Posted on Leave a comment

Sisi Positif “Aesthetic” di Kalangan Millenial dan Creativepreneur

Seri Creativepreneur – Ramadhan 1442 H

Sejak diciptakan, manusia sudah memiliki bekal kecintaan pada keindahan. Segala sesuatu yang indah dan menyenangkan indera tentu akan menggembirakan setiap orang. Sebaliknya segala sesuatu yang kotor dan berantakan tentunya akan membuat semua orang terganggu. Tak hanya manusia, malaikat pun menyukai rumah yang bersih dan wangi dan tidak suka pada tenpat-tempat yang bau. Kita pun dianjurkan untuk senantiasa menjaga kebersihan, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing tanpa memberatkan diri dan orang lain.

Aesthetic yang Hakiki: Ciptaan Robbul ‘Alamiin

Dengan bekal kecintaan pada keindahan ini, manusia pun menggemari lingkungan yang indah dan benda-benda yang indah. Ketika membuat sesuatu, atau memakai sesuatu, manusia cenderung untuk memilih yang lebih indah dari pada yang kurang indah, selain aspek pertimbangan lain seperti fungsi dan kualitas (awet, kokoh, dan semacamnya). Standar keindahan setiap orang ini bersifat subjektif, berhubungan erat dengan yang disebut dengan selera. Sehingga tidak sama standar keindahan satu orang dengan standar keindahan orang lainnya.

Akan tetapi tentunya, manusia itu pada awalnya tidak mengetahui apapun, tidak memiliki kemampuan apapun, dan tidak bisa membuat apapun. Hingga kemudian, apabila ingin membuat sesuatu yang indah, manusia pun mengambil inspirasi keindahan dari segala sesuatu yang telah tercipta, yakni alam semesta. Terlepas dari apakah seseorang itu meyakini bahwa alam itu ciptaan Allah yang Maha Sempurna atau apakah ia meyakini alam itu tercipta secara kebetulan, ia tetap akan mengakui bahwa alam semesta itu indah. Semakin orang mempelajari keindahan alam dan menggali inspirasi dari alam, maka semakin ia kagum dengan keindahan alam itu sendiri. Seorang arsitek terkenal di masa lalu, Frank Lloyd Wright, mengatakan: “Study nature, love nature, stay close to nature.” Yang artinya “Pelajari alam, cintai alam, dan tetaplah dekat dengan alam.”

Influencer Era dan Viralnya Istilah Aesthetic di kalangan Millenial

Belakangan ini, istilah ‘aesthetic’ ramai dipopulerkan oleh para ‘influencer’ melalui banyak media, di antaranya instagram, facebook, telegram, blog, dan youtube. Karena paparan konten para influencer ini, diiringi repost, remake, dan recreate yang dilakukan oleh khalayak ramai millenial, definisi ‘aesthetic’ menjadi semakin terbentuk dengan batas-batas baku yang baru. Ada aesthetic yang bersisian dengan ‘bedroom goal’ dan ‘kitchen goal’, yaitu aktivitas mendekorasi kamar hingga dinilai cukup ‘indah’. Ada aesthetic yang bersisian dengan ‘beauty and fashion’, dari mulai kulit cantik dan bersih dari jerawat dengan vitamin hingga makeup dan operasi plastik. Ada aesthetic yang bersisian dengan ‘gaya hidup’, yang mendefinisikan ‘sehat itu aesthetic’, ‘peduli lingkungan itu aesthetic’ dan semacamnya. Ada juga yang mendefinisikan aesthetic dengan minimalism mulai dari minimalism moderat hingga minimalism extreme di mana tidak ada satupun barang tersisa di kosan. Ada juga aesthetic yang disandingkan erat dengan komunitas studigram, di mana catatan belajar kita dibuat serapi dan seindah mungkin. Ada juga aesthetic yang dikaitkan erat dengan ‘giving’ di mana memberi itu harus berkualitas dan bagus.

Manfaat Kesadaran ‘Aesthetic’ di Kalangan Millenial

Kesemua penempatan istilah ‘aethetic’ di atas tentu ada benarnya, bukan? Sisi positif dari kesadaran aesthetic ini adalah adanya motivasi untuk menjadikan segala sesuatu lebih baik, lebih rapi, lebih bersih, dan lebih indah lagi. Hal ini harus didukung, sebab kebalikannya berarti membiarkan segala sesuatu tetap berantakan atau tidak terawat. Juga, kesadaran aesthetic ini menjadikan tumbuh dan berkembangnya lebih banyak Creativepreneur, yang merupakan salah satu komponen besar dari usaha kecil.

