Posted on Leave a comment

Mengenal Arduino – Sirkuit Microcontroller untuk DIY

Halo Sobat Makers! Sambil mencoba bikin-bikin sesuatu, mungkin kita sering mendengar kata Arduino, Arduino, Arduino. Kita mendengarnya mulai dari saat belajar potensio, membuat instalasi lighting, membuat layar magnetic motion graphic, sampai membuat robot mini. Di level universitas bahkan ada bahasan khusus soal Arduino. Apa sih yang dimaksud dengan Arduino?

Arduino adalah merek dagang dari perusahaan bernama Arduino AG yang kini beroperasi di bawah perusahaan BMCI.

Kata Arduino bisa merujuk pada banyak produk, namun yang paling umum adalah sirkuit elektronik yang menggunakan microcontroller atau microchip. Microcontroller (misalnya ATMEGA AVR) adalah komputer mini yang bisa mengoperasikan banyak hal, seperti membuka tutup pintu otomatis, mengatur LED movie dan video mapping, hingga menjalankan 3d printer dan 3d cutter. Betul, motherboard atau mainboard mini untuk menyambung semua komponen pada 3d printer adalah sejenis sirkuit yang menyerupai Arduino.

Arduino UNO adalah jenis sikuit yang paling sederhana. Namun sekalipun ia sederhana, Arduino Uno sudah dikembangkan ke dalam banyak produk oleh makers di seluruh dunia. Contohnya menggerakan stepper motor, membuat tembakan laser, pertunjukan dan diorama LED, membuat sensor dan perekaman, hingga menggerakan pasir besi dan magnet. Memang Arduino Uno tidak bisa digunakan untuk mengoperasikan motor yang besar, namun bisa men-generate energi untuk dynamo kecil dan LED.

Salah satu keuntungan menggunakan Arduino adalah desain hardware yang open source, sehingga kita bisa mengerti betul cara hardware itu bekerja dan bila diperlukan kita bisa melakukan modifikasi sendiri. Dengan sifatnya yang open source, artinya produk serupa Arduino pun bisa bertebaran di pasaran tanpa harus bersiteru perihal hak kekayaan intelektual. Tentunya dengan merek yang berbeda dengan Arduino ya.

Selain itu, yang membuat Arduino sangat digemari adalah beberapa hambatan programming yang dieliminasi oleh Arduino. Proses upload program ke dalam microcontroller bisa dilakukan melalui sambungan USB. Softwarenya dasarnya bisa di-download dengan nama Arduino.cc. Dalam software ini Arduino menyediakan contoh sketches (dasar-dasar pemrograman sederhana) untuk memudahkan pengguna memahami struktur dan lebih familiar dengan bahasa yang digunakan.

Selamat mengeksplorasi!

__________________________

Wallahua’lam

__________________________

Posted on Leave a comment

Cara Membuat Clay dari Tepung (DIY)

Clay sederhana yang tersedia di alam adalah campuran tanah dan air, yang biasa disebut lempung atau tanah liat. Tanah lempung bisa dibentuk menjadi batu bata, tembikar, genteng, mud brick (adobe), penutup lantai, dan plaster penutup dinding. Definisi geologis ‘clay’ atau lempung adalah mineral yang mengandung banyak partikel silikat dan aluminium, berpartikel kecil, serta memiliki daya tarik menarik tinggi antar partikelnya.
Continue reading Cara Membuat Clay dari Tepung (DIY)

Posted on Leave a comment

Cara Membuat Yogurt Creamy (DIY)

Membuat yogurt sangatlah mudah, bisa dilakukan di rumah. Sudah banyak penelitian yang menunjukkan aneka manfaat yogurt, misalnya sebagai sumber vitamin B2, B5, B12, kalsium, iodine, dan aneka jenis asam amino bermanfaat. Menurut penelitian, susu yang difermentasi lebih mudah dicerna dibandingkan susu segar.
Continue reading Cara Membuat Yogurt Creamy (DIY)

