Perekat, Selotip, Insulasi, dan Lakban untuk Berbagai Proyek DIY

Sebelum masuk ke pembahasan jenis-jenis pita perekat, pernahkah ada yang penasaran dengan penyebutan sebenarnya? Apakah solasi, solasiban, atau solatip? Dalam Bahasa Inggris kata dasarnya adalah ‘tape’ yang definisinya adalah ‘a narrow strip of material, typically used to hold or fasten something’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyebutan yang benar itu ternyata ‘selotip’ dengan huruf ‘e’, walaupun definisinya sedikit absurd, yaitu ‘perekat terbuat dari plastik, baik bermata satu maupun bermata dua’. Mungkin maksudnya seperti mata pisau apakah tajam di satu sisi atau di dua sisi, selotip juga bisa merekatkan benda di satu sisi atau kedua sisi. Wallahua’lam.

Banyak proyek yang membutuhkan perekat instan bernama selotip, baik selotip yang bermata satu maupun bermata dua. Selotip pun ada banyak jenisnya dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Tidak semua jenis selotip bisa digunakan untuk suatu proyek yang membutuhkan sifat tertentu. Juga, harga selotip jenis tertentu ternyata sangat mahal sehingga sayang bila digunakan tidak sesuai fungsinya. Maka dari itu, kita perlu mengenali jenis dan sifat-sifat selotip agar bisa mencari bahan yang sesuai untuk kebutuhan proyek DIY yang sedang kita kerjakan.
Continue reading Perekat, Selotip, Insulasi, dan Lakban untuk Berbagai Proyek DIY

Posted on

Finish Kayu yang Aman untuk Makanan

Kayu bukanlah material yang asing dalam industri peralatan makanan. Penggunaannya beragam, mulai dari alat proses makanan seperti talenan, pengaduk dan bahan bakar untuk proses pematangan hingga alat makan seperti sendok, mangkuk, piring dan baki. Apakah kamu salah satu yang sedang mulai berkreasi dengan membuat peralatan makanan dengan kayu? Atau justru salah satu penggunanya? Yuk kita lebih teliti dengan mengetahui jenis material finishing yang aman digunakan dalam peralatan makan atau masak dari kayu.
Continue reading Finish Kayu yang Aman untuk Makanan

Posted on

Material M015 – Bio-Cement, Bio-Grout, dan Bio-Aggregate; Perjalanan Mencari Alternatif Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Hunian adalah kebutuhan primer manusia. Kita bisa menduga, bahwa material penyusun hunian adalah salah satu bentuk ‘engineering’ perintis yang dibuat manusia. Seiring kesadaran dan kepedulian manusia terhadap kelestarian lingkungan, muncul penelitian dan eksperimen rekayasa untuk menghasilkan bahan bangunan yang sesedikit mungkin memberikan dampak negatif kepada lingkungan. Salah satu jalur penelitian ini membawa kita pada istilah “Biomaterial”. Istilah ini berkembang terutama di dunia medis, dalam rangka menghasilkan bahan-bahan implant, obat, dan scaffold jaringan yang tidak membahayakan tubuh. Namun istilah ini juga berkembang ke bidang-bidang lainnya, termasuk dunia konstruksi.

Continue reading Material M015 – Bio-Cement, Bio-Grout, dan Bio-Aggregate; Perjalanan Mencari Alternatif Bahan Bangunan Ramah Lingkungan
Posted on

Material M014 – Tegel

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai terrazzo sebagai material yang dapat digunakan untuk melapis lantai, dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai tegel. Apa sih, tegel itu, dan apa ya bedanya dengan keramik? Katanya tegel itu material yang cocok digunakan di negara beriklim tropis, loh. Apa ya, kelebihannya? Kita cari tahu bersama-sama, ya.

Continue reading Material M014 – Tegel

Posted on

Material M013 – Terrazzo

Belakangan ini, terrazzo kembali populer sebagai material dalam dunia arsitektur. Material ini merupakan produk turunan dari mosaik marmer yang digunakan di Venice, Italia, di abad ke-16 sebagai material lantai di istana maupun di rumah-rumah. Melalui artikel ini, kita akan membahas mengenai sejarah terrazzo, cara pemasangan, hingga kelebihan dari material ini.

Continue reading Material M013 – Terrazzo

Posted on

Material M012 – Mud Brick, Material Bangunan Kuno

Lumpur merupakan material berbentuk liquid maupun semi-liquid yang terbuat dari campuran air dan beberapa jenis tanah (misalnya loam, silt, atau lempung). Secara alami, lumpur dapat terbentuk setelah terjadi hujan atau di daerah yang dekat dengan sumber air. Kita biasa melihat lumpur sebagai permukaan tanah yang lembek dan cenderung membuat kotor jika diinjak. Namun, tahukah makers bahwa lumpur dapat diproses menjadi mud brick, sebuah material bangunan yang sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu.

Continue reading Material M012 – Mud Brick, Material Bangunan Kuno

Posted on

Material M011 – Kaca dalam Arsitektur

Kaca bukanlah material yang asing dalam kehidupan kita.  Kaca dapat digunakan mulai dari alat makan seperti piring dan gelas, hingga wadah makanan. Bisa juga digunakan sebagai table top, maupun penutup lemari. Nah, kalau dalam bangunan, penggunaannya yang paling sederhana adalah pada jendela dan panel pintu.

Penggunaan kaca pada bangunan sudah dimulai di negara-negara di Eropa sejak abad ke 19 (Butera, 2018). Namun, penggunaannya secara massal baru dilakukan setelah penemuan proses pembuatan float glass pada tahun 1958 oleh Pilkington dan Bickerstaff. Proses ini membuat kaca yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, bentuk yang lebih beragam dan permukaan yang rata dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan dengan teknologi pembuatan kaca pada abad ke-19.

Continue reading Material M011 – Kaca dalam Arsitektur