Namun, seperti halnya makan, minum, tidur, dan olahraga; dunia ‘aesthetic’ pun sebaiknya tidak berlebihan. The pursuit of aesthetic lifestyle juga sebaiknya tidak untuk menyusahkan kehidupan sehari-hari dan tidak melanggar batas-batas yang lebih penting untuk diperhatikan seperti kesehatan, keamanan, kenyamanan, koridor halal dan haram, kemudahan beraktivitas, serta hubungan dengan manusia. Ada juga esensi dari aesthetic yang mungkin melebihi batas-batas fisik/inderawi seperti mood, perasaan, psikologis, dan keindahan jiwa. Wallahua’lam.

Perlunya Rambu-Rambu untuk Mengoptimalkan Sisi Positif ‘Aesthetic’

Banyaknya sisi positif aesthetic di atas bukan berarti konsep ‘aesthetic’ pasti selalu positif. Konsep ini bisa dipergunakan untuk hal yang kurang baik juga seperti menumbuhkan kecintaan pada harta benda, konsumerisme, kecemburuan, hingga dijadikan alat politik untuk menciptakan segregasi sosial (menciptakan kelas-kelas). Perihal yang terakhir ini dituliskan dalam artikel tahun 1984 berjudul Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste oleh Pierre Bourdieu. Namun tidak perlu kita bahas lebih lanjut hal tersebut di sini, khawatir hanya memunculkan sisi negatifnya saja dari aesthetic, padahal tujuan dari artikel ini adalah untuk mendukung sisi-sisi positif dari kesadaran ‘aesthetic’.

Dalam hal yang berkaitan dengan ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, seorang muslim diajarkan untuk sungguh-sungguh berhati-hati dan saling berempati. Bahkan seringkali kita dilarang untuk menempatkan harta benda di luar rumah, atau memberikan sesuatu yang mewah kepada anak kita untuk dibawa main ke luar rumah, yang bisa berakibat membuat sedih anak-anak tetangga yang tidak mampu memilikinya, lalu membuat sedih tetangga yang tidak mampu memberikan yang sama kepada anaknya. Hal ini kontras sekali dengan tren masyarakat saat ini yang serba exhibit dan oversharing. Di saat yang bersamaan kita dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan. Juga dengan berpakaian indah dan memiliki kendaraan yang baik tidak berarti kita termasuk orang yang sombong. Sering kali hal-hal semacam ini, terutama yang berkaitan erat dengan perasaan dan psikologis masyarakat itu begitu halus dan tidak melulu dapat kita kendalikan. Maka perlu bagi setiap muslim yang menjadi Creativepreneur untuk senantiasa meluruskan niat, berhati-hati, serta senantiasa memohon ampun dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahua’lam bishowab.

——-
Kesimpulan: Kesadaran ‘aesthethic’ adalah hal positif yang harus didukung karena bisa menjadi motivasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih rapi, lebih bersih, lebih indah, dan lebih rapi; namun di saat yang sama memiliki batas-batas yang harus diwaspadai.

Posted on Leave a comment

2021: Beyond Expectation

Bismillah,
Selamat pagi Sobat Makers!

Diyfab bersyukur sekali atas pencapaian tahun 2020 lalu, walaupun penuh dengan turbulensi di tengah terjangan Pandemi. Semua itu tidak dapat tercapai tanpa karunia Allah swt, kemudian juga dengan dukungan dari Sobat Makers sekalian, karenanya kami sangat berterima kasih. Kami berharap sobat makers sekalian berhasil mencapai target-target 2020 yang telah lalu, serta siap menembus target baru di tahun 2021. Tentu kita semua prihatin dengan terjangan pandemi yang mempengaruhi kehidupan kita semua. Namun, kita harus tetap kreatif, tetap positif, dan terus mencari solusi untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.

DIY atau Do It Yourself, adalah salah satu skill penting yang bisa meningkatkan adaptability sobat makers di berbagai situasi. Betapa kita semua anak-anak muda, moms n pops muda, telah meninggalkan skill-skill penting yang dulu merupakan skill mendasar yang harus dimiliki oleh para orang tua kita. Berapa banyak di antara kita yang familiar dengan penggunaan alat pertukangan, tali-temali, pertolongan pertama, food perservation, dissaster relief, dan terutama skill untuk merawat dan memperbaiki aneka produk yang kita punya mulai dari pakaian, perkakas, furniture, hingga peralatan elektronik? Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan ini, skill DIY juga bisa membantu sobat makers semua dalam melakukan efisiensi baik waktu dan/atau finansial, tergantung yang mana dalam prioritas kita yang perlu dihemat. Bahkan, bila kita serius mempelajari sebuah skill, kita bisa mempergunakan skill itu untuk menyelesaikan masalah. Anything is possible.
Continue reading 2021: Beyond Expectation