Posted on Leave a comment

DIY Recycle Bin dari Kayu Palet dan Wiremesh

Memilah dan mengelola sampah rumah tangga sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada sebagian orang. Namun, banyak juga yang masih enggan melakukannya dan tidak sedikit yang berpendapat bahwa memilah sampah itu kegiatan yang percuma.
Continue reading DIY Recycle Bin dari Kayu Palet dan Wiremesh

Posted on 1 Comment

DIY Clothcrete Planter dari Limbah Kain Bekas

Limbah kain adalah salah satu jenis limbah yang lama terurai oleh alam. Sekalipun ada usaha daur ulang dan reuse, kecepatan produksi tekstil seluruh dunia tetap tidak seimbang dengan kecepatan daur ulang dan penguraian limbah kain yang tak terpakai lagi. Banyak negara, baik produsen garmen seperti negeri kita, maupun negara tujuan akhir siklus baju bekas seperti negeri kita dan banyak negeri lainnya, pada akhirnya harus mengelola limbah tekstil dalam jumlah sangat banyak. Bila kuantitas limbah melebihi kapasitas pengelolaan suatu daerah, maka akan ada banyak limbah yang tidak terkelola. Limbah yang tidak terkelola ada yang menggunung sebagai land fill atau urugan terbengkalai, ada yang dibakar, ada yang mencemari saluran air bahkan menjadi tentakel raksasa di laut lepas yang membahayakan perahu bermotor dan hewan-hewan laut. Kita sendiri pun mungkin sering bingung mau dikemanakan ya baju-baju bekas yang tak layak didonasikan. Sayangnya biaya untuk mengubah baju bekas menjadi benang baru dan kain baru tidaklah murah.

Oleh karena itu, mari membuat Clothcrete Planter! Kita akan memanfaatkan handuk bekas dan sisa-sisa semen dan pasir pasca renovasi rumah. Memang membuat Clothplanter hanyalah respon kecil atas permasalahan limbah tekstil yang begitu besar. Solusi untuk limbah tekstil harus diawali dengan kebijakan para pemegang kepentingan di industri fashion baik itu pemerintah maupun pengusaha, juga diimbangi oleh kesadaran kita sebagai konsumen untuk lebih menyadari apa yang kita beli, kita kenakan, dan kita buang. Akan tetapi, karena ini adalah proyek DIY, tidak ada salahnya mulai dari hal kecil.
Continue reading DIY Clothcrete Planter dari Limbah Kain Bekas

Posted on Leave a comment

Perekat, Selotip, Insulasi, dan Lakban untuk Berbagai Proyek DIY

Sebelum masuk ke pembahasan jenis-jenis pita perekat, pernahkah ada yang penasaran dengan penyebutan sebenarnya? Apakah solasi, solasiban, atau solatip? Dalam Bahasa Inggris kata dasarnya adalah ‘tape’ yang definisinya adalah ‘a narrow strip of material, typically used to hold or fasten something’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyebutan yang benar itu ternyata ‘selotip’ dengan huruf ‘e’, walaupun definisinya sedikit absurd, yaitu ‘perekat terbuat dari plastik, baik bermata satu maupun bermata dua’. Mungkin maksudnya seperti mata pisau apakah tajam di satu sisi atau di dua sisi, selotip juga bisa merekatkan benda di satu sisi atau kedua sisi. Wallahua’lam.

Banyak proyek yang membutuhkan perekat instan bernama selotip, baik selotip yang bermata satu maupun bermata dua. Selotip pun ada banyak jenisnya dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Tidak semua jenis selotip bisa digunakan untuk suatu proyek yang membutuhkan sifat tertentu. Juga, harga selotip jenis tertentu ternyata sangat mahal sehingga sayang bila digunakan tidak sesuai fungsinya. Maka dari itu, kita perlu mengenali jenis dan sifat-sifat selotip agar bisa mencari bahan yang sesuai untuk kebutuhan proyek DIY yang sedang kita kerjakan.
Continue reading Perekat, Selotip, Insulasi, dan Lakban untuk Berbagai Proyek DIY

Posted on Leave a comment

2021: Beyond Expectation

Bismillah,
Selamat pagi Sobat Makers!

Diyfab bersyukur sekali atas pencapaian tahun 2020 lalu, walaupun penuh dengan turbulensi di tengah terjangan Pandemi. Semua itu tidak dapat tercapai tanpa karunia Allah swt, kemudian juga dengan dukungan dari Sobat Makers sekalian, karenanya kami sangat berterima kasih. Kami berharap sobat makers sekalian berhasil mencapai target-target 2020 yang telah lalu, serta siap menembus target baru di tahun 2021. Tentu kita semua prihatin dengan terjangan pandemi yang mempengaruhi kehidupan kita semua. Namun, kita harus tetap kreatif, tetap positif, dan terus mencari solusi untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.

DIY atau Do It Yourself, adalah salah satu skill penting yang bisa meningkatkan adaptability sobat makers di berbagai situasi. Betapa kita semua anak-anak muda, moms n pops muda, telah meninggalkan skill-skill penting yang dulu merupakan skill mendasar yang harus dimiliki oleh para orang tua kita. Berapa banyak di antara kita yang familiar dengan penggunaan alat pertukangan, tali-temali, pertolongan pertama, food perservation, dissaster relief, dan terutama skill untuk merawat dan memperbaiki aneka produk yang kita punya mulai dari pakaian, perkakas, furniture, hingga peralatan elektronik? Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan ini, skill DIY juga bisa membantu sobat makers semua dalam melakukan efisiensi baik waktu dan/atau finansial, tergantung yang mana dalam prioritas kita yang perlu dihemat. Bahkan, bila kita serius mempelajari sebuah skill, kita bisa mempergunakan skill itu untuk menyelesaikan masalah. Anything is possible.
Continue reading 2021: Beyond Expectation

Posted on

G008 – Interpolated, Kinky Curves, Polyline, dan PolyArc

Sebelumnya kita sudah membahas apa itu NURBS.  Bagi yang penasaran untuk apa kita repot-repot belajar NURBS, bisa mampir dulu ke artikel wikipedia terkait sejarah dan perkembangan NURBS. Sementara itu, mari kita masuk ke jenis-jenis curve lainnya dalam Grasshopper.

Interpolated Curves

Ketika membuat Interpolated Curves, semua titik parameter dilalui / dihubungan oleh kurva. Komponen interpolated curves pada Grasshopper yang baru memiliki empat input: V (Vertices), D (Degrees), P (periodic), dan K (knot styles). Input V (vertices) adalah kumpulan titik referensi yang kita ambil dari Rhino. Sama seperti ketika kita akan membuat NURBS Curves. D (degree) juga sama, namun perlu diperhatikan bahwa pada interpolated curves, nilai degrees harus selalu ganjil. Input K, yang tidak ada pada komponen NURBS merujuk pada jarak spacing pada knot. Input K ini diisi dengan interger 0 (uniform spacing), 1 (chord), atau 2 (sqrtchord). Mari kita coba ketiga input tersebut pada komponen <IntCrv> kita dan lihat bagaimana hasilnya. Demikian adalah superimpose dari 3 buah interpolated-curve dengan knot style berbeda-beda.
Continue reading G008 – Interpolated, Kinky Curves, Polyline, dan PolyArc

Posted on

G006 – Penggunaan ‘Attractor Point’ pada desain dua dimensi (Grasshopper)

Kali ini kita akan mencoba mengaplikasikan Attractor Point pada permukaan bidang 2 dimensi. Metode ini sangat mudah diaplikasikan di berbagai rancangan; mulai dari desain kain, kemasan, furniture, hingga fasade bangunan.

Hasil akhir dari exercise kita kali ini adalah bentuk seperti berikut:
Continue reading G006 – Penggunaan ‘Attractor Point’ pada desain dua dimensi (Grasshopper)

Posted on

Alat Makan Tembikar. Aman?

Untuk yang suka berkreasi, bereksplorasi dengan material baru pasti sangat menyenangkan sekaligus menantang. Apalagi kalau hasil karya dari eksplorasi tersebut dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, jika ada ide untuk membuat peralatan makan dari material tertentu, selain mencari tahu tentang teknik eksplorasi materialnya, yuk kita juga cari tahu mengenai apakah material tersebut benar-benar aman untuk digunakan dengan makanan.
Continue reading Alat Makan Tembikar. Aman?